Masih Impor, Industri Alkes Ditantang Lebih Inovatif

0
46

Produksi alat kesehatan (alkes) dalam negeri hanya mampu memenuhi kurang dari 10 persen kebutuhan di Indonesia. Akibatnya, ketergantungan terhadap produk impor sangat tinggi. Industri alat kesehatan dalam negeri pun ditantang berinovasi lebih gencar lagi untuk menghasilkan berbagai alat kesehatan berkualitas.

Usai melihat langsung beragam inovasi alat-alat kesehatan di Pameran Pembangunan Kesehatan 2019 di di Indonesia Convention Exhibiton (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Sabtu (9/11), Menteri Kesehatan, dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K), merasa yakin bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa yang mandiri dengan menghasilkan produk-produk berkualitas dan siap bersaing.

Sebelumnya, dalam kesempatan pisah sambut dengan Menkes pendahulunya, Prof. Nila Moeleok, di Gedung Sujudi Kementerian Kesehatan, dirinya mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikannya pekerjaan rumah (PR) terkait penyediaan alat kesehatan buatan anak bangsa, selain soal stunting dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Disebutkan, inovasi menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan.
Mengacu soal stunting, dalam pembangunan kesehatan semua sektor dituntut untuk semakin inovatif terutama dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir, dan anak usia sekolah. Mempersiapkan generasi unggul sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan, terlebih Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 2030 hingga 2045.

Melihat temuan-temuan baru dalam pameran tersebut, Menkes Terawan optimis semua bisa mendukung menuju Program Indonesia Sehat. Beberapa di antaranya tongkat laser yang terkoneksi ke sepatu bagi mereka yang tunanetra, inkubator, dan tempat tidur khusus pasien rumah sakit. Namun, alat kesehatan paling menarik menurutnya adalah alat holter untuk bayi, yang tinggal ditempel di perut untuk memantau bayi yang ada di kandungan.

“Itu inovasi yang luar biasa. Menurut saya, Indonesia hebat. Setelah melihat ini semua saya yakin, kita bisa menjadi bangsa yang siap 2045 untuk Indonesia maju, tinggal bagaimana pemerintah mendukung pemanfaatan alat-alat inovatif tersebut,” katanya.

Dirinya berharap Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) melakukan tindakan nyata sebagai wujud memberikan dukungan.

“Paling tidak Dirjen Farmalkes harus mampu, pertama perizinannya lebih mudah, pengaturan kontrolnya lebih baik sehingga harganya bersaing,” ujarnya.

Menurutnya, dengan harga yang bersaing tersebut dapat menggerakkan roda ekonomi bangsa ini.

“Semua itu berjalan karena produksinya ada yang dijual, ada yang membeli. Di situlah kita fungsinya sebagai regulator untuk membuat semuanya nyaman,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.