Harga emas 24 karat kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah logam mulia dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Pelemahan ini dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang menekan daya tarik emas, sementara investor memilih menunggu hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan Harga emas 24 karat di dalam negeri, termasuk produk PT Aneka Tambang (Antam).
Mengacu pada perdagangan global, harga emas spot turun sekitar 0,7 persen ke level US$4.044,81 per ons. Sementara kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus 2026 juga terkoreksi 0,8 persen menjadi US$4.045,40 per ons.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas. Ketika nilai tukar dolar naik, emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya cenderung menurun.
Di sisi lain, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat Federal Reserve yang dijadwalkan selesai pekan ini. Mayoritas investor menunggu sinyal terkait arah kebijakan suku bunga AS dalam beberapa bulan ke depan.
Analis Tastylive, Ilya Spivak, menilai pergerakan emas saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Menurutnya, harga logam mulia bergerak dalam kisaran sempit sambil menanti petunjuk baru dari bank sentral AS mengenai prospek suku bunga.
Harga emas 24 karat Antam Turun Rp9.000
Di pasar domestik, Harga emas 24 karat Antam juga mengalami penyesuaian. Pada Selasa (28/7/2026), harga emas batangan turun Rp9.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya menjadi Rp2.613.000 per gram.
Penurunan serupa terjadi pada harga buyback atau pembelian kembali oleh Antam. Nilainya kini berada di level Rp2.361.000 per gram, turun Rp9.000 dari posisi sehari sebelumnya. Harga buyback merupakan acuan yang digunakan Antam ketika membeli kembali emas dari masyarakat.
Meski mengalami koreksi, harga emas masih berada pada level yang relatif tinggi jika dibandingkan periode sebelumnya. Sebagai catatan, rekor tertinggi emas Antam tercipta pada 29 Januari 2026 ketika menembus Rp3.168.000 per gram, sedangkan harga buyback saat itu mencapai Rp2.989.000 per gram.
Sementara itu, pasar juga terus memantau perkembangan geopolitik dan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali mendorong The Fed agar menurunkan suku bunga. Di saat bersamaan, perkembangan hubungan AS dan Iran masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi sentimen pasar global.
Apabila The Fed memberikan sinyal yang lebih longgar terhadap kebijakan suku bunga, harga emas dunia berpeluang kembali menguat. Sebaliknya, jika bank sentral AS mempertahankan sikap ketat, tekanan terhadap emas diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Bagi investor, perkembangan tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan langkah investasi logam mulia ke depan.







