Kemitraan KPBS dengan Frisian Flag dalam Pasokan Susu Segar

0
63
(Dok: kemenperin.go.id)

Bandung Selatan – Koperasi peternak sapi perah sangat berperan dalam mendukung ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan susu. Contohnya adalah Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan yang berdiri sejak tahun 1969 atas dasar inisiatif dari tokoh masyarakat dan para peternak sapi setempat.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew Ferryawan Saputro menyampaikan, pihaknya telah menjalin kerja sama cukup lama dengan KPBS dalam rangka mejaga ketersediaan pasokan bahan baku susu segar. “Peran peternak sapi perah lokal sangat penting bagi kami, karena merekalah yang bisa memastikan kelancaran pasokan bahan baku untuk produksi susu olahan kami,” tuturnya.

Melalui program kemitraan dengan KPBS, PT Frisian Flag Indonesia memberikan berbagai program pembinaan kepada para peternak sapi perah lokal guna meningkatkan kualitas produksi susu segar. “Memang program kemitraan ini menjadi visi kami untuk jangka panjang dalam upaya meningkatkan kesejahteraan para peternak sapi perah lokal,” ujar Andrew.

Menurutnya, program kemitraan adalah solusi dan sinergi yang baik dalam mengatasi berbagai tantangan yang ada. “Apabila produktivitas dan kualitas susunya sudah baik, kesejahteraan peternak juga akan ikut naik. Ujungnya industri bisa beroperasi optimal karena adanya ketersediaan bahan baku, karena kami terus meningkatkan investasi dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor”.

Ketua KPBS Pangalengan Aun Gunawan menyebutkan, pihaknya adalah salah satu koperasi yang telah melakukan transformasi penerimaan susu segar dari sistem manual menjadi sistem digital yang disebut Milk Collecting Point (MCP). KPBS Pangalengan saat ini memiliki sebanyak 4.390 anggota peternak, yang meliputi 14.607 ekor sapi perah, dengan hasil produksi susu segar mencapai 26,7 juta kg per tahun.

MCP merupakan tempat penampungan susu segar dengan cara modern atau penerimaan susunya telah memanfaatkan sistem teknologi industri 4.0, di mana input data penerimaan susu segar dilakukan menggunakan sistem barcode berdasarkan ID yang dimiliki masing-masing peternak. Saat ini, KPBS Pangalengan sudah mengoperasikan tujuh MCP yang pembangunannya bekerjasama dengan PT Frisian Flag Indonesia.

“Adanya MCP ini, ternyata bisa meningkatkan pendapatan signifkan bagi para peternak lokal. Kenaikan yang diterima secara langsung itu bisa sampai 10 persen. Koperasi susu juga ikut memperoleh manfaat, yaitu meningkatnya jumlah dan kualitas susu segar membuat koperasi menjadi berkembang investasinya, dan hasil usaha yang bisa diberikan ke anggota khususnya peternak dapat lebih besar. Melalui MCP ini juga, kami bisa memantau atau menjaga kualitas susu segar dengan baik dari hasil perahan para peternak lokal,” papar Aun.

Setelah didukung dengan teknologi digital melalui peran MCP, KPBS Pangalengan berharap kepada pemerintah dapat memfasilitasi ketersediaan lahan atau kemudahan akses pakan berkualitas untuk kebutuhan sapi perah dalam rangka peningkatan produksi susu segar.

“Selain program pembibitan, kami juga ingin adanya jaminan ketersediaan pakan yang baik. Hal ini tentunya akan menunjang pasokan bahan baku susu segar ke industri pengolahannya. Jadi, dengan adanya penguatan program kemitraan antara koperasi dengan industri, membawa manfaat besar bagi peningkatan kesejahteraan para peternak sapi perah lokal,” papar Aun.

Keberhasilan MCP yang terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak dan masyarakat sekitar tersebut, membuat Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin memberikan program bantuan mesin dan peralatan untuk MCP ke-8 di Kampung Babakan Kiara Pengalengan pada tahun 2021. Pada tahun 2022, program serupa tersebut juga akan dilaksanakan di koperasi susu di wilayah lain yang bekerja sama dengan industri pengolahan susu lainnya. Hal ini mengingat sudah ada 14 industri pengolahan susu yang melakukan kemitraan dan menyerap susu segar dalam negeri.

“MCP akan menjadi salah satu model kemitraan antara industri pengolahan susu dengan koperasi dan peternak, di mana Kemenperin akan memberikan stimulus untuk membantu pembangunannya dengan memberikan bantuan mesin dan peralatan yang selanjutnya akan dilanjutkan oleh industri pengolahan susu lainnya yang bermitra dengan koperasi atau peternak,” ungkap Plt. Dirjen Industri Agro.

Manfaat yang diperoleh dengan dilakukannya transformasi digital melalui pembangunan MCP antara lain adalah meningkatkan kualitas susu segar dan menjaga cemaran bakteri patogen melalui uji Total Plate Count (TPC) tetap rendah. Selain itu, memotivasi peternak untuk meningkatkan produksi susu, mempercepat proses pembayaran susu ke peternak, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik koperasi maupun peternak.

“Keberhasilan KPBS membuat koperasi ini mampu berkembang dan membangun unit-unit bisnis yang lain selain pelayanan penyetoran susu segar,” imbuh Putu.