Mertani Tawarkan Solusi IT untuk Efisiensi Industri Agrobisnis

0
394

Berempat.com – Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah. Sebab sebagaimana yang kita tahu, industri agrobisnis bisa tumbuh subur di negeri ini, seperti kelapa sawit, kopi, teh, dan banyak lagi. Namun, rupanya ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi oleh industri agorbisnis di Indonesia, salah satunya ialah efisiensi dalam pembudidayaan.

Mertani, adalah startup Indonesia berbasis information technology (IT) yang hadir untuk memenuhi efisiensi yang diperlukan oleh industri agorbisnis. Divisi Eksternal Mertani, Ashid Hujjatul Islami mengungkapkan, Mertani hadir sebagai solusi untuk perusahaan agrobisnis dalam mengetahui kondisi lahan.

“Jadi kita di sini menyediakan alat berupa hardware sekaligus software-nya berupa aplikasi di hape. Jadi kita di sini fokus bagaimana cara meng-collecting data. Kita punya alat di sini ada sensornya. Sensornya ada banyak: ada suhu, kelembapan, ada pH dan sebagainya. Nah, ini data-data kita tangkap dari sensor ini, kita langsung sambungkan ke smartphone secara real time. Jadi waktu itu juga kita bisa tahu kondisi lingkungan seperti apa. Setelah tahu kondisi kelembapan kita bisa memberikan perlakuan yang tepat,” terang Ashad kepada Berempat.com di Jakarta beberapa waktu lalu.

Solusi yang coba dihadirkan Mertani sendiri muncul dari pengalaman sang co-Founder, Yustafat Fawzi yang pernah bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit sebagai analyze. Dulu, Yustafat kerap menemukan bahwa perusahaan kelapa sawit tempatnya bekerja masih menggunakan cara lama untuk menentukan waktu dan jumlah pemberian pupuk pada sebuah pohon sawit. Sehingga perusahaan pun hanya mengandalkan jadwal rutin dalam pemberian pupuk dengan jumlah yang juga selalu sama.

“Padahal setelah dicek di lapangan ini (pupuk) berlebih. Maksudnya tidak efisien. Ada yang kurang ada yang lebih, jadi tidak efisien. Padahal di kelapa sawit ini kan (lahan) skalanya besar,” kisah Ashad.

Menurut Ashad, pengeluaran terbesar perusahaan kelapa sawit umumnya ada pada biaya pupuk. “60 persen biaya usaha sawit itu (habis) dari pupuk,” terangnya. Sebab itu, sambung Ashad, dengan bisa menekan 10% dari biaya pengeluaran pupuk biasanya, tentu perusahaan akan lebih efisien. Biaya yang ditekan pun bisa digunakan untuk membiayai tenaga kerja.

“Di situ perannya. Efisiensi itu sebegitu pentingnya,” tegas Ashad.

Ashad pun menjelaskan, berlebihan dalam pemberian pupuk juga bisa berdampak negatif pada tumbuhan, seperti turunnya produksi hingga bisa menjadi racun untuk tanaman itu sendiri.

Sejatinya, perlu diketahui bahwa alat sensor lahan ini sudah ada di luar negeri. Namun, Ashad menyebut bahwa banyak produk dari luar negeri yang kesulitan masuk ke Indonesia karena mahalnya harga yang ditawarkan untuk sebuah alat. Belum lagi produsen tak bisa membuat alat sesuai dengan permintaan perusahaan.

“kita ini Indonesia kan keberagamannya sangat diperhitungkan, tanamannya, lingkungannya, jadi kalo nggak bisa custome itu fatal banget,” terang Ashad.

Di sinilah Mertani menonjolkan kelebihannya, yakni mereka bisa membuat alat sesuai dengan kebutuhan perusahaan. “Klien kita punyanya (tanaman) apa, kondisinya (lahan) seperti apa, kita bisa sesuaikan,” imbuh Ashad.

Bahkan, menurut Ashad, sekalipun lahan yang ingin diberikan alat sensor ini berada di daerah terpencil yang tak memiliki jangkauan internet Mertani akan tetap bisa mengusahakan bagaimana pun caranya. Bisa memanfaatkan infrared, misalnya.

Sementara untuk harga, Ashad menjamin lebih murah. Untuk sebuah alat yang memiliki sekitar 5 sensor—sudah termasuk sensor kelembapan dan pH—ditawar di kisaran Rp 3-5 juta per alat.

Alat yang dibuat pun sifatnya portable. Artinya, bila kita sudah mendapatkan data pada satu titik lahan, maka kita bisa memindahkan alat ini untuk mendapatkan data di sisi yang berbeda. Untuk luasan jangkauan sensor, Ashad menyebut satu alat ini cukup untuk lahan seluas 2 hektare.

Saat ini, Mertani yang sudah berdiri selama 2 tahun sudah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan di Blitar dan Lampung. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang kelapa sawit dan yang sifatnya multicultural.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.