Top Mortar tkdn
Home Bisnis Jangan Asal Masukkan ke Kardus, Ini Cara Packing Barang yang Lebih Aman!

Jangan Asal Masukkan ke Kardus, Ini Cara Packing Barang yang Lebih Aman!

0
Jangan Asal Masukkan ke Kardus, Ini Cara Packing Barang yang Lebih Aman! (Foto Ilustrasi)

Barang sudah terjual, alamat penerima sudah lengkap, tinggal dikirim. Namun, satu hal yang sering dianggap sepele justru bisa menentukan pengalaman pelanggan: Cara Packing Barang. Kemasan yang terlalu longgar dapat membuat isi bergeser, sementara penggunaan bahan yang tidak sesuai bisa meningkatkan risiko barang rusak selama perjalanan. Bagi pelaku usaha online, memahami Cara Packing Barang dengan benar berarti menjaga produk sekaligus menjaga kepercayaan pembeli.

Di Berempat.com, kami melihat urusan packing sebagai bagian dari operasional bisnis yang sering luput dari perhatian. Padahal, pelanggan tidak hanya menilai produk ketika paket dibuka. Kondisi kardus, perlindungan barang, kebersihan kemasan, hingga apakah isi paket tiba dalam kondisi utuh ikut membentuk pengalaman mereka.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan aktivitas perdagangan melalui sistem elektronik terus menjadi bagian penting dalam ekonomi Indonesia. Dalam Statistik E-Commerce 2023, BPS memperkirakan terdapat 3.816.750 usaha yang melakukan kegiatan e-commerce pada 2022, atau sekitar 40,51% dari seluruh usaha yang dicakup dalam pendataan.

Semakin banyak bisnis berjualan melalui kanal digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap proses pengemasan dan pengiriman yang rapi.

Kenali Karakter Barang Sebelum Mulai Packing

Kesalahan pertama dalam packing biasanya terjadi karena semua barang diperlakukan dengan cara yang sama.

Produk pakaian tentu tidak membutuhkan perlindungan seperti gelas kaca. Barang elektronik membutuhkan perhatian terhadap benturan dan kelembapan. Produk cair membutuhkan pengamanan agar tidak bocor. Sementara makanan memiliki pertimbangan berbeda karena berkaitan dengan kebersihan dan ketahanan produk.

Sebelum mengambil kardus atau bubble wrap, tentukan terlebih dahulu karakter barang.

Beberapa pertanyaan yang bisa digunakan:

  • Apakah barang mudah pecah?
  • Apakah barang bisa berubah bentuk?
  • Apakah produk sensitif terhadap air?
  • Apakah terdapat bagian yang mudah tergores?
  • Apakah barang memiliki sudut atau komponen yang mudah patah?
  • Berapa berat dan ukuran produk?
  • Apakah barang membutuhkan kemasan kedap udara?

Jawaban tersebut akan menentukan jenis bahan pelindung yang dibutuhkan.

Untuk barang yang mudah pecah, misalnya, ruang kosong di dalam kardus sebaiknya diminimalkan. Jika barang dapat bergerak bebas ketika kardus diguncang, ada kemungkinan benturan terjadi selama proses pengiriman.

Pilih Ukuran Kardus yang Sesuai

Kardus yang terlalu besar memang terlihat aman karena memberikan banyak ruang. Kenyataannya, ruang kosong yang berlebihan dapat membuat produk bergerak selama perjalanan.

Sebaliknya, kardus yang terlalu kecil juga berisiko menekan produk atau membuat lapisan pelindung tidak bekerja maksimal.

Idealnya, pilih kemasan yang memberikan ruang cukup untuk menempatkan perlindungan di sekeliling barang.

Untuk produk tertentu, gunakan lapisan seperti bubble wrap, foam, kertas kraft, atau material bantalan lainnya. Jangan hanya membungkus bagian luar barang. Area yang paling rentan terkena benturan juga perlu mendapatkan perlindungan tambahan.

Dalam Cara Packing Barang, prinsip sederhananya adalah memastikan produk tetap stabil di dalam kemasan.

Coba lakukan simulasi kecil sebelum paket ditutup. Gerakkan kardus secara perlahan. Jika terdengar atau terasa barang bergeser, tambahkan bahan pengisi.

Jangan Lupakan Bagian yang Sering Rusak

Ada beberapa bagian paket yang sering dianggap tidak penting, padahal justru menentukan keamanan pengiriman.

Salah satunya adalah sudut barang.

Untuk produk seperti peralatan rumah tangga, elektronik, atau barang berbentuk kotak, sudut dapat menjadi titik yang menerima tekanan ketika paket tertumpuk dengan barang lain.

Bagian lain yang perlu diperhatikan adalah permukaan produk. Barang dengan permukaan mengilap, kaca, atau material yang mudah tergores sebaiknya memiliki lapisan pemisah sebelum dimasukkan ke dalam kardus.

Untuk barang cair, gunakan pengamanan berlapis. Tutup produk harus dipastikan rapat, kemudian gunakan plastik atau pembungkus tambahan sebagai perlindungan apabila terjadi kebocoran.

Dengan demikian, satu lapisan kemasan tidak menjadi satu-satunya pertahanan.

Gunakan Metode Packing Sesuai Jenis Produk

Tidak ada satu teknik packing yang cocok untuk semua barang.

  1. Pakaian dan tekstil biasanya relatif mudah dikemas. Produk dapat dilipat rapi, dimasukkan ke dalam plastik pelindung, lalu menggunakan polymailer atau kardus sesuai kebutuhan.
  2. Barang pecah belah membutuhkan perlindungan lebih serius. Setiap bagian sebaiknya dibungkus secara individual. Ruang kosong kemudian diisi dengan material pelindung agar produk tidak saling berbenturan.
  3. Elektronik membutuhkan perhatian terhadap benturan dan kelembapan. Jika tersedia, gunakan kemasan asli produk sebagai lapisan pertama, kemudian berikan perlindungan tambahan pada bagian luar.
  4. Produk cair perlu diamankan dari kemungkinan tutup terbuka. Penggunaan plastik pelindung tambahan dapat membantu mencegah cairan mengenai produk lain apabila terjadi kebocoran.
  5. Makanan perlu memperhatikan jenis produknya. Produk kering tentu memiliki kebutuhan kemasan berbeda dengan makanan yang mudah rusak atau membutuhkan pengendalian suhu.

Itulah sebabnya Cara Packing Barang sebaiknya dimulai dari memahami produk, bukan sekadar memilih kardus.

Tutup Paket dengan Benar

Setelah barang berada di dalam kardus, jangan langsung menganggap proses packing selesai.

Gunakan selotip yang cukup kuat dan pastikan bagian sambungan kardus tertutup dengan baik. Untuk paket yang cukup berat, penguatan pada bagian bawah kardus menjadi penting karena area tersebut menanggung beban terbesar.

Teknik penutupan berbentuk huruf H pada bagian atas dan bawah kardus sering digunakan untuk membantu menutup sambungan utama. Untuk paket berat, penguatan tambahan dapat dipertimbangkan.

Jangan lupa memastikan label alamat tidak tertutup selotip secara berlebihan atau ditempatkan pada bagian yang mudah terlepas.

Alamat yang jelas membantu mengurangi risiko kesalahan dalam proses distribusi.

Foto Paket Sebelum Diserahkan ke Kurir

Satu kebiasaan sederhana yang layak diterapkan oleh penjual online adalah mendokumentasikan paket sebelum dikirim.

Foto dapat memperlihatkan kondisi kemasan, label pengiriman, dan bentuk paket ketika masih berada di tangan penjual.

Dokumentasi ini berguna untuk pencatatan internal. Jika terjadi komplain terkait kondisi paket, penjual memiliki bukti mengenai kondisi barang sebelum diserahkan kepada pihak logistik.

Untuk bisnis yang mengirim puluhan atau ratusan paket per hari, dokumentasi bahkan bisa menjadi bagian dari prosedur operasional standar.

Selain foto, simpan juga nomor resi dan informasi pesanan.

Dengan begitu, proses penelusuran ketika terjadi masalah menjadi lebih mudah.

Packing yang Baik Bisa Menjadi Bagian dari Pengalaman Pelanggan

Kemasan bukan sekadar pelindung selama perjalanan. Bagi bisnis online, kemasan juga menjadi titik pertama interaksi fisik antara pelanggan dengan produk.

Kardus yang rapi, barang terlindungi, produk tidak kotor, dan isi sesuai pesanan dapat memberikan kesan bahwa penjual memperhatikan detail.

Sebaliknya, kemasan yang asal-asalan bisa membuat pelanggan mempertanyakan kualitas bisnis meskipun produknya sebenarnya bagus.

Karena itu, Cara Packing Barang perlu dibuat konsisten. Tentukan standar berdasarkan kategori produk, jenis kemasan, material pelindung, metode penyegelan, dan dokumentasi sebelum pengiriman.

Bisnis tidak harus selalu menggunakan kemasan mahal. Yang lebih penting adalah kemasan tersebut sesuai dengan karakter produk dan mampu memberikan perlindungan yang memadai.

Exit mobile version