Ummamii Food Factory Hadirkan Makanan Jepang yang Halal

0
380

Kecintaannya akan makanan Jepang menginspirasi Chori Pramoedya membuka usaha makanan Jepang di Foodcourt Depok Town Square, Depok, Jawa Barat.

Menghadirkan makanan Jepang yang sesuai dengan selera lidah masyarakat Indonesia menjadikan usaha makanan Jepang yang dimulai tahun 2014 ini mampu mencetak omset Rp 50-60 juta tiap bulannya. Namun masuki tahun ketiga, jumlah pengunjung mal turun drastis yang menyebabkan Chori memutuskan menutup gerai makanan jepangnya.

“Yang menjadi alasan yang paling mendasar saya membuka usaha makanan Jepang saya ingin memberikan solusi bagi penggemar masakan Jepang, namun ragu akan kehalalannya, maka saya hadirkan makanan jepang yang halal dan enak,” jelasnya.

Wanita kelahiran Jakarta 15 Jtuni 1987 ini mengatakan mendapatkan resep masakan Jepang dari seorang koki salah satu resto Jepang.

Setelah menutup gerainya di Foodcourt, Chori kembali membuka usaha makanan Jepang di pinggir jalan dengan konsep gerobakan. Terbatasnya pengetahuan masyarakat akan makanan Jepang, Ia hrs memangkas menu yang disajikan dari 30 menu menjadi hanya menjual mie ramen, takoyaki, dan dimsum.

“Karena hanya membuka 1 gerobakan, teman-teman dari lokasi yang jauh banyak yang minta dikirimkan. Saya membuka gerobakan ini, dari hamil muda hingga anak 12 bulan, lalu tutup karena tidak bisa membagi waktu mengurus tiga anak tanpa asisten,” paparnya.

Pasca melalui membuka usaha di foodcourt hingga gerobakan, kini Chori memilih memproduksi dan memasarkan makanan Jepang beku (Frozen Food) dari dapur produksi Ummamii Food Factory di Pekapuran, Depok, Jawa Barat.

Berbagai macam produk yang dijual takoyaki frozen dan dimsum frozen, dengan berbagai trial and error di kemasan dan pengiriman. “Untuk takoyaki dijual dengan harga Rp.30 ribu dan dimsum Rp.37ribu masing-masing berisi 10 pcs dan lengkap dengan cara re-cook dan bumbu cocolannya,” jelasnya

Selain itu Chori juga memproduksi mie ramen instan, gyoza, dan akan segera launching aneka menu bento yakoni yakiniku, teriyaki, egg chicken roll dan tori no teba.

“Masing-masing menu ada penggemarnya. Selain untuk dijual ke end user, produk Ummamii Food Factory ini juga membuka kemitraan berupa penjualan reseller yang tentunya dapat menjadi alternatif pendapatan bagi ibu-ibu,” jelasnya.

Wanita jebolan kampus IISIP Jakarta ini mengatakan keisitimewaan produk Ummamii Food Faactory tanpa MSG, tanpa pengawet, dan semua bumbu diracik sendiri. Selain itu, dalam setiap kemasan sudah lengkap dengan bahan tambahan seperti saus/mayonaise/atau topping, sehingga serasa makan di resto jepang asli walau makan nya di rumah.

Luasnya target pasar produk makanan Jepang beku ini membuatnya diterima semua kalangan dari anak-anak hingga orangtua. “Strategi marketing saya gunakan instagram, dibantu dengan endors. Untuk pembelian, agar mudah kita memiliki agen dan reseller di kota2 besar, sehingga pembelian ecer bisa hemat ongkir, papar pemilik akun IG dan FB: ummamii.food.factory.

Kepada Berempat.com Chori mengatakan tren dan prospek dari usaha ini 5 tahun ke depan akan makin diminati seiring dengan keinginan masyarakat untuk hidup praktis, dan menghemat biaya.

Bisnis, bukan hanya soal menciptakan produk, tapi harus tau produk itu diciptakan untuk siapa. Maka bisnis adalah “masalah” bagi orang yang memutuskan ada di lingkup ini, memaksa untuk mau terus belajar dan bergerak. Belajar tentang produk, dan ilmu bisnis itu sendiri,” pesannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.