Kunci Sukses adalah Sabar dan Gigih (Bagi 1)

0
532
Kunci Sukses (dok koinworks.com)

Berbicara mengenai kegigihan dan kesabaran, saya teringat dengan sebuah film yang pernah saya saksikan yang berjudul ”Door to Door”. Film ini sebenarnya kisah nyata kehidupan seorang pengidap Cerebral Palsy. Saraf pipi kanannya bermasalah. Sehingga, ketika berbicara dia agak susah.

Tangan kanannya tidak berfungsi dengan baik. Dan ketika berjalan agak sedikit membungkuk. Namun meskipun seperti itu, dia mampu menjadi top salesman di perusahaan Watkins. Dia menjadi salesman of the year. Lelaki itu bernama Bill Porter. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk menyaksikan film ini.

Pesan Sang Ibu. Film ini bermula seorang lelaki yang mengenakan baju kemeja berdasi hitam dan jas agak kecokelatan. Dia berdiri di depan cermin memastikan bajunya rapi. Karena, dia mau mempersiapkan diri untuk melamar kerja sebagai salesman di sebuah perusahaan kebutuhan rumah tangga. Lalu ibunya menghampiri mengingatkannya, ”Butuh waktu sedikit lama bagi orang untuk mengenalmu. Oleh karena itu, bersabarlah dan gigih,” kata ibunya.

Kemudian mereka berangkat ke kantor yang dituju. Setibanya di sana, ibu lelaki cacat ini menunggu anaknya sambil membaca koran di dalam mobil. Sementara lelaki yang mengenakan jas cokelat ini melangkah masuk ke dalam. Setibanya di kantor dia bertemu dengan sang manager.

Sang manager mengemukakan tentang aktivitas para salesman. ”Membawa tas berat yang isinya produk yang harus mereka jual. Terkadang bukan hanya satu. Tetapi ada juga yang membawa dua tas. Mereka berjalan antara satu rumah ke rumah yang lain. Sungguh, melihat kondisimu, rasanya agak sulit. Dan aku rasa kamu mengerti apa yang aku katakan. Maafkan aku,” kata sang manager menolak Bill Porter menjadi salesman di perusahaannya.

Kemudian Bill keluar kantor dengan wajah menunduk, perasaannya diselimuti kecewa. Saat dia berdiri di depan pintu kantor Watkins, dia melihat dari kejauhan ibunya yang berdiri di samping mobil sambil membaca koran. Garis-garis wajahnya terpancar harapan agar anaknya mendapat pekerjaan. Bill berhenti melangkahkan kakinya sejenak dan memikirkan sesuatu. Lalu, dia memutar arah masuk kembali ke kantor menjumpai manager.

Saya Pantas Jadi Salesman. Skin ini bagi saya sungguh bermakna. Karena, keputusannya menjumpai kembali sang manager menunjukkan kegigihan dalam dirinya untuk berhasil. Bukan hanya itu, keahliannya melobi agar pantas menjadi salesman di Watkins, membuktikan bahwa dia pantas menjadi salesman.

Simak kata-katanya untuk meyakinkan manager. ”Tuan Hernandez,” Bill menyapa. ”Berikan aku rute terburukmu. Berikan aku area yang tak seorang salesman pun mau ke sana. Apa ruginya bagimu? Jika aku bisa menjualnya, kamu menjadi pahlawan.” Dia berkata sambil tangan kiri menyapu pipi kirinya dengan sapu tangan.

Tuan Porter,” kata sang manager. ”Jujur saja, ini pekerjaan yang sangat membutuhkan kekuatan fisik. Dan kau ini lumpuh. Aku tidak bisa melihat bagaimana...,” tuan Hernandez terdiam, lalu mengatakan ”Apa?” karena seorang wanita pegawai Watkins yang berdiri di samping kanannya menginjak kakinya. Sembari membuat isyarat agar si manager memikirkan kembali. Akhirnya Bill Porter diterima menjadi salesman hari itu dan membawa sebuah tas yang berisi produk Watkins.

Perjuangan Baru Dimulai. Ibu Bill mengantar putranya ke rute yang telah ditentukan menggunakan mobil tuanya. Sampai di tujuan, Bill diturunkan di area komplek perumahan. Kata-kata Ibu Bill Porter, sungguh berkesan bagi saya. Dan saya menjadikan acuan dalam berjualan. “Jadi apa yang kamu tunggu? Mengharap pelanggan mendatangimu ke mobil? Ayo mulai jualan,” kata ibunya.

Kemudian Bill menyusuri perumahan sambil menenteng tas berisi produk Watkins di tangan kirinya. Dia berjalan terseok-seok. Tibalah di rumah pertama. Saat dia hendak mengetuk pintu, bukannya pemilik rumah yang menghampiri. Akan tetapi, seekor anjing besar terikat rantai di leher menggonggonginya dan membuat Bill berlari bersusah payah.

Pengalaman pertama ini tidak menyusutkan semangatnya. Bill kemudian menghampiri rumah kedua dan dibuka oleh seorang pria berbadan besar mengenakan baju tidur masih dalam keadaan mabuk. Pria ini membanting pintu begitu ia mulai mengenalkan dirinya. “Semacam orang peminta-minta,” kata laki-laki itu kepada perempuan yang berteriak “Siapa itu?!” dari dalam.

Hal ini tidak membuat Bill menyerah. Dia melanjutkan ke rumah selanjutnya. Di rumah ketiga, ia belum sempat bicara, penghuni malah meninggalknya.  Sebab penghuni rumah memulai pertengkaran dengan tetangganya lantaran pohon kesayangan tetangganya merusak atap rumah mereka.

Sabar dan Gigih. Sang matahari pun semakin menunjukkan kepanasannya berada tepat di atas ubun-ubun. Namun, Bill belum berhasil menjual dagangannya satu pun. Kemudian dia memutuskan istirahat di taman komplek perumahan area prospeknya. Dia duduk di kursi panjang dan membuka bekal makan siang yang telah dipersiapkan oleh perusahaan Watkins.

Nafasnya terengah-engah akibat kelelahan berjalan antara satu rumah ke rumah yang lain. Bill mengambil roti berlapis sayuran dan daging. Saat hendak memasukkan roti tersebut ke mulutnya, dia membaca kata berukiran saus tomat berwarna merah ”Patient” (Kesabaran). Lalu dia membalikkan sisi satunya lagi, di sana tertulis ”Persistence (Kegigihan).

Ia tersenyum ketika membacanya. Ia tahu, pasti ibunya yang telah menuliskan kata-kata itu di sana. Ia masih ingat, ibunya sempat berkata, “Pasti membutuhkan waktu bagi orang-orang untuk mengenalimu. Tapi ingat: sabarlah dan gigih (patient and persistence) anakku.” (Bersambung)

 

Oleh:

Rahmadsyah, Mind-Therapist

Mind-Talks Training & Consulting

Certified Hypnotherapy from IBH

Certified Personal Coach from Krishnamurti

Certified Master Practitioner NLP from NF-NLP Florida

Web: www.rahmadsyah.com

Email: rahmadnlp@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.