Tingkat kepercayaan pelaku usaha terhadap sektor manufaktur nasional kembali menunjukkan tren positif. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) per Juli 2025 naik menjadi 52,89 dari 51,84 pada bulan sebelumnya. Capaian ini menegaskan bahwa ekspansi sektor industri masih berlanjut, meskipun tantangan global seperti perlambatan ekonomi di AS, Eropa, Jepang, dan Tiongkok terus membayangi.
Peningkatan IKI ini tidak hanya mencerminkan daya tahan industri nasional, tetapi juga dorongan kuat dari kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor riil. Kementerian Perindustrian mencatat seluruh variabel utama dalam IKI mengalami kenaikan, mulai dari pesanan yang naik ke 54,40, persediaan produk menjadi 54,99, hingga produksi yang menyentuh angka 48,99—meski masih berada di zona kontraksi.
Permintaan Global dan Domestik Dorong Kinerja
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengungkapkan bahwa peningkatan pesanan disumbang oleh naiknya permintaan baik dari pasar ekspor maupun domestik. Hal ini tak lepas dari dampak kebijakan seperti Perpres 46/2025 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah yang mendorong konsumsi produk dalam negeri.
Kinerja ekspor juga memperlihatkan tren positif. IKI ekspor Juli tercatat 53,35, naik dari 52,19 pada bulan sebelumnya. Sektor-sektor seperti industri logam dasar, makanan, bahan kimia, dan elektronik memberikan kontribusi signifikan, dengan ekspor logam dasar mencapai USD4,6 miliar. Sementara itu, industri aneka seperti perhiasan dan media rekaman mencatat lonjakan ekspor hingga lebih dari 150 persen.
Permintaan dalam negeri juga terjaga dengan IKI domestik naik ke 52,16. Momentum liburan sekolah dan tahun ajaran baru disebut turut mendorong konsumsi rumah tangga, ditambah dukungan pemerintah terhadap daya beli masyarakat.
Peluang Ekspor dan Strategi Industrialisasi Nasional
Di sisi lain, Kemenperin memanfaatkan peluang dari kesepakatan dagang IEU-CEPA dan kerja sama dengan AS. Langkah konkret dilakukan dengan memfasilitasi industri-industri lokal untuk masuk pasar ekspor dan mendorong ekspansi kawasan industri berbasis ekspor. “Ekspansi sektor industri harus dikawal dengan peningkatan daya saing produk lokal,” tegas Febri.
Subsektor industri alat angkutan dan tembakau mencatat IKI tertinggi, didorong kenaikan penjualan domestik dan ekspor ke negara mitra seperti Selandia Baru dan AS. Sebaliknya, industri reparasi dan perawatan mesin (KBLI 33) menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi akibat rendahnya aktivitas pengadaan musiman.
Upaya proteksi industri nasional juga diperkuat lewat penerapan SNI dan regulasi pembatasan impor selektif untuk menjaga pasar dalam negeri dari serbuan produk luar. “Kami ingin memastikan 19 juta tenaga kerja di sektor manufaktur tetap terlindungi,” tambahnya.
Optimisme pelaku industri pun terus tumbuh. Sekitar 77,1 persen pelaku usaha melaporkan kondisi usaha membaik atau stabil. Harapan enam bulan ke depan meningkat, seiring konsistensi kebijakan pemerintah seperti perpanjangan harga gas khusus industri dan penguatan TKDN.
Kementerian Perindustrian juga menegaskan komitmennya dalam mendukung program prioritas nasional, seperti Makan Bergizi Gratis, ketahanan energi dan pangan, serta program koperasi modern yang diusung pemerintahan saat ini. Semua langkah tersebut diharapkan memperkuat fondasi industri sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
