Nanas Madu Subang Merambah Pasar Ekspor

0
1200

Ucu Supriadi atau lebih akrab disapa Ucu mengawali usahanya sebagai keluarga petani nanas madu Subang. Melihat potensi buah nanas madu Subang yang besar membuat Ucu memutuskan untuk meneruskan budidaya nanas madu di lahan yang sudah dimiliki keluarganya. Lahan tersebut berada tak jauh dari rumahnya di kampung Jabong, Curugrendeng Jalancagak Subang Jawa Barat.

Ucu melakukan budidaya nanas madu di lahan seluas 1,5 hektar yang ditanaminya sebanyak 40.000 tanaman nanas madu. Karena lahan milik pribadi Ucu tak perlu membayar sewa lahan. Dalam memulai usahanya Ucu melengkapi peralatan taninya dengan arit, cangkul, kaos tangan dan golong yang ia beli di pasar sekitar rumah.

Nanas Madu. Jenis nanas yang banyak dibudidayakan di daerah Subang Jawa Barat adalah jenis nanas madu Subang. Jenis ini adalah smooth cayenne  yaitu nanas Subang yang memiliki daun dan mahkota yang halus, sedikit berduri (bahkan tidak berduri), buah besar serta mata buahnya yang cenderung datar.

Bagi masyarakat Subang pada umumnya buah bermahkota ini memiliki julukan si madu karena cita rasa nanas yang sangat manis. Nanas madu Subang terbilang istimewa karena memiliki ukuran yang lebih besar ketimbang nanas madu asal Pemalang yang memiliki ukuran lebih mungil.

Kelebihan dari nanas madu Subang dibandingkan dari nanas madu jenis lain, antara lain lebih tahan lama (tidak cepat busuk atau layu), memiliki kadar air yang banyak dan memiliki rasa lebih manis semanis madu. Kelebihan tersebut terdapat pada nanas yang dipanen dengan tingkat kematangan sekitar 90% dengan ciri-ciri buah nanas yang baik seperti warna dominan hijau dengan 30% warna kuning kemerahan, memiliki panjang sekitar 20 cm dengan lebar diameter sekitar 12 cm, memiliki berat 1-2,5 kg per buah. Karena kelebihan itu, Ucu memilih membudidayakan jenis nanas madu Subang. “Nanas Subang ini bisa mencapai bobot hingga 2,5 kg per buah, ada butiran madu di dalam nanasnya,” ucap Ucu.

Produk dan Harga. Ucu mematok nanas madu Subang dengan harga Rp 3.500 per kg untuk kelas super berbobot 2 kg – 2,5 kg, sedangkan nanas madu super lainnya yang memiliki berat 1 kg – 1,5 kg dibanderol dengan harga Rp 3 ribu per kg. Dalam menjual nanasnya kepada konsumen Ucu memberikan minimum order sebanyak dua kwintal untuk permintaan yang datang dari pasar lokal dan pengepul.

Dalam pengemasan, Ucu hanya menggunakan keranjang bambu yang diisi jerami. Agar dalam pengiriman nanas tidak terjatuh di bagian atas kerangjang ditutup kembali menggunakan anyaman bambu.

Pemasaran. Pertama kali Ucu melakukan pemasaran melalui pasar-pasar tradisional lokal di daerah Jalan Cagak, Subang, Jawa Barat. Seiring berjalannya waktu, nanas madu hasil budidaya Ucu mulai dikenal oleh masyarakat Subang. Berkat rasa manis yang dimiliki nanas madu Subang lambat laun promosi yang dilakukan Ucu mulai menyebar hingga Jakarta dan seluruh wilayah Indonesia. Bahkan belakangan ini nama nanas madu Subang tak asing lagi di telinga masyarakat dalam negri. Nanas madu Subang kini juga telah mampu menembus pasar ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia.

Nanas madu Subang yang akan diekspor harus memenuhi klasifikasi maupun persyaratan, di antaranya adalah jenis yang berasal dari kelas dengan kualitas super (tingkat kematangan sekitar 90% dengan ciri-ciri buah nanas yang baik seperti warna dominan hijau dengan 30% warna kuning kemerahan, memiliki panjang sekitar 20 cm dengan lebar diameter sekitar 12 cm). Namun untuk berat nanas super yang diterima pasar ekspor adalah 1,5 – 2 kg per buah.

Sedangkan nanas yang dijual di pasar lokal  berupa nanas kualitas super dengan berat  sekitar 1-1,5 kg. Dengan mengekspor nanas madunya maka tak heran Ucu dapat meraup omset hingga Rp 20 juta per bulan dengan keuntungan sebesar 72,5%. Dalam sebulan Ucu mampu menjual hingga 5 ribu buah nanas dengan sistem pembayaran secara cash (tunai) dan untuk pengiriman ke luar daerah ongkos kirim ditanggung oleh konsumen sebesar 50% dengan minimal pembelian 4 ton.

Di dalam kota Subang sendiri Ucu biasa memasok buah nanasnya ke berbagai pasar tradisonal lokal yang berada di seluruh Subang. Untuk pengiriman nanas madu ke pasar ekspor, Ucu mengemasnya dengan menggunakan pendingin cooler (peti kemas berpendingin) agar awet dan tidak mudah busuk saat dikirim, sedangkan daya tahan nanas madu Subang bisa selama 1-2 bulan di tempat yang sejuk.

Prospek. Prospek budidaya nanas madu ke depan sangat bagus, dengan besarnya perhatian pemerintah terhadap para petani nanas khususnya di Kabupaten  Subang. Menurut pria kelahiran Jabong II, 11 Juni 1951 ini nanas madu Subang bisa manis dengan adanya butiran madu yang kental di daging nanas dengan membudidayakan secara alami dengan membutuhkan waktu 24 bulan lebih. “Selain alami ada sistem entrel yaitu mempercepat masa panen yang alami dengan pemberian pupuk NPK, dengan pemberian pupuk tersebut masa panen bisa lebih cepat menjadi 10 bulan,” jelas Ucu.

Kini untuk menjalankan usahanya, Ucu dibantu oleh satu orang karyawan yang dibayar Rp 30 ribu per setengah hari. Karyawan Ucu bertugas untuk melakukan kegiatan teknis dalam budidaya nanas Subang, misalnya menyiangi rumput.

Kendala Usaha. Salah satu kendala utama dalam membudidayakan tanaman ini adalah rumput liar atau gulma. Dalam menanggulangi kendala tersebut dan juga sekaligus menjadi salah satu rahasia para petani nanas di daerah Subang ini adalah pada teknik pembuangan rumput atau gulma.

Terdapat dua teknik yang dibedakan menurut musimnya, yaitu ketika musim hujan seluruh rumput atau gulma dapat dicabut dan diletakkan di atas tanaman, hal ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari air hujan dan menjaga kadar air dalam tanah. Sebaliknya pada saat musim kemarau, seluruh rumput atau gulma yang dicabut diletakkan di dasar tanaman menutupi akar, hal ini bertujuan untuk menjaga kelembaban dan kadar air dalam tanah,” ujar Ucu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.