Transaksi QRIS antarnegara yang masuk ke Indonesia atau inbound terus menunjukkan pertumbuhan. Bank Indonesia (BI) mencatat hingga 2026 terdapat 17,8 juta transaksi inbound dengan nilai mencapai Rp6,2 triliun, terutama berasal dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan tingginya transaksi tersebut menunjukkan konektivitas pembayaran digital lintas negara semakin banyak digunakan. Wisatawan dari Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menjadi bagian dari pengguna layanan pembayaran tersebut selama berada di Indonesia.
“Kalau kita lihat sekarang kita net inbound, artinya kita menerima banyak pembayaran dari turis-turis yang datang ke Indonesia,” ujar Filianingsih dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, dikutip Antara, Minggu (27/9/2026).
Sementara itu, transaksi QRIS antarnegara dari Indonesia menuju negara mitra atau outbound tercatat sekitar 5 juta transaksi dengan nilai Rp1,85 triliun. Dengan capaian tersebut, nilai transaksi inbound lebih dari tiga kali lipat dibandingkan transaksi outbound.
QRIS Perkuat Konektivitas Pembayaran
Filianingsih mengatakan pertumbuhan transaksi QRIS antarnegara menjadi salah satu hasil pengembangan konektivitas pembayaran yang dilakukan BI bersama industri dan negara mitra.
Hingga 2026, layanan tersebut telah menghubungkan Indonesia dengan enam negara. Bank sentral juga terus memperluas jaringan melalui kerja sama baru, termasuk nota kesepahaman dengan Hong Kong dan Timor-Leste.
Menurut Filianingsih, pengembangan QRIS lintas negara memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mempermudah pembayaran ketika masyarakat bepergian. Sistem tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari konektivitas ekonomi yang mendukung perdagangan dan pariwisata.
UMKM Ikut Mendapat Akses Pasar
Perluasan transaksi QRIS antarnegara juga dinilai membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau konsumen dari negara lain. Saat ini QRIS telah digunakan oleh 69,3 juta pengguna dan hampir 46 juta merchant.
Dari jumlah merchant tersebut, sekitar 69 persen merupakan UMKM. Kondisi ini membuat pengembangan konektivitas pembayaran lintas negara berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi pelaku usaha kecil.
Filianingsih menilai transaksi QRIS antarnegara perlu terus dikembangkan agar konektivitas pembayaran dapat memberikan dampak terhadap inklusi keuangan dan ekonomi. Menurutnya, sistem pembayaran lintas negara dapat menjadi pendukung perdagangan, pariwisata, sekaligus membuka akses UMKM ke pasar internasional.





