Bisnis Klinik Kecantikan Tidak Pernah Ada Matinya

0
1546
Klinik estetika (dok twitter)

Di Indonesia sendiri belakangan ini klinik kecantikan tumbuh bak jamur di musim hujan, dengan menawarkan berbagai perawatan. Maklum dalam kondisi apapun, termasuk kondisi krisis sekarang, perempuan tetap ingin tampil cantik, apalagi banyak media yang menyorot atau membuka rahasia kecantikan para artis, sehingga banyak orang yang ingin meniru kecantikan  para artis.

Hal lain yang membuat bisnis klinik kecantikan tumbuh subur juga, karena untuk membuka kecantikan Anda tidak perlu memiliki keahlian sebagai dokter kulit, karena sekarang banyak penawaran  franchise untuk klinik atau bila tidak membeli franchise Anda tinggal menyewa tenaga medis.

Tren Treatment.  Saat ini,  berbagai  treatment ditawarkan oleh klinik kecantikan, dari mulai treatment wajah (facial Vitamin C, mikrodermabrasi, chemical peeling), treatment vlek/pigmentasi dengan laser, treatment jerawat, treatment anti-aging, treatment pengangkatan sel-sel kulit mati (kutil, tahi lalat dengan electro-surgery), treatment badan (body scrub, hot-stone massage), hingga treatment pelangsingan.

Menurut dr.Retno Widowati Subario, SpKK, spesialis kulit dan kelamin yang juga praktek di MMC, Kuningan Jakarta Selatan, sekarang ini tiap orang tidak mau kelihatan tua sehingga perawatan anti aging atau anti penuaan dini merupakan  treatment yang saat ini paling diminati.

Untuk mengawali usaha klinik kecantikan menurut dr Siti Pariani, MS, MSc,PhD selaku Ketua Umum PKMI (Perhimpunan Klinik Medis Indonesia) yang membawahi klinik medis termasuk klinik kecantikan, sebaiknya pengusaha pemula usaha di bidang klinik kecantikan ini   harus melihat segmen  pasar yang akan disasar lebih dulu.

Dari segmen pasar itu bisa ditentukan lokasi usahanya, misalnya kalau menyasar segmen menengah atas tentu lokasinya harus di kawasan elit yang banyak dikunjungi atau ditinggali kalangan menengah atas, sebaliknya untuk menengah bawah bisa berlokasi di  daerah pinggiran sampai desa-desa.  Pemasaran yang efektif bisa dilakukan lewat brosur, iklan di media atau info dari mulut ke mulut dari pasien yang puas terhadap jasanya.

Yang perlu diperhatikan juga oleh pengusa  pemula  adalah ia harus jeli membuat treatment  dengan melihat peluang yang belum dilihat orang lain dan prospektif, misalnya memberikan pelayanan yang lebih khusus. Hal ini karena manusia memiliki karakter kulit tubuh yang berbeda-beda.

“Orang yang  bekerja di tempat ber-AC misalnya tentu masalah kulitnya akan berbeda dengan orang yang tidak kena AC. Jadi sangat tergantung lingkungan, dan pasar yang lebih spesifik seperti ini yang belum banyak digarap, misalnya klinik kecantikan yang khusus menangani perawatan orang yang suka kerja di ruangan ber-AC,” tambah dr Siti Pariani, MS, MSc,PhD.

Keamanan treatment juga menjadi kunci utama kepuasan klien. Saat ini menurut pengamatan dr Siti Pariani, MS, MSc,PhD banyak klinik kecantikan yang  melupakan efek alergi akibat penggunaan teknologi laser, sehingga sebaiknya pengusaha  pemula  harus melakukan tes ke kulit pasien dulu sebelum melakukan tindakan serta melakukan konsultasi. Hal lain yang perlu diperhatikan tentu peralatan yang digunakan, dan  SDM yang tentu saja wajib menggunakan tenaga dokter yang menguasai anatomi tubuh.

Lokasi usaha juga harus disurvei dulu. Untuk segmen pasar menengah ke atas biasanya berada di lokasi pemukiman atau perkantoran elit, namun tak menutup kemungkinan bagi klinik kecantikan yang menyasar  kelas menengah bawah berada di daerah elit. Menurut Yusmiadi Abdullah, Marketing Support Aesthedica Consulting persaingan di segmen menengah atas sudah cukup ketat, sehingga bila di sekitarnya sudah banyak yang high class, bisa saja didirikan klinik yang menyasar segmen menengah ke  bawah.

“Misalnya di daerah Pamulang Tangerang sudah banyak skin care menyasar kelas menengah ke bawah. Namun belum ada klinik kecantikan  yang menyasar menengah ke atas. Harus dipikirkan treatment apa yang mudah dijual untuk menengah ke atas seperti sedot lemak karena paling murah harganya Rp 10-15 juta sekali treatment tergantung bagian tubuh yang dibuang lemaknya,” jelasnya.

Klinik kecantikan yang menyasar kelas menengah bawah harus  menerapkan harga  yang terjangkau  bagi konsumen  misalnya biaya paling murah Rp 50 ribu-250  untuk facial , dan untuk menengah  atas  untuk facial bisa di atas Rp 250 ribu. Perbedaan harga itu dilihat dari kualitas masker yang digunakan, ada yang bagus kualitasnya seperti CO2 powder masker harganya hampir Rp 150 ribu per botolnya.

Investasi. Ada dua jenis klinik kecantikan, yaitu Klinik Pratama (Klinik kecantikan yang mengarah ke tindakan yang sifatnya preventif  atau untuk perawatan, misalnya  merawat wajah supaya tidak cepat tua, tidak mudah flek, tidak mudah timbul jerawat  dll dengan tenaga dokter umum)  dan Klinik Utama (Klinik kecantikan yang sudah memiliki dokter spesialis yang terkait dengan treatment yang ditawarkan).

Pada Klinik Pratama menurut dr Teguh Tanuwidjaja  modal minimalnya  sekitar Rp 20 juta di luar tempat usaha. Modal tersebut digunakan untuk pembelian produk dan peralatan sederhana. Peralatan paling sederhana  tersebut antara lain peralatan sterilisasi, dan alat pembuka jerawat yang aman  seperti  cauter.

Sedangkan pada klinik utama  sudah menggunakan peralatan canggih seperti laser, meja operasi dll. “Produk obat-obatan itu tentu harus dibeli melalui apotek atau diracik sendiri oleh dokter tapi tetap harus melalui apotek pembuatannya. Sedangkan peralatan sederhana bisa  dibeli lewat pedagang alat  kesehatan kebanyakan di Jakarta dan Surabaya, yang bisa juga dilihat di pameran alat kesehatan,” jelas dr Teguh Tanuwidjaja.

Klinik  sederhana berupa klinik pratama harus memiliki standar ruang cukup satu ruang untuk dokter dan di luar ada  ruang penerimaan tamu. Berbeda halnya di Klinik Kecantikan yang masuk kategori Klinik Utama harus terdiri dari beberapa ruangan, seperti ruang penerima tamu, ruang tunggu tamu, ruang praktek masing-masing dokter spesialis, dan ruang tindakan dokter.

Klinik kecantikan juga perlu ijin usaha dari pemerintah daerah setempat, selain itu juga harus ada ijin dari Dinas Kesehatan Propinsi atau Kabupaten. Pemilik klinik kecantikan juga harus melaporkan daftar alat yang dimiliki dalam proses perijinannya.

Franchise. Saat ini ada beberapa klinik kecantikan yang menawarkan sistem franchise atau kemitraan untuk membangun sebuah klinik kecantikan. Seperti halnya dr. Yana Rosdiana, pemilik Klinik Estetika Madania yang memberi kesempatan kepada mereka yang ingin berbisnis klinik kecantikan namun tidak memiliki keahlian kecantikan dengan menjadi Mitra Klinik Estetika Madania.

Investasi yang ditawarkan Klinik  Estika Madania cukup terjangkau sebesar Rp 75 juta untuk kontrak kerja sama berlaku selama 5 tahun, dan bisa diperpanjang sesuai dengan kesepakatan. Franchise fee dikenakan sebanyak 20% dari omset pada bulan pertama serta wajib membeli produk terapis dengan pemesanan tergantung kebutuhan mitra.

Dari investasi tersebut mitra mendapatkan marketing tools, peralatan klinik (tempat terapis, handuk dan peralatan kecantikan), pelatihan selama 1 bulan untuk beautician (konsultan kecantikan) dan pelatihan 1 minggu untuk bagian administrasi, serta surat perijinan pendirian klinik dari Dinas Kesehatan, dekorasi tempat, dan stok produk awal untuk 500 pasien.

Sementara itu untuk klinik kecantikan yang menyasar kelas menengah atas, biasanya menawarkan franchise dengan investasi yang jauh lebih mahal. Seperti halnya Klinik Kecantikan Erpour menawarkan franchise dengan investasi sekurang-kurangnya Rp 1 M.

Menurut Dr. Reza Y. Purwoko, Sp.KK Pewaralaba atau pemilik merek klinik kecantikan Erpour,  investor tak perlu pusing setelah setor dana  investasi, karena dijamin untung, dan dalam waktu satu tahun sudah balik modal.

Ternyata tawaran investasi yang cukup besar itu tak menghalangi niat kalangan investor untuk terjun di bidang ini.  “Sudah ada 10 klien yang menunggu, jadi saat ini belum dibuka kemitraan, tapi bisa tetap menghubungi kami untuk kemungkinan pengembangan nama sendiri atau jika 10 klien di atas sudah selesai, kami akan prioritaskan karena bisa dalam waktu 1-3 bulan saja untuk menuntaskan proyek awal,” ujar Dr. Reza Y. Purwoko, Sp.KK.

Erpour juga membantu konsultasi pembangunan klinik kecantikan dengan nama  lain,  seperti yang  pernah dilakukan pada klinik  Wonder Skin Laser Center and Lab-Clinic, Murez Medical Spa, dan Secret Beauty skincare Slimming Center. “Dalam waktu dekat juga akan dibangun Isabella dan Priscilla Slimming Center. Juga nama- nama besar lainnya,” tandas  dokter berkacamata ini ramah.

Paling Untung. Dari banyaknya treatment yang dihadirkan oleh pelaku usaha, klinik kecantikan yang menyasar semua kalangan mulai atas hingga menengah bawah, treatment yang memberikan keuntungan paling besar terutama untuk treatment yang berkaitan dengan wajah seperti memutihkan wajah, menghilangkan jerawat, vlek, hingga anti aging (menghilangkan keriput) paling diminati. Seperti dialami oleh dr. Med. Hartono, Pemilik Nibelth Clinic yang bisa meraup untung hingga 75%.

Sedangkan bagi  klinik kecantikan yang menyasar kelas menengah atas, treatment yang paling diminati adalah liposuction (sedot lemak) untuk menghilangkan timbunan lemak pada tubuh meliputi daerah sekitar perut, luar paha, pinggul, lengan atas, dagu dan daerah tubuh lain.

Diakui Priscilla, pemilik Klinik Erpour di MoI Kelapa Gading Jakarta Utara, harga treatment tersebut cukup mahal Rp 25 juta karena  menggunakan alat terbaru dan tercanggih untuk menghilangkan timbunan lemak pada tubuh yaitu metode Lipoplasty, yang telah mendapatkan rekomendasi dari Badan Kesehatan Amerika (FDA) dan terbukti lebih aman, dengan peralatan yang digunakan Power Assisted Lipoplasty (PAL) merk Microaire.

Sedangkan dari konsep usaha, menurut dr Teguh Tanuwidjaja masyarakat awam yang  bukan seorang dokter namun ingin mendirikan klinik kecantikan harus bergandengan dengan dokter dulu baru memutuskan mau usaha sendiri atau franchise.

“Kelebihan  franchise begitu dibuka sudah beroperasi dengan baik karena  sudah punya nama, sistemnya sudah bagus, sehingga begitu buka langsung dapat uang. Tapi tentu investasi lebih besar dibanding usaha sendiri yang bisa ditekan sesuai kantong. Namun karena belum punya nama, usaha sendiri harus mulai dari awal seperti promosi, treatment yang akan diberikan dll,” ujar dr. Teguh.

Dengan demikian  pilihan terserah Anda, ingin mendirikan klinik sendiri dengan merekrut dokter umum atau spesialis dulu, atau  membeli franchise? Ikuti ulasan profil pengusaha klinik kecantikan yang  sukses  pada halaman   berikut, siapa tahu dari mereka , Anda bisa mendapatkan banyak pengetahuan untuk memulai usaha di bidang klinik kecantikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.