
Penguatan kualitas tenaga kerja kembali menjadi sorotan pemerintah, terutama ketika agenda nasional menuntut kesiapan SDM industri yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan lapangan kerja modern. Fokus itu juga berkaitan dengan Penyiapan Pekerja Migran yang dinilai menjadi bagian dari strategi besar meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pemetaan SDM yang lebih terarah harus menjadi prioritas karena sektor industri tengah bergerak dalam ritme transformasi yang cepat.
Menperin menjelaskan bahwa pemerintah memperluas berbagai program vokasi, magang, hingga pelatihan terstruktur agar generasi muda dapat masuk ke industri dengan keterampilan yang relevan. Ia menilai langkah-langkah tersebut bukan sekadar rutinitas, tetapi fondasi penting untuk mempercepat realisasi pembangunan industri nasional yang berkelanjutan. Dalam keterangannya pada Rabu (10/12), Menperin menyoroti perlunya SDM yang adaptif dan selaras dengan dinamika teknologi.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi menambahkan bahwa Program Magang Nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto menunjukkan respon publik yang sangat besar. Hingga batch ketiga, program tersebut diperkirakan mampu menampung lebih dari 104 ribu peserta, dan Kemenperin mengambil peran signifikan dalam pencapaian target tersebut. Doddy menyebut, dunia industri mendapat manfaat langsung dari pelatihan yang memberikan pengalaman praktik di lapangan.
Program magang untuk lulusan baru ini tidak hanya memberi ruang pembelajaran, tetapi juga memastikan peserta menerima dukungan finansial berupa uang saku setara Upah Minimum Provinsi (UMP). Kebijakan ini diharapkan menambah motivasi peserta sekaligus memperkuat ekosistem industri yang membutuhkan pasokan tenaga kerja kompeten. Doddy menekankan pentingnya kerja sama antarkementerian dan pelaku usaha untuk memastikan kebutuhan industri dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Penguatan Kapasitas dan Penyiapan SDM Global
Selain fokus pada kebutuhan domestik, pemerintah juga mempercepat Penyiapan Pekerja Migran yang mampu bersaing di pasar internasional. BPSDMI bekerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia untuk memperkuat jaringan pelatihan tenaga kerja terampil. Doddy mencontohkan salah satu pelatihan yang menghasilkan 200 welder Indonesia yang kini bekerja di Slovakia, di mana pendapatan mereka bisa mencapai Rp90 juta per bulan.
Menurut Doddy, tenaga kerja migran yang telah mendapatkan pengalaman global memiliki potensi besar ketika kembali ke Indonesia. Ia berharap para pekerja tersebut dapat menjadi motor penggerak wirausaha industri karena sudah memiliki keterampilan dan modal yang lebih matang. Ia juga mengingatkan agar pendapatan dari luar negeri dikelola secara bijak untuk mempersiapkan masa depan yang lebih mandiri.
Upaya memperkuat SDM turut didukung unit-unit pelatihan di bawah BPSDMI, termasuk Balai Diklat Industri (BDI) Yogyakarta. Lembaga ini memegang mandat strategis untuk mencetak tenaga kerja kompeten pada sektor plastik, alas kaki, furnitur, tekstil, produk tekstil hingga alat kesehatan sesuai Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 2 Tahun 2022. Kepala BDI Yogyakarta, Kunto Purwo Widagdo, menjelaskan bahwa lembaganya menargetkan menjadi Center of Excellence pada 2029 melalui pelatihan berstandar internasional dan penguatan kapasitas institusi.
Kunto menyatakan bahwa pihaknya terus membuka kolaborasi dengan berbagai perusahaan dan instansi pemerintah agar setiap program pelatihan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri manufaktur yang berkembang pesat. Ia menegaskan, strategi pengembangan SDM ini juga mendukung proses Penyiapan Pekerja Migran yang membutuhkan tenaga kerja terlatih dengan kompetensi sesuai permintaan pasar global.




