Pentingnya Pelayanan Prima dalam Usaha

0
104
Pelayanan (kompasiana.com)

 

Suatu hari saya bersama keluarga mampir ke sebuah warung sate di bilangan Cikampek. Warung ini, ketika liburan tiba apalagi ketika long week end, memang sering diantre pengunjung. Bahkan hampir bisa dipastikan tidak ada bangku kosong lebih-lebih ketika datang waktu makan siang tiba.

Paling tidak butuh waktu sekitar setengah jam untuk bisa mendapatkan tempat duduk dan memesan makanan yang akan kami nikmati bersama. Dan butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa menikmatinya. Itu pun dengan sajian yang tidak lengkap dan sesuai dengan pesanan kami.

Waktu itu ada sekitar 4 menu makanan yang kami pesan atau kami pilih untuk dinikmati berlima, plus minuman pilihan masing-masing. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan pun datang. Minuman sudah terhidang sesuai order di depan kami. Sayangnya, menu makanan yang kami pesan, terhidang tidak lengkap. Menu utama memang ada, tapi menu tambahan berupa karedok tidak sekalian diantar.

Awalnya kami berniat menunggu, tapi karena khawatir kehilangan kelezatan Sate Maranggi hangat yang sudah ada didepan mata dan tinggal kami santap, kami pun mulai makan dengan harapan, menu lainnya yaitu karedok yang kami pesan dapat diantar kemudian. Sesekali kami menegur pramusaji yang lewat untuk segera menghidangkan karedok yang kami pesan. Sayangnya, sampai semua menu utama yang ada di atas meja tandas, sang karedok pun tak juga muncul.

Kami pun memutuskan untuk menyudahi makan siang itu, dan bergegas menuju kasir. Ternyata, soal pesanan yang salah atau tidak diantar bukan cuma menimpa kami. Beberapa orang pengunjung lain pun mengalami hal serupa. Pesanan tidak diantar, entah karena pramusaji lupa atau juru masak terlambat menyiapkan pesanan, merupakan kejadian biasa di sini dan sudah lumrah.

Dalam terminologi pelayanan prima, ini jelas-jelas melanggar pakem yang sudah ada. Teorinya menyebutkan, mereka yang tidak baik melayani pelanggan cepat atau lambat akan ditinggalkan pelanggannya. Dan pastinya usaha tersebut akan mengalami kebangkrutan usaha karena tidak ada pelanggan yang datang kesana.

Benarkah demikian? Ternyata tidak juga. Ini bukan kejadian pertama di sini. Hampir setiap kali melalui warung ini, saya selalu mampir untuk mencicipi sate yang memiliki rasa sangat istimewa ini. Dan, bisa jadi ini juga dilakukan oleh banyak pelanggan lain di sini. Bertahun-tahun menikmati sate di sini, saya tidak pernah menjumpai warung ini dalam keadaan sepi pengunjung. Bahkan, area warung yang berada di tengah perkebunan karet, tampak cenderung semakin luas.

Buktinya, masih ada saja orang-orang yang rela antre untuk dapat menikmati sajian sate Maranggi yang nikmat dan lezat. Masih ada saja orang-orang yang rela mendapat layanan tidak prima yang diberikan oleh pemilik usaha. Untuk satu produk istimewa dengan rasa tiada dua. Walau tidak bisa dipukul rata, masih ada warung-warung istimewa, yang mampu membuat pelayanan prima hanya jadi mitos belaka.

 

Oleh: Zainal Abidin

Pengusaha, Pelatih Wirausaha, Penulis Buku,

dan Headmaster Sekolah Monyet

Email: [email protected]

Website: www.zainalabidin.net, www.sekolahmonyet.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.