Ekspor Arab Saudi Pulih, Harga Minyak Merosot ke US$102,59 per Barel

0
6
Ekspor Arab Saudi Pulih, Harga Minyak Merosot ke US$102,59 per Barel
Ekspor Arab Saudi Pulih, Harga Minyak Merosot ke US$102,59 per Barel (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Harga minyak merosot pada perdagangan Selasa (29/9/2026) setelah aktivitas ekspor minyak mentah Arab Saudi dari sejumlah terminal di Laut Merah kembali meningkat. Pemulihan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global yang sebelumnya muncul setelah serangan terhadap jalur pipa utama Saudi.

Mengutip CNBC, Rabu (30/9/2026), harga minyak Brent sebagai acuan internasional turun 2,6 persen dan ditutup di level US$102,59 per barel. Sementara itu, kontrak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi lebih dalam, yakni 3,5 persen menjadi US$89,38 per barel.

Penurunan tersebut terjadi ketika pasar melihat adanya tanda-tanda normalisasi pengiriman minyak dari Arab Saudi. Data Kpler berdasarkan citra satelit menunjukkan aktivitas operasional di terminal Yanbu dan Muajjiz telah pulih secara signifikan.

Ekspor Arab Saudi Kembali Meningkat

Kpler mencatat sekitar 12,5 juta barel minyak dimuat ke sembilan kapal tanker di Yanbu selama Sabtu hingga Senin. Aktivitas ekspor sebelumnya terganggu setelah serangan drone menyasar jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi pada awal September.

PT Mitra Mortar indonesia

Gangguan itu sempat memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Namun, aliran minyak melalui pipa tersebut kini dilaporkan kembali mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari. Kapasitas maksimal jalur tersebut berada di kisaran 7 juta barel per hari.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Harga minyak merosot dalam perdagangan terbaru. Pasar mulai memperhitungkan ketersediaan pasokan yang lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Selat Hormuz Masih Jadi Perhatian Pasar

Di sisi lain, perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar energi. Pejabat AS dan Iran dilaporkan kembali melakukan komunikasi melalui mediator pada Senin untuk membahas kemungkinan penghentian konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Arus minyak melalui Selat Hormuz juga mulai meningkat. Data Kpler menunjukkan rata-rata pengiriman selama tujuh hari mencapai 13,2 juta barel per hari atau sekitar 77 persen dari volume 17 juta barel per hari sebelum perang AS-Iran.

Dengan membaiknya ekspor Saudi dan meningkatnya arus minyak di Selat Hormuz, Harga minyak merosot seiring berkurangnya tekanan pasokan. Meski begitu, perkembangan geopolitik tetap berpotensi memengaruhi pergerakan harga dalam perdagangan berikutnya. Investor masih mencermati kebijakan AS serta kondisi keamanan jalur distribusi minyak di kawasan Teluk.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan