Satu Varian Martabak Bisa Terjual 100 Loyang per Hari

0
2378
Martabakku menteng (dok piogra.com)

 

Mendengar nama Martabak Manis memang sudah tidak aneh, sebab jajanan yang biasa dijual di pinggiran jalan ini sudah tidak asing buat sebagian besar masyarkat Indonesia. Martabak Manis bahkan tidak pernah berhenti diburu oleh penikmat setianya. Mulai dari orang tua, remaja hingga anak-anak juga tidak bisa lepas dari lezatnya jajanan empuk yang terbuat dari tepung terigu dan telur yang dikombinasikan dengan berbagai macam topping itu.

Cemilan yang sudah menjadi legenda ini memang biasanya hanya ber-topping kacang, cokelat atau keju saja. Namun seiring berkembangnya ide-ide kreatif, kudapan ini pun sudah banyak berinovasi. Mulai dari warna, bentuk, dan topping yang lebih variatif. Salah satunya Martabakku Menteng. Martabak Manis yang style-nya lebih ke Martabak Bandung ini memberikan inovasi baru pada cemilan favorit masyarakat Indonesia itu.

Ide Bisnis

Berawal dari hobi berkuliner masakan Indonesia, Hesti Kumala selaku pemilik Martabakku Menteng, kemudian berpikir bagaimana caranya hobinya itu dijadikan bisnis. Tercetuslah ide untuk membuka gerai Martabak Bandung dengan nama Martabakku Menteng, yang resmi dibuka pada 26 Februari 2015 di Jl. HOS Cokroaminoto No.1 Menteng, Jakarta, di bawah bendera Menteng Wok Street Food.

Pemilihan Martabak Bandung  sebagai bisnis kuliner tidak hanya datang selintas oleh Hesti, tetapi diakui alasan berbisnis kuliner Martabak Bandung karena menurutnya dewasa ini Martabak Manis memang sedang ramai. Bisnis Martabak Manis bahkan sudah jadi trend center dikalangan pembisnis kuliner.

Agar terlihat lebih menonjol dibanding competitor, Hesti memberikan sentuhan berbeda pada kreasi Martabak  Bandung yang ia tawarkan, terutama dari segi varian warna dan topping. “pertama kali buka gerai, ternyata respon dari customer sangat bagus. Mugkin karena keunikan dari varian rasa yang kami tawarkan,” ujarnya.

Direct Marketing

Untuk memperkenalkan Martabakku Menteng, Hesti menjalankan promosi dengan berbagai cara, salah satunya direct marketing, yakni menawarkan varian menu racikan Martabakku Menteng ke instansi-instansi pemerintah atau swasta yang ada di Jakarta, seperti Sinarmas Land, Bank Indonesia dan Jasindo-Pancoran.

Dikatakan Hesti, selain permintaan regular, para instansi tersebut juga kerap meminta Martabakku Menteng dalam bentuk pelayanan catering untuk acara khusus  seperti buka puasa bersama atau halal bihalal.

Menurut Hesti, efek besar dari promosi dengan direct marketing, Martabakku Menteng pernah ditawari pihak dinas pariwisata untuk mengikuti bazaar di Malaysia  dalam acara Festival Baloon Internasional. “Karena sumber daya manusianya kurang, kami terpaksa menolak tawaran tersebut. Karena untuk membuat Martabak Bandung tidak seperti membuat makanan lain yang bisa dikerjakan oleh satu orang, dan alat-alatnya juga tidak sedikit,” tuturnya.

Bukan hanya itu, tambah Hesti, dari India pernah meminta Martabakku Menteng membuka franchise, namun hal tersebut ditolaknya juga dengan alasan masih ingin fokus di Jakarta.

Dan untuk lebih mengembangkan usahanya, Hesti juga bekerja sama dengan aplikasi beberapa online, salah satunya go-food. Selain itu, Hesti juga kerap mengundang para blogger setiap meluncurkan varian baru, dengan tujuan memperkenalkan Martabakku Menteng via internet.

Dijelaskan Hesti, efek dari para blogger cukup signifikan untuk memperkenalkan Martabakku Menteng secara lebih luas. Apalagi, media sosial yang terus berkembang menjadi bahan untuk para blogger memperluas tulisannya. Selain blogger, untuk menarik pelanggan via media sosial, Martabakku Menteng juga memiliki media sosial di instagram dengan akun @martabakkumenteng.

Gerai Mirip Café

Tak seperti gerai Martabak Bandung kelas gerobak yang hanya menyediakan tempat duduk seadanya untuk para konsumen, gerai Martabakku Menteng ditata layaknya sebuah café. Bahkan ruang smooking area terpisah dari no smooking area agar konsumen lebih nyaman. Keduanya memiliki kapasitas lebih dari 20 seat. “Kalau Martabak pinggir jalan hanya bisa melayani pesanan take away, di sini konsumen bisa makan di tempat yang nyaman,” tambahnya.

Setelah berjalan satu tahun, kini Martabakku Menteng telah memiliki dua cabang, yaitu di Jl. Ahmad Dahlan No.22B Gandaria, Kebayoran Baru, dan di Jl Raya Cipete No3, Jakarta Selatan.

Semakin banyak pelanggan dan peminat, membuat Martabakku Menteng menambah jam operasional. Untuk weekday, mulai pukul 11 siang hingga 12 malam. Sedangkan kala weekend bisa sampai pukul 2 dini hari.

Varian Martabak

Mengusung inovasi Martabak Bandung sejak awal buka ternyata memang membuahkan hasil yang baik dalam mengembangkan usaha Martabakku Menteng ini. Dengan konsep tersebut, Hesty sudah mengeluarkan banyak varian Martabak. Diantaranya Martabak Red Velvet Series, dengan isian Original yang dilengkapi cream cheese dan Oreo.

Martabak Red Velvet juga bisa dipesan dengan topping atau isian yang bisa disesuaikan dengan selera konsumen. Mulai dari isian utama berupa selai kacang Skippy,  selai cokelat Nutella, Toblerone, Ovomaltine dan Cadbury. Masing-masing isian utama tersebut bisa ditambahkan topping pelengkap seperti keju parut, cokelat meises dan kacang tanah cincang.

Varian lainnya itu ada Martabak Black Series (Martabak berwarna hitam) dengan isi toping yang sama seperti red velvet series. Varian menu lainnya ada Pandan Ciyus yakni Martabak warna hijau dengan aroma harum pandan, Koffee Series yakni martabak dengan aroma dan rasa kopi, Yummyyam Series yang terbuat dari ubi merah sehingga adonnya berwarna orange, dan Danemic Duo yang menyatukan Martabak Original Vanilla dengan Martabak Pandan. Semua bisa dipesan dengan berbagai topping sesuai selera customer.

“Kita membuat Martabak yang varian warnanya cukup banyak, supaya orang tertarik, topping-nya macam-macam, tergantung selera pelanggan,” terangnya.

Bahkan mulai bulan Maret lalu, Martabakku Menteng mengeluarkan varian baru yang bekerja sama dengan Ron’s Laboratory untuk menambah market lebih luas, produk barunya itu bernama Dragon’s Breath yakni Martabak dengan topping es krim yang dibuat dengan teknik gastronomy.

Varian baru tersebut sekaligus sebagai pembuktian bahwa Martabakku Menteng tidak mensegmentasikan bisnisnya pada usia tertentu. Tapi semua usia bisa menikmati olahan Martabak Bandung ala Martabakku Menteng. “Saya pribadi tidak mengkotak-kotakan pelanggan, kita mau produk masuk kesemua segmen, tidak membatasi umur. Anak kecil juga suka Martabak,” paparnya.

Jadi, lanjut Hesti, jika ada yang tidak suka manis, Martabakku Menteng menyediakan Martabak Telur. Sehinga baik dari segi umur ataupun rasa juga tidak ada batasan atau segmentasinya. Bahkan untuk selera konsumen yang menyukai camilan crispy, Martabakku Menteng menyediakan Martis Toples, yakni Martabak Manis Tipis Kering yang disajikan di dalam toples, yang cocok untuk camilan saat santai di rumah.

Tiap varian Martabak yang ditawarkan Martabakku Menteng dipatok dengan kisaran harga Rp 60 ribu hingga Rp 180 ribu per loyang.

Omset Menggiurkan

Menurut penuturan Hesti, dalam satu hari gerai Martabakku Menteng yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini, bisa menjual lebih dari 100 loyang Martabak aneka rasa. Dengan perkiraan harga rata-rata sekitar Rp 120 ribu per loyang. Jadi, dalam hitungan per hari Martabakku Menteng ditaksir bisa meraup omset sekitar Rp 12 juta. Jika dihitung dalam pendapatan per bulan setidaknya ada sekitar 3.000 loyang Martabak yang terjual, dengan omset mencapai Rp 360 juta.

Dalam bisnis kuliner, biasanya pelaku usaha mengambil keuntungan bersih sekitar 30-40%. Sehingga bisa diasumsikan keuntungan bersih yang dikantongi Hesti tiap bulannya bisa mencapai Rp 108 juta.

“Dalam seharinya, customer yang datang bisa lebih dari 100 orang. Pasalnya, satu meja saja bisa berisi empat orang dengan rata-rata membeli dua loyang Martabak yaitu, manis dan asin. Jadi bisa terlihatlah untuk omsetnya berapa untuk per bulannya,” ujar Hesti malu-malu.

Dalam menjalankan usahanya ini, Hesti dibantu oleh 40 orang karyawan yang bertugas di bagian pengolahan, kasir dan pramusaji dengan rata-rata gaji sebesar upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta, yaitu sekitar Rp 2,7 juta per bulan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.