Mahasiswa Jepang Studi Kasus Sistem Franchise ke Crispyku Fried Chicken

0
562
Owner Crispyku Fried Chicken Alexander Theo (tengah berbatik merah) saat menerima mahasiswa dari Chuo University Jepang di kantornya, Green Sedayu Biz Park, Cakung, Jakarta Timur, Rabu (12/9). (Dok. Crispyku Fried Chicken)

Berempat.comOwner Crispyku Fried Chicken Alexander Theo mengaku kaget sekaligus bangga ketika merek waralabanya kedatangan tamu dari Jepang. Mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi Chuo University Jepang yang tengah mengadakan studi kasus terkait sistem franchise di Indonesia.

Di hadapan sekitar 8 mahasiswa Jepang di kantornya yang berlokasi di Green Sedayu Biz Park, Cakung, Jakarta Timur, pada Rabu (12/9), Alex pun tak sungkan memaparkan seperti apa sistem franchise yang berjalan di Crispyku Fried Chicken selama ini.

“Kalo kita sistemnya sih ya, kita kontrol mitra. Kita training mitra. Kita kirim ke mitra-mitra itu bahan bakunya segala macam, kita kirim ke mereka dengan free ongkir se-Jabodetabek. Setelah itu, kita ajarin mereka, kita bimbing mereka gak cuma 1 hari, tapi sampai 3 hari. Dan kita melakukan kunjungan rutin ke outlet mereka. Dan mereka konusltasi free ke kita terkait outlet mereka,” ungkap Alex saat dihubungi Berempat.com pada Kamis (13/9).

Pada kesempatan tersebut, Alex pun turut mengundang 3 mitra bisnisnya yang sudah merasakan bagimana sistem franchise milik Crispyku Fried Chicken. Alex mengklaim bahwa ketiga mitranya mengungkapkan kepuasan selama ini di depan mahasiswa Jepang.

“Mereka puas sekali. Ada yang keuntungannya Rp 10 juta per bulan, ada yang Rp 15 juta per bulan, ada yang Rp 5 juta per bulan. Mereka happy sekali. Ada yang bisa beli mobil, ada yang nyicil rumah,” ungkap Alex.

Namun, uniknya, Alex mengaku tak tahu mengapa merek waralabanya tersebut bisa dipilih oleh mahasiswa Jepang sebagai objek studi kasus. Pasalnya, Alex mengaku sama sekali tak mendapatkan informasi dari pihak perantara seperti Kementerian Perdagangan atau semacamnya.

“Kalo dari kementerian kan harusnya (misal) Kementerian Perdagangan menghubungi saya dulu dong. Nah, ini tapi gak ada. Jadi, yang ada mereka (mahasiswa) menghubungi saya. Dari mahasiswa sini,” kisah Alex.

Pria yang pernah meraih Anugerah Wirausaha Indonesia (AWI) 2015 silam ini justru beranggapan bahwa ditunjuknya Crispyku Fried Chicken oleh Chuo University tak terlepas dari kepemilikan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) yang sudah dimiliki mereknya.

“Kalo saya punya feeling, karena saya punya STPW, Surat Tanda Pendaftaran Waralaba. Jadi kita dipilih. Atau dia liat dari internet, seperti itu bisa juga,” ungkapnya.

Yang pasti, Alex mengaku cukup bangga karena merek waralabanya telah dipilih oleh mahasiswa Jepang yang mengambil pendidikan ekonomi tersebut. “Cukup banggalah kita bisa dipilih ‘kan,” ungkap Alex.

Sebagai informasi, mahasiswa asal Chuo University Jepang yang bertamu ke Crispyku Fried Chicken turut didampingi oleh seorang penerjemah. Adapun Alex menjabarkan berbagai sistem franchise yang diterapkan oleh mereknya selama hampir tiga jam, yakni sekitar pukul 14.00-17.00 WIB.

“Jadi studi kasus, dia (mahasiswa) mau mengetahui bagaimana sistem franchise yang ada di Indonesia. Prinsipnya seperti apa, manajemen seperti apa, SOP seperti apa. Adakah dari pemerintah membantu dalam hal pinjaman, misalkan. Adakah ikut pameran-pameran. Apakah training si mitranya, kunjungannya berapa kali dalam setahun. Bagaimana kita memulai usaha ini,” ungkap Alex. Dalam kesempatan tersebut, ada juga sesi tanya jawab dan makan bersama.

Crispyku Fried Chicken sendiri bukan pemain baru dalam ceruk pasar waralaba ayam goreng di Indonesia. Merek satu ini sudah beroperasi sejak 2010 dan kini sudah memiliki 700 gerai yang tersebar secara nasional. Berbagai penghargaan pun sudah disematkan kepada merek satu ini, seperti AWI 2015, Startup Award 2016, Startup Business Market Leader 2016, Rising Business Award 2017, dan The Most Promising Brand Franchise & Business Opportunity 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.