Masih Muda Bukan Alasan Menunda Dana Pensiun, Ini yang Sering Terjadi

0
13
Masih Muda Bukan Alasan Menunda Dana Pensiun, Ini yang Sering Terjadi
Masih Muda Bukan Alasan Menunda Dana Pensiun, Ini yang Sering Terjadi (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Menunda Dana Pensiun merupakan kebiasaan yang cukup mudah terjadi ketika seseorang merasa masa pensiun masih sangat jauh. Usia masih muda, penghasilan masih aktif, kebutuhan sehari-hari terus bertambah, dan ada banyak target yang dianggap lebih mendesak. Akibatnya, persiapan untuk kehidupan setelah berhenti bekerja sering ditempatkan paling belakang.

Kalau dilihat dari sudut pandang Berempat.com, kebiasaan menyiapkan dana pensiun yang terus tertunda tidak selalu berarti seseorang mengabaikan masa depannya. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, mulai dari kondisi keuangan saat ini, kebutuhan keluarga yang lebih mendesak, cara seseorang memandang masa depan, hingga belum memahami pilihan instrumen untuk mempersiapkan pensiun.

Padahal, waktu merupakan salah satu komponen penting dalam perencanaan pensiun. Semakin panjang periode menabung dan berinvestasi, semakin banyak waktu yang tersedia untuk membangun dana secara bertahap.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa persoalan ini memang masih menjadi tantangan. Dalam Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Dana Pensiun Indonesia 2024–2028, OJK mencatat tingkat densitas industri dana pensiun pada akhir 2023 baru mencapai 18,94% dari 147,7 juta angkatan kerja. Artinya, kepesertaan program dana pensiun masih memiliki ruang yang sangat besar untuk diperluas.

PT Mitra Mortar indonesia

OJK juga mencatat hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2022. Tingkat literasi dana pensiun berada di 30,5%, sedangkan tingkat inklusinya hanya 5,42%.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa memahami konsep dana pensiun dan benar-benar memiliki produk atau program pensiun merupakan dua hal yang berbeda.

Merasa Pensiun Masih Terlalu Jauh

Alasan paling sederhana adalah persepsi terhadap waktu.

Seseorang yang berusia 25 atau 30 tahun mungkin merasa usia pensiun masih puluhan tahun lagi. Karena itu, dana pensiun terasa seperti kebutuhan yang belum mendesak.

Masalahnya, keputusan finansial jangka panjang justru membutuhkan waktu.

Misalnya seseorang baru mulai menyisihkan uang pada usia 45 tahun. Waktu yang tersedia tentu jauh lebih pendek dibandingkan seseorang yang mulai pada usia 25 tahun.

Bukan berarti orang yang terlambat memulai tidak memiliki kesempatan. Hanya saja, kebutuhan menabung bulanannya bisa menjadi lebih besar karena periode persiapannya lebih singkat.

Menunda selama satu atau dua tahun mungkin terlihat kecil. Jika kebiasaan tersebut berlangsung selama belasan tahun, dampaknya bisa berbeda.

Penghasilan Sekarang Terasa Lebih Penting

Ketika pendapatan bulanan masih terbatas, kebutuhan yang terlihat di depan mata biasanya menang.

Ada biaya rumah tangga, cicilan, pendidikan anak, kendaraan, biaya kesehatan, hingga kebutuhan membantu orang tua. Dana pensiun yang manfaatnya baru terasa bertahun-tahun kemudian akhirnya kalah prioritas.

Kondisi tersebut cukup masuk akal.

Namun, masalah muncul ketika dana pensiun selalu ditempatkan setelah semua kebutuhan lain selesai. Jika menunggu sampai memiliki “uang sisa”, belum tentu uang tersebut benar-benar tersedia.

Pendekatan yang lebih realistis adalah memasukkan persiapan pensiun sebagai salah satu pos keuangan sejak awal.

Tidak harus langsung besar.

Yang penting adalah membangun kebiasaan menyisihkan dana secara konsisten dan kemudian meningkatkan jumlahnya seiring pertumbuhan penghasilan.

Takut Tidak Bisa Menikmati Uang Sekarang

Ada pula alasan psikologis yang lebih sederhana: seseorang ingin menikmati hasil kerja saat masih muda.

Menabung terlalu banyak untuk masa depan dapat dianggap mengurangi kesempatan menikmati kehidupan sekarang.

Ini bukan persoalan benar atau salah. Perencanaan keuangan memang perlu mempertimbangkan kualitas hidup saat ini.

Yang menjadi masalah adalah ketika seluruh pendapatan digunakan untuk konsumsi tanpa menyisakan ruang bagi kebutuhan jangka panjang.

Keseimbangan bisa dibangun dengan membagi pendapatan ke beberapa tujuan:

  • Kebutuhan sehari-hari.
  • Dana darurat.
  • Perlindungan seperti asuransi yang sesuai kebutuhan.
  • Tujuan jangka menengah.
  • Dana pensiun.
  • Hiburan dan gaya hidup.

Dengan pembagian tersebut, persiapan masa depan tidak harus berarti menghentikan seluruh pengeluaran untuk menikmati kehidupan sekarang.

Tidak Tahu Berapa Dana yang Sebenarnya Dibutuhkan

Sebagian orang Menunda Dana Pensiun karena tidak tahu harus mengumpulkan berapa.

Target yang terlalu abstrak memang sulit membuat seseorang bergerak.

“Harus punya dana pensiun” terdengar bagus, tetapi belum memberikan gambaran konkret.

Coba ubah menjadi pertanyaan yang lebih spesifik:

Berapa biaya hidup yang dibutuhkan setiap bulan setelah pensiun?

Misalnya pengeluaran saat ini Rp8 juta per bulan. Setelah pensiun, sebagian biaya mungkin hilang, tetapi biaya lain seperti kesehatan bisa meningkat.

Karena itu, perhitungan tidak cukup hanya menggunakan pengeluaran saat ini. Perlu dipikirkan juga:

  • Usia ketika berhenti bekerja.
  • Perkiraan usia harapan hidup.
  • Biaya hidup setelah pensiun.
  • Inflasi.
  • Aset yang sudah dimiliki.
  • Pendapatan pasif yang mungkin tersedia.
  • Program pensiun dari perusahaan.
  • Investasi atau tabungan yang dimiliki.

BPS mencatat umur harapan hidup bayi yang lahir di Indonesia pada 2024 mencapai 74,15 tahun. Angka ini merupakan indikator populasi, bukan ramalan usia seseorang secara individual, tetapi tetap menunjukkan bahwa masa hidup setelah usia pensiun dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Artinya, dana pensiun tidak hanya perlu cukup untuk beberapa tahun setelah berhenti bekerja.

Terlalu Mengandalkan Pensiun dari Perusahaan

Karyawan terkadang merasa persiapan pensiun sudah otomatis beres karena perusahaan menyediakan program pensiun atau jaminan sosial.

Program tersebut memang dapat menjadi bagian penting dari persiapan. Namun, kebutuhan setiap orang berbeda.

Seseorang yang memiliki cicilan rumah, tanggungan keluarga, atau gaya hidup tertentu mungkin membutuhkan sumber dana tambahan setelah tidak lagi menerima gaji aktif.

Karena itu, penting untuk mengetahui dengan jelas:

  • Apakah perusahaan memiliki program pensiun?
  • Berapa iuran yang dibayarkan?
  • Berapa lama kepesertaan?
  • Bagaimana manfaatnya dihitung?
  • Kapan manfaat dapat diterima?
  • Apakah ada sumber dana pensiun lain?

Dengan memahami jawabannya, seseorang bisa mengetahui apakah masih ada kekurangan yang perlu dipersiapkan secara mandiri.

Menunda Dana Pensiun karena Merasa Belum Punya Uang

Ini adalah alasan yang sangat umum.

Ketika penghasilan pas-pasan, menyisihkan uang untuk kebutuhan 20 atau 30 tahun mendatang memang terasa sulit.

Namun, menunggu sampai penghasilan “cukup” juga bisa menjadi jebakan. Penghasilan meningkat, tetapi kebutuhan biasanya ikut berkembang.

Karena itu, jumlah awal tidak harus spektakuler.

Misalnya seseorang mulai menyisihkan Rp300 ribu per bulan. Jumlah tersebut memang belum tentu cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pensiun. Tetapi kebiasaan tersebut menciptakan titik awal.

Ketika pendapatan meningkat, kontribusi dapat dinaikkan menjadi Rp500 ribu, Rp1 juta, atau lebih sesuai kemampuan.

Yang penting adalah targetnya berkembang bersama kondisi keuangan.

Cara Berhenti Menunda Dana Pensiun

Tidak perlu langsung membuat strategi yang rumit. Beberapa langkah berikut bisa menjadi awal:

1. Tentukan usia target pensiun

Tentukan perkiraan kapan ingin berhenti dari pekerjaan utama. Target tersebut dapat dievaluasi seiring waktu.

2. Hitung kebutuhan hidup

Buat perkiraan pengeluaran bulanan setelah pensiun dengan memasukkan kebutuhan pokok, kesehatan, tempat tinggal, dan aktivitas lainnya.

3. Inventarisasi aset

Catat tabungan, investasi, properti, program pensiun perusahaan, maupun sumber pendapatan pasif lainnya.

4. Mulai dari nominal yang realistis

Jangan membuat target terlalu besar sampai akhirnya tidak mampu konsisten.

5. Naikkan kontribusi secara berkala

Ketika mendapatkan kenaikan gaji, bonus, atau penghasilan tambahan, sebagian dapat dialokasikan untuk meningkatkan dana pensiun.

6. Evaluasi setiap tahun

Target pensiun bukan angka yang dibuat sekali lalu dilupakan. Kondisi penghasilan, keluarga, inflasi, dan tujuan hidup dapat berubah.

Pensiun Bukan Berarti Berhenti Menghasilkan Uang

Persiapan pensiun juga tidak selalu berarti seseorang harus berhenti memperoleh penghasilan sepenuhnya.

Sebagian orang mungkin tetap ingin bekerja paruh waktu, menjalankan bisnis kecil, menjadi konsultan, menyewakan aset, atau memperoleh penghasilan dari investasi.

Namun, sebaiknya pilihan tersebut menjadi opsi, bukan satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.

Inilah alasan pentingnya membangun sumber daya finansial sebelum masa kerja berakhir.

Dana pensiun memberikan ruang untuk menentukan pilihan dengan lebih leluasa. Seseorang bisa tetap bekerja karena memang ingin bekerja, bukan semata-mata karena tidak memiliki alternatif.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan