Cicilan KPR Terasa Berat, Haruskah Mengurangi Pengeluaran atau Menambah Penghasilan?

0
47
Cicilan KPR Terasa Berat, Haruskah Mengurangi Pengeluaran atau Menambah Penghasilan?
Cicilan KPR Terasa Berat, Haruskah Mengurangi Pengeluaran atau Menambah Penghasilan? (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Ketika Cicilan KPR Terasa Berat, masalahnya sering kali bukan karena cicilan rumah berdiri sendirian, melainkan karena terlalu banyak kebutuhan lain yang harus hidup dari penghasilan yang sama. Setelah gajian, ada cicilan KPR, listrik, internet, transportasi, belanja rumah tangga, kebutuhan anak, tabungan, hingga pengeluaran tak terduga. Jika semuanya berjalan bersamaan, ruang gerak keuangan memang bisa terasa semakin sempit.

Di Berempat.com, kami melihat persoalan ini dari sisi yang cukup praktis: rumah memang merupakan aset penting, tetapi kemampuan mempertahankan cicilannya juga perlu dijaga. Jangan sampai seluruh penghasilan habis untuk mempertahankan rumah, sementara kebutuhan sehari-hari dan cadangan keuangan justru terabaikan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan patokan yang cukup jelas. Dalam materi edukasinya, OJK menyebut rasio cicilan idealnya maksimal 30% dari penghasilan bulanan. OJK juga menyarankan dana likuid minimal tiga kali pengeluaran bulanan serta alokasi minimal 10% penghasilan untuk menabung atau berinvestasi.

Angka 30% tersebut memang bukan aturan mutlak yang berlaku untuk semua rumah tangga. Kondisi setiap orang berbeda. Namun, angka tersebut dapat digunakan sebagai alarm awal untuk melihat apakah beban utang sudah terlalu besar.

PT Mitra Mortar indonesia

Hitung Ulang, Jangan Hanya Mengandalkan Perasaan

Ketika Cicilan KPR Terasa Berat, langkah pertama bukan langsung memangkas semua pengeluaran yang dianggap tidak penting. Mulailah dengan menghitung posisi sebenarnya.

Misalnya, seseorang memiliki penghasilan bersih Rp10 juta per bulan dan cicilan KPR Rp3 juta. Secara sederhana, cicilan tersebut sudah mengambil 30% penghasilan.

Jika masih ada cicilan kendaraan Rp1,5 juta dan pinjaman konsumtif Rp500 ribu, total kewajiban cicilan menjadi Rp5 juta atau 50% dari penghasilan.

Di atas kertas, kondisi tersebut terlihat jauh lebih berat daripada sekadar melihat cicilan KPR Rp3 juta.

Itulah sebabnya evaluasi perlu dilakukan terhadap total cicilan, bukan hanya KPR.

Buat daftar sederhana:

  • Penghasilan bersih bulanan.
  • Cicilan KPR.
  • Cicilan kendaraan.
  • Kartu kredit atau paylater.
  • Pinjaman lainnya.
  • Biaya kebutuhan pokok.
  • Pengeluaran rutin rumah.
  • Tabungan dan dana darurat.
  • Pengeluaran fleksibel.

Setelah semuanya ditulis, baru terlihat bagian mana yang benar-benar menguras arus kas.

Prioritaskan Rumah, tetapi Jangan Mengorbankan Semua Hal

Kesalahan yang cukup umum terjadi adalah menganggap cicilan KPR harus selalu menjadi satu-satunya prioritas setelah gajian.

Memang, kewajiban KPR harus dibayar tepat waktu. Namun, kesehatan keuangan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membayar cicilan.

Dana darurat tetap dibutuhkan. Kebutuhan pokok tetap harus terpenuhi. Biaya kesehatan, pendidikan, perawatan rumah, dan kebutuhan keluarga juga tidak bisa dihilangkan begitu saja.

OJK sendiri menggunakan dana likuid minimal tiga kali pengeluaran bulanan sebagai salah satu indikator kesehatan keuangan.

Karena itu, ketika Cicilan KPR Terasa Berat, jangan sampai seluruh uang ekstra digunakan untuk mempercepat pelunasan KPR sementara tabungan darurat kosong.

Keseimbangannya perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing.

Jika dana darurat belum terbentuk, membangun cadangan kas dapat menjadi prioritas penting. Setelah fondasi tersebut cukup, barulah seseorang dapat mempertimbangkan apakah ada uang lebih yang layak digunakan untuk mengurangi pokok KPR.

Bedakan Pengeluaran Wajib dan Pengeluaran yang Bisa Ditunda

Ada satu cara sederhana untuk membuat tekanan KPR terasa lebih terkendali: pisahkan pengeluaran berdasarkan tingkat kepentingannya.

1. Prioritas pertama: kewajiban dan kebutuhan dasar.

KPR, listrik, air, makanan, transportasi kerja, biaya pendidikan, dan kebutuhan kesehatan masuk ke kelompok ini.

2. Prioritas kedua: kebutuhan penting tetapi masih dapat disesuaikan.

Contohnya perawatan kendaraan, belanja pakaian, biaya hiburan keluarga, atau pengeluaran rumah tangga tertentu.

3. Prioritas ketiga: pengeluaran yang sifatnya pilihan.

Nongkrong, belanja impulsif, upgrade gadget, langganan yang jarang digunakan, hingga pembelian barang karena promo bisa dievaluasi lebih ketat.

Cara ini membuat penghematan terasa lebih masuk akal. Tidak perlu langsung memangkas kebutuhan yang benar-benar penting. Fokus pertama justru pada pengeluaran yang memberikan dampak besar tetapi tidak terlalu mengganggu kehidupan sehari-hari.

Cicilan KPR Terasa Berat? Waspadai Cicilan Lain Setelah Memiliki Rumah

Memiliki rumah sering membuat seseorang merasa sudah mencapai satu tahap penting dalam kehidupan. Setelah KPR berjalan, muncul keinginan melengkapi rumah dengan furnitur, elektronik, renovasi, kendaraan baru, atau berbagai kebutuhan lainnya.

Di sinilah beban bisa bertambah.

Sofa dicicil. Peralatan elektronik dibeli dengan paylater. Kendaraan diganti. Renovasi menggunakan pinjaman.

Satu per satu terlihat kecil. Jika digabungkan, total kewajiban bulanannya bisa menjadi besar.

Padahal, cicilan KPR sendiri merupakan kewajiban jangka panjang.

Bank Indonesia mencatat kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67% secara tahunan, sementara kredit konsumsi tumbuh 5,75%. Data tersebut menunjukkan aktivitas pembiayaan masyarakat tetap berjalan dan kredit konsumsi masih menjadi bagian dari penyaluran kredit perbankan.

Artinya, akses terhadap pembiayaan memang semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi. Namun, kemudahan memperoleh pembiayaan perlu diimbangi dengan kemampuan membayar.

Jika KPR sudah terasa berat, menambah cicilan baru sebaiknya dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan