Konten Promosi Produk kini menjadi salah satu senjata penting bagi UMKM untuk menarik perhatian calon pembeli di tengah persaingan bisnis yang semakin ramai. Di Berempat.com, kami melihat perubahan cara konsumen menemukan dan mempertimbangkan produk membuat pelaku usaha perlu lebih kreatif dalam menyampaikan keunggulan produknya. Foto produk yang bagus tetap penting, tetapi cerita, video, edukasi, hingga interaksi dengan pelanggan ikut menentukan apakah sebuah produk berhenti sebagai konten atau berlanjut menjadi transaksi.
Besarnya peluang pemasaran digital juga terlihat dari jumlah masyarakat yang sudah terhubung ke internet. Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2025 menyebut penetrasi internet Indonesia telah mencapai sekitar 229 juta pengguna atau 80 persen populasi. Kondisi tersebut membuat media digital menjadi ruang yang semakin penting bagi bisnis untuk memperkenalkan produk dan membangun hubungan dengan konsumen.
Skala UMKM di Indonesia juga sangat besar. Komdigi menyebut terdapat sekitar 65 juta UMKM yang berkontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Artinya, persaingan untuk mendapatkan perhatian konsumen berlangsung di ruang yang sangat padat.
Karena itu, membuat konten secara rutin saja belum cukup. Pelaku usaha perlu memikirkan jenis konten apa yang sesuai dengan karakter produk dan kebutuhan target pasar.
Kenapa Konten Promosi Produk Perlu Dibuat Lebih Variatif?
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam pemasaran digital adalah menjadikan setiap unggahan sebagai katalog berjalan. Hampir semua konten berisi foto produk, harga, diskon, lalu ajakan membeli. Pola seperti ini bisa membuat audiens cepat kehilangan alasan untuk mengikuti akun bisnis.
Konten promosi sebaiknya memiliki fungsi yang beragam. Ada konten yang bertugas mengenalkan produk, membangun kepercayaan, memberikan informasi, menjawab keraguan calon pembeli, dan ada pula yang memang diarahkan untuk menghasilkan transaksi.
Komdigi melalui program pelatihan social selling juga menekankan pentingnya strategi konten yang interaktif serta kedekatan dengan calon pembeli. Dalam kegiatan pada 2025, lebih dari 200 pelaku UMKM mengikuti pelatihan yang membahas cara menentukan keunikan produk dan membangun identitas agar pemasaran di platform digital lebih menarik.
Dengan pendekatan tersebut, ide konten bisa dikembangkan dari berbagai sisi. Produk makanan, misalnya, tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk foto kemasan. Pemilik usaha dapat membuat video proses produksi, memperlihatkan bahan yang digunakan, membagikan cara penyajian, atau menceritakan bagaimana produk tersebut dibuat.
1. Konten “Behind the Scene”
Konten di balik layar cocok untuk membangun kedekatan dengan calon pelanggan. Tampilkan proses memasak, pengemasan, pemilihan bahan, proses desain, hingga aktivitas sederhana di balik operasional bisnis.
Konten semacam ini membuat produk terasa lebih dekat dan membantu konsumen mengenal orang di balik sebuah merek.
2. Konten Edukasi yang Berkaitan dengan Produk
UMKM juga bisa memanfaatkan konten edukasi untuk menjawab pertanyaan yang sering muncul dari konsumen.
Bisnis skincare dapat membahas cara memilih produk sesuai kebutuhan kulit. Penjual kopi dapat membahas perbedaan jenis biji kopi. Bisnis fashion bisa membuat konten tentang cara memilih ukuran atau merawat pakaian.
Konten edukasi memiliki nilai jangka panjang karena tidak selalu bergantung pada promosi harga.
3. Konten Sebelum dan Sesudah
Jika produk memiliki hasil yang bisa terlihat, format before-after dapat menjadi pilihan menarik. Misalnya jasa laundry, salon, dekorasi rumah, renovasi, fotografi produk, hingga jasa desain.
Format tersebut membuat manfaat produk lebih mudah dipahami karena audiens dapat melihat perubahan secara langsung.
4. Testimoni dan Cerita Pelanggan
Calon pembeli sering memiliki pertanyaan sebelum melakukan transaksi. Apakah produknya sesuai? Bagaimana kualitasnya? Apakah pelayanan tokonya memuaskan?
Testimoni pelanggan dapat membantu menjawab keraguan tersebut. Agar lebih menarik, testimoni tidak harus selalu berbentuk tulisan. Pelaku UMKM bisa membuat video singkat, tangkapan layar percakapan dengan izin pelanggan, atau cerita pengalaman setelah menggunakan produk.
5. Konten Interaktif
Polling, kuis, pertanyaan, tebak-tebakan, dan fitur komentar dapat membuat audiens terlibat lebih aktif.
Contohnya, bisnis makanan dapat bertanya, “Kalau varian baru dibuat, lebih pilih rasa cokelat atau matcha?” Jawaban audiens kemudian bisa digunakan sebagai bahan untuk menentukan produk atau konten berikutnya.
Konten Promosi Produk Harus Disesuaikan dengan Target Pasar
Tidak semua format cocok untuk semua bisnis. Produk dengan target konsumen muda mungkin lebih mudah dikomunikasikan melalui video pendek, konten humor, tren, atau storytelling. Sementara produk dengan karakter lebih profesional dapat mengandalkan edukasi, studi kasus, demonstrasi manfaat, dan penjelasan produk secara lebih detail.
BPSDM Komdigi dalam pelatihan Social Media Optimization pada 2025 juga menekankan pentingnya menentukan target pasar sebelum membuat konten. Target tersebut kemudian memengaruhi spesifikasi produk dan cara membangun branding yang membedakannya dari produk sejenis.
Karena itu, sebelum membuat konten, UMKM perlu menjawab beberapa pertanyaan sederhana: siapa calon pembelinya, masalah apa yang mereka hadapi, alasan apa yang membuat mereka membutuhkan produk, dan gaya komunikasi seperti apa yang paling mudah diterima.
Dari jawaban tersebut, kalender konten bisa dibuat lebih terarah.
Gunakan Pola Konten yang Bisa Diulang
UMKM tidak harus mencari ide baru setiap hari. Justru, membuat beberapa format yang bisa diulang dapat membantu produksi konten menjadi lebih efisien.
Misalnya dalam satu minggu terdapat lima jenis unggahan. Senin digunakan untuk edukasi, Selasa untuk memperlihatkan proses produksi, Rabu untuk testimoni, Kamis untuk konten interaktif, dan Jumat untuk penawaran produk.
Pola tersebut kemudian dapat dikembangkan berdasarkan performa masing-masing konten.
Pelaku usaha juga perlu memperhatikan metrik sederhana seperti jumlah tayangan, komentar, penyimpanan, kunjungan profil, klik katalog, pesan masuk, hingga transaksi. Konten dengan banyak tayangan belum tentu menghasilkan penjualan paling tinggi. Karena itu, evaluasi sebaiknya melihat hubungan antara interaksi dan tindakan yang dilakukan konsumen setelah melihat konten.
Jangan Lupakan Informasi Produk
Kreativitas memang penting, tetapi informasi dasar tetap harus tersedia. Komdigi pada 2025 mengingatkan bahwa UMKM yang aktif di media sosial sebaiknya juga menyediakan informasi produk secara lengkap melalui kanal digital lain, termasuk website, agar konsumen lebih mudah mendapatkan informasi dan memiliki kepercayaan terhadap bisnis.
Setidaknya, calon pembeli perlu mengetahui harga, ukuran atau varian, bahan, manfaat, cara pemesanan, metode pembayaran, lokasi usaha bila relevan, serta cara menghubungi penjual.
Dengan begitu, Konten Promosi Produk tidak berhenti pada tahap menarik perhatian. Konten tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan konsumen dari mengenal produk, mempertimbangkan pembelian, hingga akhirnya melakukan transaksi.





