Sabun Berbentuk Kue Semakin Diminati

0
296
abun bentuk kue (dok omahkreatif.com)

 

Ide usaha bisa datang dari mana saja dan tanpa diduga-duga, seperti yang dialami Irene Valianty Hartono yang mendapatkan ide berbisnis setelah mendengar cerita sang suami ketika berlibur ke Bangkok, Thailand serta menemukan sebuah toko sabun yang menjual sabun dalam berbagai bentuk aksesori dan kue. Dari cerita tersebut, wanita yang akrab disapa Irene ini terinspirasi untuk membuat produk serupa di tanah air, dan berdasarkan survei pribadinya, produk sabun berbentuk kreatif ini masih jarang pelakunya.

Meskipun melihat peluang usaha ini sangat besar, Irene tidak mau terburu-buru membangun usaha. Karena ingin fokus mendalaminya, ia pun mencari tahu terlebih dahulu tentang seluk beluk usaha sabun. Pencarian tersebut ia mulai dari bahan yang akan digunakan, proses pembuatan hingga modal yang akan dikeluarkan.

Untuk bahan Irene lebih memilih menggunakan bahan-bahan alami seperti olive oil, coconout oil, palm oil dan lain-lain, alasannya karena pangsa pasar terhadap barang yang berbahan alami saat ini sangat menjanjikan dan banyak dilirik orang. Hal tersebut tidak lepas dari kesadaran ramah lingkungan sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang.

Sedangkan keahlian cara membuat Irene belajar pada saudaranya yang memiliki usaha sabun cair kurang lebih selama lima bulan. Dan akhirnya pada November 2012 ia memulai usaha membuat sabun kreatif dengan modal sebesar Rp 5 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli bahan-bahan baku sabun dan peralatan. “Kecilnya modal tersebut lantaran proses pengerjaan dilakukan secara handmade dan dilakukan di rumah,” ungkap Irene.

Sabun Bentuk Kue

Keunikan sabun yang dibuat Irene terletak pada desain yang mirip dengan beberapa jenis kudapan, seperti cupcake, layer cake, dan cokelat berbentuk hati. Sabun bentuk cupcake terlihat tak ada bedanya dengan cupcake asli yang bisa dimakan, yakni berbentuk kue bolu yang ditempatkan di wadah cup kertas dan diberi topping hiasan warna-warni. Sedangkan sabun bentuk layercake desainnya seperti kue bolu yang dipotong persegi panjang dengan perpaduan tiga warna. Dan sabun berbentuk hati, terlihat layaknya cokelat bentuk hati dengan perpaduan dua warna ataupun satu warna saja.

Dari segi harga, sabun aneka bentuk buatan Irene ini tergolong relatif murah, terlebih bila dilihat dari segi penggunaan bahan alami serta tahapan dalam membuat. Sabun bentuk cupcake ukuran besar Irene menjualnya dengan harga Rp 39 ribu per satuan, dan ukuran kecil seharga Rp 21.900 ribu per satuan. Sedangkan sabun bentuk layer cake Rp 33.900, dan cokelat bentuk hati Rp 21.900 per satuan.

Dari empat jenis sabun yang ditawarkan tersebut, menurut Irene, sejak awal usaha, bentuk sabun yang paling banyak diminati konsumen adalah cupcake soap. Alasannya terletak pada bentuk yang unik menyerupai bentuk cupcake asli membuat sabun ini banyak diburu untuk dijadikan sebagai pajangan atau souvenir/gift. Sedangkan jika dilihat dari segi fungsinya, sabun yang paling banyak diminati adalah sabun berbentuk layer cake, lantaran sabun ini berbentuk persegi panjang seperti bentuk sabun pada umumnya.

Gunakan Bahan Alami

Meski terlihat hanya sebagai pajangan, namun sabun kreatif yang ditawarkan Irene ini bisa digunakan layaknya sabun biasa. Hal ini dikarenakan dalam pembuatan sabun kreatif ini menggunakan bahan baku alami yang sangat aman bagi kulit. Bahan-bahan alami tersebut meliputi olive oil atau minyak zaitun yang kaya manfaat. “Zaitun mempunyai kandungan kadar Vitamin E yang sangat tinggi. Vitamin E berfungsi baik untuk merawat kulit kita,” tutur Irene.

Selain minyak zaitun bahan alami lain yang digunakan Irene di antaranya coconout oil (minyak kelapa alami), palm oil (minyak kelapa sawit), sodium hydroxid, castor oil, coco butter. Sebagai pewangi ia menggunakan fragrance oil dan pewarna menggunakan bahan alami dan bahan buatan seperti dari cocoa powder.

Pembuatan

Setiap bulan Irene menggelontorkan uang Rp 7 juta yang digunakan untuk membeli bahan baku, yakni 20 liter olive oil Rp 80 ribu/liter, 20 liter coconout oil Rp 30 ribu/liter, 20 liter palm oil Rp  13.500/liter, 5 kg sodium hydroxid Rp 13 ribu/kg, 5 kg cocoa butter Rp 150 ribu/kg, 20 liter castor oil Rp 50 ribu/liter, 4 pack isi 900 gram cocoa powder Rp 10 ribu/pack, 1 liter fragrance oil Rp 400 ribu/liter. Semua bahan baku tersebut ia beli di beberapa toko bahan kima yang ada di bilangan Jakarta Barat.

Sedangkan peralatan, Irene hanya menggunakan timbangan digital, stick blender, mixer, gelas ukur, cetakan, hingga alat pemotong/pisau pemotong. Dalam memproduksi aneka sabun kreatif, Irene melakukannya sendiri, karena ia merasa masih bisa membuat ratusan sabun setiap bulan tanpa dibantu orang lain.

Bagi Irene, membuat sabun kreatif yang sempurna tidak mudah. Untuk itu ia pun harus berusaha dan belajar selam lima bulan untuk mendapatkan kreasi sabun sesuai harapannya. “Selama belajar saya selalu menemui kendala serta sering melakukan trial and error. Namun setelah banyak belajar dan menakar perbandingan bahan baku, akhirnya saya menemukan resep pembuatan sabun yang baik,” jelasnya. Selain itu, proses pembuatan sabun ini memerlukan waktu yang cukup lama.

Misalnya untuk membuat 50 buah sabun bentuk cupcake dengan berat masing-masing 110 gram, Irene memerlukan 165 gram air, 180 ml olive oil, 160 gram coconout oil, 160 ml palm oil, 75 gram sodium hydroxid, 75 gram cocoa butter, 5 gram cocoa powder, 20 gram castor oil, 20 gram fragrance oil. Setelah semua adonan tercampur, adonan dibagi dua bagian untuk bagian pertama berwarna cokelat dan bagian kedua diberi bahan pewarna alami yang digunakan sebagai topping dari cupcake.

Adonan bewarna cokelat dimasukkan ke dalam cetakan cupcake berbentuk setengah lingkaran. Yang kemudian pada bagian atasnya diberi topping yang mirip es krim cone berbentuk spiral. Untuk mendapatkan bentuk seperti itu biasanya menggunakan alat semprot yang biasa diapakai pada pembuatan kue. Kemudian barulah didiamkan selama 24 jam atau satu hari penuh, hingga sabun mengeras.

Setelah itu sabun dikeluarkan dari cetakan. Proses ini memang sedikit susah dan diperlukan kesabaran, karena bila tidak akan membuat sabun pecah atau rusak. Tidak sampai di situ, sabun pun harus didiamkan pada suhu ruangan selama empat minggu untuk menguapkan kandungan air di dalamnya, hal ini dilkakukan agar tekstur sabun mengeras dengan sempurna.

Bila sudah sampai pada waktunya, sabun sudah bisa digunakan ataupun dijual dengan daya tahan selama 6 bulan dalam suhu ruangan atau tidak terkena sinar matahari langsung. Agar lebih menarik, biasanya sabun dikemas dalam wadah atau plastic mika dengan hiasan pita-pita.

Titip Jual ke Salon dan Klinik Kecantikan

Pada awal menjalankan usaha, Irene memperkenalkan sabun kreatif buatannya ke teman-teman dekat dan kerabatnya terlebih dahulu. Setelah dirasa responsnya cukup bagus, ia memutuskan untuk menyasar pasar yang lebih besar dan spesifik, yakni salon-salon dan klinik kecantikan dengan cara menitip jual. “Cara titip jual ini sangat efektif karena lewat salon dan klinik kecantikan inilah sabunnya banyak dikenal orang. Apalagi dengan modelnya yang unik dan menarik, sudah pasti membuat orang-orang membelinya,” terang Irene.

Selain itu Irene juga mempromosikan usahanya melalui internet, mulai dari website pribadi hingga jejaring sosial, hingga Blackberry Massanger. Dan, untuk menambah konsumen, Irene berniat memperluas jaringan dengan membuka sistem reseller. Saat ini memang dalam tahap pematangan sistem, dan persyaratan menjadi Reseller cukup mudah yaitu hanya dengan membeli produk minimal sebanyak 25 buah maka seseorang sudah bisa menjadi Reseller dan akan mendapatkan potongan harga.

Saat ini pemasaran sabun kreatif dengan brand House of Benedica milik Irene ini sudah mencakup wilayah Jabodetabek. Meski demikian peluang untuk menjadi Reseller masih terbuka lebar, mengingat usaha sabun ini memiliki prospek yang cerah. Setiap bulan Irene mampu menjual 750 pcs sabun dan menghasilkan omset hingga Rp 23 juta dengan laba bersih mencapai 70%.

Prospek dan Kendala

Menurut Irene usaha sabun kreatif prospeknya yang sangat cerah dan menjanjikan, bahkan ia memperkirakan usaha ini akan terus berkembang. Hal tersebut tidak lepas dari jarangnya pelaku usaha sementara permintaan terus meningkat, apalagi kebutuhan akan produk souvenir atau gift selalu ada, baik pesanan perorangan maupun perusahaan.

Dari segi persaingan, menurut Irene tidak menjadi masalah karena masing-masing pelaku usaha biasanya memiliki ciri khas tersendiri. Bahkan persaingan dianggap sebagai sesuatu yang bisa memacu daya kreativitas sehingga akan selalu menghadirkan sabun-sabun dengan desain atau bentuk yang unik dan berbeda dari yang lain.

Adapun kendala dalam menjalankan usaha ini adalah menemukan sumber daya yang terampil karena proses pembuatan sabun ini tidaklah mudah. Tidak hanya itu, masalah lain yang acap kali dihadapi Irene adalah minimnya pengetahuan konsumen terhadap sabun buatannya.

“Terkadang banyak orang yang tidak tahu apa manfaat dari sabun buatan saya, bahkan dikira hanya sebagai pajangan, padahal cukup aman bila digunakan selayaknya sabun biasa,” jelasnya. Hal tersebut membuat Irene membutuhkan waktu untuk mengedukasi para konsumen tentang produk sabun tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.