Kelalaian Path Sehingga Bisa Mati Setelah 8 Tahun Beroperasi

0
632
Ilustrasi aplikasi Path. (androidguys.com)

Berempat.com – Path, salah satu media sosial yang sempat booming pada 2012-2013 di Indonesia kini justru telah bersiap untuk ‘mati’. Path telah secara resmi mengumumkan akan menutup layanannya pada 18 Oktober 2018. Di tahun ini, usia Path 8 tahun (berdiri 2010).

Penutupan ini tentu cukup membuat pengguna media sosial Indonesia terkejut. Terkejut lantaran pengumuman tersebut baru mengingatkan lagi warganet kepada Path. Karena bisa dibilang beberapa tahun belakangan ini pamor Path memang kian turun, termasuk di Indonesia. Banyak yang melupakan Path sebab lebih asyik menggunakan media sosial lain.

Matinya Path tentu menjadi pembelajaran tersendiri bagi pengusaha yang terjun ke industri platform media sosial. Sebab ini menjadi gambaran nyata betapa ketat dan kerasnya persaingan dunia digital. Lantas, apa yang membuat Path bisa mati setelah 8 tahun beroperasi?

Mengabaikan Kepercayaan Pengguna

Media sosial yang didirikan oleh Dave Morin ini pernah bermasalah terkait privasi pengguna pada 2013 silam. Pasalnya, Path ketahuan menyalin 3.000 data pengguna di bawah usia 13 tahun, termasuk kontak telepon tanpa izin. Alhasil, akibat dari perbuatan itu Path harus membayar denda kepada Federal Trade Commission sebesar US$ 800 ribu.

Setelah itu, pengguna Path pun turun drastis. Media sosial yang identik dengan warna merah ini pun bersusah payah menaikkan lagi penggunanya.

Pada awal 2014, Path sempat mendapatkan suntikan dana segar dari Bakrie Global Group sebesar US$ 25 juta atau setara Rp 304 miliar saat itu. Namun, sayang, dana segar tersebut tak mampu membuat Path kembali berjaya. Di Indonesia saja, berdasarkan data Statista pada 2016 lalu, Path hanya mampu menempati posisi ketiga (27,22%) dengan pengguna terbanyak, kalah dari Facebook (77,61%) dan Instagram (60,14%).

Hilangnya kepercayaan pelanggan atas kasus yang pernah dilakukan Path pada 2013 silam tentu menjadi kendala sulitnya Path menarik pengguna baru.

Terlambat Berinovasi Hingga Kemudian Terkesan Membosankan

Di awal kemunculan Path digandrungi karena memposisikan diri sebagai media sosial eksklusif. Pasalnya, berbeda dengan media sosial lainnya, Path terkesan lebih privasi sehingga pengguna cukup berbagi keseharian dengan orang-orang terdekat saja. Saat itu, jumlah teman pun dibatasi hanya 50 orang.

Di awal, Path pun hanya dapat digunakan untuk mengunggah foto. Sebelum kemudian Path terus melakukan pembaruan sehingga bisa digunakan untuk mengunggah video, status, update musik, film, dan buku, hingga menambahkan fitur stiker. Jumlah teman pun ditambah menjadi 150 orang.

Namun, selepas itu Path tak lagi melakukan pembaruan. Sementara media sosial lain terus berbeda. Intip saja Instagram, salah satu platform media sosial yang paling mencolok melakukan permbaruan di sana sini. Bahkan media sosial satu ini tak segan menjiplak fitur Snapchat demi bisa menarik pengguna lebih banyak.

Hasilnya? Berhasil. Pengguna Instagram terus bertambah hingga bisa menempati urutan pengguna kedua terbesar di Indonesia. Sementara Path tak kunjung melakukan pembaruan. Memang, Path kemudian menambahkan fitur serupa Stories dan profil pengguna bisa diubah layaknya Instagram atau Twitter yang bisa punya pengikut banyak tanpa perlu balik mengikuti. Namun, sayangnya, pengguna sudah tak lagi tertarik kembali sebab sudah terlanjur nyaman dengan Instagram maupun media sosial lainnya yang sudah lebih dulu berbenah.

Inilah kelalaian Path sehingga akhirnya mereka pun ditinggalkan dan dilupakan oleh pengguna, sehingga kemudian pun mati dengan sendirinya. Sebab itu, dalam bisnis tentu inovasi menjadi hal teramat penting yang harus terus dilakukan. Dan yang tak kalah penting ialah menjaga kepercayaan konsumen atau pengguna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.