Benarkah Beberapa Sektor Pekerjaan Terancam Hilang Akibat Revolusi Industri 4.0?

0
660
Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan Bambang Satrio Lelono dalam dialog interaktif Forum Merdeka Barat 9 di kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi Jakarta, Senin (16/4). (Dok. Kemnaker)

Berempat.com – Dunia industri terus mengalami revolusi di setiap waktunya. Saat ini, Indonesia sendiri sudah harus bersiap menghadapi revolusi industri 4.0. Namun, revolusi yang terjadi tak selalu ditanggapi baik, beberapa kecemasan justru bermunculan. Utamanya kecemasan pada hilangnya pekerjaan.

Namun, hal itu segera dibantah oleh Direjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan Bambang Satrio Lelono. Menurutnya, masyarakat tak perlu khawatir akan kehilangan pekerjaan akibat datangnya revolusi industri 4.0. Karena menurut Bambang sejak revolusi industri 1 hingga 3 beberapa sektor pekerjaan pun sudah tergerus. Tapi, di balik tergerusnya sektor pekerjaan itu juga memunculkan jenis pekerjaan baru.

“Tak perlu khawatir dengan masalah hilangnya pekerjaan. Yang perlu dilakukan adalah menyiapkan keterampilan baru agar kita bisa menyesuaikan dengan kebutuhan atau jenis pekerjaan yang akan datang,” ujar Bambang dalam dialog interaktif Forum Merdeka Barat 9 di kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi Jakarta, Senin (16/4).

Bambang juga menyebutkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh Oxford, McKensie, Global Institute maupun ILO memang memprediksi 50% pekerjaan akan hilang di revolusi industri 4.0 ini. Namun, akan muncul sekitar 65% pekerjaan baru yang belum ada sebelumnya.

Menurut Bambang, perkembangan teknologi bisa menjadi hal yang paling dibutuhkan dalam transformasi industri. Karena dengan itu pekerjaan yang baru dapat bermunculan. Ia mengambil contoh Tokopedia yang semula hanya memiliki merchant sekitar 2 juta, dapat berkembang menjadi 2,7 juta dalam satu bulan.

“Ketika merchandise Tokopedia 2 juta, ternyata sebanyak 80 persen, tadinya orang yang tidak bekerja dan tidak berusaha. Artinya adanya teknologi online dengan Tokopedia ini, ada 1,6 juta yang tidak bekerja, menjadi bekerja,” terangnya.

Karena itu, Bambang menegaskan perlunya setiap sektor industri harus membuat strategi transformasi industrinya. Baik industri pertanian, kimia, makanan minuman, listrik, otomotif dan sebagainya.

“Transformasi teknologinya seperti apa? Revolusi industri pasti akan memunculkan posisi atau jabatan-jabatan baru yang sekarang belum ada. Adanya industri baru, jabatan yang sekarang ada, menjadi jabatan kadaluarsa. Kita membutuhkan pemetaan jabatan baru itu, ” ujarnya.

Menurut penuturan Bambang, saat ini pihaknya terus melakukan pemetaan jabatan baru sebagai bentuk antisipasi terbunuhnya sejumlah pekerjaan akibat perkembangan teknologi informasi. Pemetaan utamanya menyangkut sektor pekerjaan yang bakal tumbuh dan menyusut dalam 15 tahun ke depan.

Setelah pemetaan, ujar Bambang, Kementerian Ketenagakerjaan baru akan menyiapkan kemampuan-kemampuan baru yang dibutuhkan untuk jabatan tersebut. Bambang juga mengatakan perlunya identifikasi perubahan kompetensi yang dibutuhkan industri, juga memfasilitasi pelatihan SDM untuk pengembangan kompetensi sesuai kebutuhan industri.

“Jadi menghadapi revolusi industri 4.0, pertama kita harus punya strategi transformasi industri, kedua membuat pemetaan jabatan baru dan ketiga pemenuhan skill-skill kompetensi baru untuk pemenuhan jabatan-jabatan baru tersebut,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.