Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Tips & Trik Mengembangkan Usaha Percetakan yang Sudah Terpuruk

Mengembangkan Usaha Percetakan yang Sudah Terpuruk

0
Dok grid.id

 

Orang-orang yang bermental entrepreneur memiliki daya lentur yang baik. Ia ibarat bola, yang apabila dijatuhkan ke lantai yang keras, ia akan melambung tinggi. Kejatuhan Anda saat ini, saya yakini adalah bagian dari upaya Tuhan agar Anda melompat lebih tinggi. Anda sudah tahu soal percetakan, mulai A-Z. Mulai hitungan harga, biaya cetak, gaji, bonus dan sebagainya secara komplit. Peluang-peluang bisnis cetakan juga saya yakin Anda sudah kuasai. Jika Anda ingin mengembangkan, tinggal  memperbaiki cara-cara merekrut karyawan atau partner.

Untuk mendapatkan satu orang karyawan yang baik, carilah minimal 10 calon. Orang-orang yang direkrut dari hasil seleksi umumnya lebih bangga bekerja dengan kita karena merasa “sudah mengalahkan pesaingnya”. Merekrut yang baik adalah awal keberhasilan bisnis. Saya tidak bisa berpanjang kata. Perihal semangat bertanding yang sedang melemah, berikut ini saran dan pandangan saya yang saya sadur/modifikasi dari sebuah artikel:

Semangat itu ada hubungannya dengan tiga aspek penting yaitu:

  1. Daya Tarik Goal. Ini disebut visi. Jadi Anda harus jelas dan detil tentang apa yang jadi target. Sedetil mungkin, malah sebaiknya ditulis kemudian impikan. Kemudian akan menjadi desire, tambahkan dengan emosi. Maka akan menjadi faith, kurang lebih seperti obsesi.
  2. Daya Tarik Pikiran. Pikiran yang tepat akan menarik fisik untuk bergerak. Jadi mindset harus benar. Jika kita bilang “patah semangat”, cobalah ditest lagi, apa benar semangatnya patah? Jangan-jangan hanya kelesuan sementara. Model berpikir seperti ini, disebut dengan upaya “manifesting“.Caranya, dengan secara positif memahami bahwa bermimpi dan berkhayal saja tidak cukup, seperti juga bertindak saja tidak cukup. Itu mindset yang mendasar. Mengapa? Karena goal dan desire masih virtual belum Menangani urusan virtual ini, caranya: Get In, Feel Good, Get Out.

Get In itu mulai dari visi sampai desire. Feel Good itu faith. Dengan faith, kita bisa membayangkan visi tidak lagi sebagai beban atau target, melainkan sebagai “being” yang nikmat. Ini namanya mulai allowing.

Setelah itu, Get out, kembali ke dunia nyata, dunia kerja. Jadi tidak terus menerus menghayal. Yang bisa menjadikan seperti ini, adalah mindset tentang kerja keras, belajar, gagal, salah, takut, terlalu menuntut dan sebagainya. Sering-seringlah baca biografi orang sukses, pasti akan selalu bahwa setiap kesuksesan mutlak menuntut kerja keras, selalu belajar, pernah atau sering gagal (ada yang sampai ribuan kali), pernah atau sering salah, pasti merasa takut (ini wajar dan manusiawi), adjust tuntutan, dan sebagainya.

Semua ciri “orang kalah” di atas, justru penting untuk saat nanti merasakan “apa sih menang itu?” Itu disebut dengan temporary defeat. Dengan kekalahan itu, saat kita menang, kita pasti dan harus bersyukur. Jika tidak, Tuhan pun pasti “nggak rela” kita sukses. Padahal, Dialah yang memberi kesempatan untuk sukses. Maka, agar tidak kontradiktif, agar kita tidak menjadi sombong dan mengklaim bahwa sukses adalah karya kita sepenuhnya, supaya kita bersyukur, kita memang harus susah dulu.

  1. Daya Tarik Energi.Apa yang tidak akan hilang dari alam semesta adalah energi. Kalau kita merasa sedang “patah semangat”, sebenarnya itu adalah energi yang menjadi negatif karena gesekan-gesekan kendala dan hambatan. Energi itu netral, tergantung kita merasakannya. You can always being in pain, but you don’t have to suffer all the time. You can experience suffer without suffering. Energi negatif, itu sebenarnya adalah “energi yang terasa negatif”. Jadi, ini soal perasaan dan bukan tentang energi itu sendiri. Hanya bagaimana mengubah perasaan, dan ini tidak terlalu sulit sesuai hukum atraksi, susah itu syarat mutlak.

Makin hebat dan besar cita-cita, pasti makin sulit jalannya.Tapi jika daya tarik cita-cita itu luar biasa besar, dan daya tarik pikiran kita atas tubuh fisik juga benar, setiap kali jatuh atau patah semangat, kita bisa berkata, “Ah memang belum saatnya kok, coba lagi deh.” Mulai sekarang, Anda berusaha keras memaksa pikiran untuk menerima kenyataan susah ini. Jika tidak bisa, maka pikiran dan tubuh sibuk menolak kenyataan.

Tapi jika bisa, tubuh dan pikiran Anda akan berkata, “Ok deh kalo gitu. Trus gimana dong?” Pertanyaan Anda itu kan mengarah pada kreativitas dan solusi. Kalau terjadi lagi, tahap pertama Anda cari pengalihan perhatian. Nonton yang bagus, makan yang enak, baca yang inspiratif, dan curhat.Lakukan semua itu dalam konteks bersyukur. Saat mood membaik selanjutnya, akan merasa lebih ringan dan mulai bisa melihat bahwa apa yang terjadi adalah proses alamiah yang wajib dilalui dan dirasakan dulu sebelum meraih kesuksesan.

 

oleh: Bambang Suharno,

Director of Indonesian Entrepreneur Society (IES),

Penulis Buku “Tujuh Cara Tidak Gila, Jadi Pengusaha”, dan puluhan buku lainnya.

Email: bambangsuharno@yahoo.com

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Exit mobile version