Sop Durian Kepo : ’kalau nggak enak, 100 persen uang kembali’

0
102

Pintar melihat peluang. Itulah Ahmad Ismatullah Basyari. Pria asal Serang ini berani membangun usaha Sop Duren Kepo dengan modal pinjaman. Kini usaha yang dirintisnya telah berkembang pesat. Bagaimana kisahnya membangun usaha ini?

Gerai Sop Duren Kepo yang terletak di kawasan Kampung Utan, Tangerang Selatan, tampak selalu ramai dikerumi para konsumen yang datang membeli Sop Duren. Meski sibuk melayani para pelanggan, Ahmad Ismatullah Basyari selaku Pemilik Sop Duren Kepo tetap ramah menyapakami.

Awal Usaha. Ismet, panggilan akrabnya menceritakan awal mula memutuskan mendirikan usaha ini pada September 2013. Saat itu, Ismet lagi ingin sekali menyantap durian. Namun, saat mencari ke Pamulang, Bintaro hingga Kalibata, ia tidak mendapatkannya.  “Saya berpikir perasaan peminat durian banyak, tapi kalau ga musim durian susah nyari. Tapi emang dasar otak dagang, saya mikir ini peluang nih,” tukas pria kelahiran Serang, 26 Juni 1990.

“Saya mikir kalau jual durian, saya ga sanggup nih. Saya ingat pernah baca bahwa turunan suatu produk nilai ekonomis lebih tinggi dibanding produk aslinya. Lalu apa turunannya, ada Es Duren dan Sop Durian,” kata pria yang merampungkan studi S1 jurusan Tafsir Al-Quran di Universitas Al-Ahzar, Mesir

Dari produk turunan durian, Ismet memutuskan untuk menjual Sop Duren. Namun, sebelum menjualnya, ia melakukan uji resep.  “Saya coba oprek-oprek sendiri. Duren dicampur buah naga, alpukat, tapi rasa duren kalah. Juga coba dengan gula merah dan ketan. Ini juga ga cocok, gula merah, ketan hitam. Akhirnya ketemu yang pas, Sop Duren Original,” ucap pria yang hobi masak ini

Lanjut Ismet, saat memulai usaha, modal awal yang dikeluarkan sebesar Rp 33 juta. Yang digunakan untuk sewa tempat Rp 13,5/tahun, peralatan dan bahan baku. “Modal awal itu saya minjem ke teman,” kata pria yang sedang melanjutkan studi S2 jurusan Tafsir Al-Quran di UIN Syarif Hidayatullah. Butuh waktu 1 tahun untuk bisa balik modal.

Agar catchy ditelinga publik,Ismet memutuskan mem-branding usahanya dengan nama Sop Duren Kepo. Dengan tagline,’kalau nggak enak, 100 persen uang kembali’. “Waktu awal buka, orang ngeduga kedai pojok (kepo). Tapi sebenarnya muncul nama kepo, karena kita kepo juga mau ngasih nama ini apa. Terus saya nyeletuk, ‘kepo gue’.  Jadinya namanya itu. Orang kepo, mereka datang ke sini sesuai dengan lidah mereka, mereka lalu updates status,” cerita Ismet tentang sejarah awal nama Sop Duren Kepo.

Saat memulai usaha, pada hari pertama, hanya laku 10 porsi. Hingga usaha berjalan 5 bulan, paling banyak laku sehari 49 porsi. “Padahal waktu awal usaha, bikin target sehari harus laku 50 porsi. Tapi paling banyak laku 49 porsi, lalu turun ke 35, gitu aja. Kita flashback niat awal usaha. Niatnya menolong orang di sekitar kita. Awal kita ketok palu, rencananya 10% dari profit untuk dana sosial. Kita ngasih ke panti asuhan, tahun kedua naik 20%. Pas akhir bulan ke 5, tanggal 30 ada seorang bapak datang ke sini, minta dipekerjakan. Ia berusia 41 tahun dengan 3 anak. Persoalannya saat itu setiap bulan paling hanya Rp 100 –Rp 150 ribu. Secara hitung-hitungan kita ga bisa gaji orang.  Untuk kuliah dan bayar kostan aja masih minta orangtua, nah bagaimana mau gaji orang. Akhirnya saya bilang bapaknya besok saya kabarin. Saya kok berpikir yang Maha Kuasa ajak becanda ini, apakah ini ujian atau batu loncatan ya. Akhirnya saya coba terima bapak ini. Saya bilang saya ga bisa bayar gede, hanya bayar Rp 750 per bulan plus uang makan Rp 15 ribu. Padahal saya mikir juga gimana caranya ya bayar gaji Bapak ini. Hari pertama dia kerja, masih sepi. Terus saya bilang, usahanya msih sepi. Lalu kata bapaknya lumrah usaha baru, saya bantu doa ya. Eh hari kedua, surprise penjualan hingga 250 porsi. Saya bengong, dia bengong. Ini mungkin jawaban di Al-Quran bilang kalau kita sedekah, maka ada timbal baliknya. Dengan kita ambil keputusan seperti itu, kita pikir ga bisa bayar orang, eh dikasih rejeki,” cerita Ismet yang saat kuliah di Mesir dulu pernah jualan cabe ini. Sejak saat itu, usahanya terus meningkat. Kini dalam sehari bisa laku 400 porsi. Bahkan saat akhir pekan, penjualan meningkat antara 600-800 porsi.

Menu. Sop Kepo Duren menawarkan ragam menu menggoyang lidah. Sebut Sop Duren Original, Dungo (Durian+Tango), Duet (Durian + Chocolate), Cuco (Durian+Nata de Cuco), Kopling (Kopyor + Kolang Kaling), Cinyor (Cincau +Kopyor), Stroger (Stroberi + Ager), Dorr (Durian+Oreo), Lola (Stroberi + Rumput Laut), Rotan (Roti +Ketan), Toyor (Stroberi+Kopyor), Tablo (Stroberi+Brownies), dan Es Krim Duren. Ragam minuman ini dijual antara Rp 14 ribu – Rp 16 ribu/porsi.

Selain ragam minuman, menu pendukung lainnya juga disediakan Sop Duren Kepo. Mulai dari TiKaRim (Roti Bakar Es Krim), Pancake Durian, Es Krim Duren,Tikar Duren (Roti Bakar + Duren), Tiren (Roti+Duren), Sosis Jumbo, Kentang Goreng, Otak otak Goreng, Bakso Kebakar, Rolade, Sosis Jumbo, Pempek Kapal Selam, Ayam Bakar, Chicken Egg Roll hingga Egypt Chicken Katsu. Harga menu ini antara Rp 8 ribu – Rp 20 ribu/porsi.

Dikatan Ismet, dari ragam menu di atas yang menjadi favorit adalah Sop Duren Original. “Orang pengen original karena rasa duriannya masih kuat, tanpa tambahan rasa lain. Selain itu mungkin orang ambil keputusan beli ini karena original harga paling ekonomis,” kata Ismet tersenyum.

Teknik Marketing. Saat memulai usaha ini tahun 2013, teknik promosi sederhana yang dilakukan Ismet. Seperti membagi-bagi brosur di sekitar tempat usaha. “Juga rutin meng-update status di Facebook dan BlackBerry Massenger,” ucap Ismet.

Seiring berjalannya waktu, Ismet mempelajari cara branding dan cara berpromosi yang baik. “Kalau sekarang kita lebih promosi online seperti Facebook ads, YouTube, juga marketplace kayak Tokopedia, Bukalapak. Juga lewat Instagram dan Line Tapi yang kita fokus banget  di YouTube dan Facebook ads. Karena propektif juga efektif dan efisien,” imbuh Ismet.

Jika saat ini segmentasi pasar yang disasar Sop Duren Kepo masih di kelas B, Ismet merencanakan dengan pembukaan cabang baru kelak akan menyasar ke kelas premium. “Segmentasi pasar awalnya mahasiswa tapi kelas C, tapi di tahun kedua, kita ada perubahan, kita ubah jadi middle class, kelas B. Hal ini karena kita secara lokasi belum sesuai untuk high class. Kalau buka cabang baru rencananya kelas A, “ katanya.

Saat mulai membangun usaha, kendala yang dialami Ismet adalah pasokan durian dan harganya yang fluktuatif. Namun, seiring berjalannya waktu, kendala yang dihadapi lebih bersifat teknis. Misalnya pengembangan bisnis.

Ismet memiliki mimpi untuk usaha yang ditekuninya. “Saya sih pengen untuk usaha ini bisa menjadi wisata duren paling besar di Indonesia. Kita pengen jadi wadah aneka duren,” harapan Ismet.

Kiat Bisnis. Bagi Ismet, dalam membangun bisnis, ada hal-hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, niat. “Niatnya jangan sampe melenceng dari niat awal. Kita niat usaha untuk bantu orang. Hingga kini 20% dari omset kita berikan untuk panti asuhan,” ucapnya. Kedua, restu orangtua. Ketiga, jangan berhenti belajar.