Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, menyampaikan bahwa hingga pertengahan Agustus 2025, stok beras premium di berbagai jaringan ritel modern masih belum tersedia atau kosong. Menurutnya, selain keterlambatan produksi dari pemasok, dinamika pasar yang sempat terganggu akibat kasus beras oplosan juga memberi dampak pada kelancaran distribusi.
“Ketersediaan beras premium memang tipis, kami masih menunggu produsen memulai produksi baru pada Agustus ini,” ujar Solihin, Rabu (13/8/2025). Ia menambahkan, pihaknya belum mendapatkan kepastian dari pihak produsen terkait waktu pasti pengiriman kembali ke jaringan ritel modern.
Kasus beras oplosan yang mencuat beberapa waktu lalu membuat sejumlah anggota Aprindo harus memberikan keterangan di kepolisian setempat. Padahal, saat itu Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Pangan Polri mengimbau pelaku ritel untuk tetap memajang stok beras yang mereka miliki. Namun, dalam praktiknya, sejumlah pelaku usaha justru diminta memenuhi persyaratan administrasi yang cukup panjang sebelum dapat melanjutkan penjualan.
Penyaluran Beras Medium dan Tantangan Distribusi
Meski beras premium belum tersedia, pasokan beras medium jenis SPHP dari Perum Bulog mulai masuk ke gudang ritel modern. Proses distribusi dilakukan secara bertahap, dimulai dari pengiriman ke gudang pusat, lalu didistribusikan ke cabang-cabang yang membutuhkan, yang biasanya memakan waktu satu hingga dua hari. Beberapa cabang bahkan sudah mulai menjual beras SPHP, meski jumlah yang sementara masih terbatas.
Ketiadaan beras premium ini berdampak signifikan pada omzet di ritel modern. Dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp74.500 per kemasan, penurunan penjualan komoditas ini memengaruhi rata-rata nilai belanja per pelanggan.
Beras merupakan kebutuhan pokok utama masyarakat dan menjadi salah satu produk dengan perputaran penjualan tertinggi di sektor ritel. Karena itu, pelaku usaha berharap proses produksi dan distribusi segera kembali normal. Pemerintah, melalui Bapanas dan Bulog, terus memantau ketersediaan stok serta mengupayakan agar harga tetap stabil. Langkah ini diharapkan dapat memastikan pasokan mencukupi, menjaga daya beli masyarakat, dan memulihkan kembali omzet sektor ritel yang terdampak.
