Langkah-Langkah Sebelum Membuka Cabang Baru 

0
5
Ruko dijual (dok rumahdijual.com

 

Melakukan ekspansi usaha ke kota-kota yang baru tentu saja membuka kesempatan kerja sehingga membantu memperkecil pengangguran, menambah penerimaan pajak daerah dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Memang pebisnis yang bagus harus memiliki semangat atau passion untuk terus tumbuh dan berkembang.

Tidak cepat puas dengan prestasi yang telah diraih dan memiliki impian yang lebih maju. Slogannya: hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini, dan lusa jauh lebih bagus dari besok. Inilah filosofi pebisnis sejati.

Dari kasus di atas, untuk tumbuh Anda memilih ekspansi wilayah dengan jenis usaha yang sama dengan sebelumnya. Ini sangat tepat. Pasalnya, Anda sudah memahami manajemen operasional atau seluk beluk bisnis kuliner sehingga lebih kompeten dibanding jenis bisnis yang lain.

Hanya saja meski demikian, mungkin ada beberapa penyesuaian yang diperlukan. Seperti ungkapan lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lalu apa saja yang perlu diperhatikan untuk ekspansi usaha?

Saya akan uraikan. Minimal ada tiga faktor utama. Pertama, dari segi sumber daya yang dimiliki. Untuk ekspansi tentu butuh sumberdaya. Di sini termasuk modal, karyawan dan aspek manajemen. Kalau menambah cabang, mau tidak mau Anda butuh modal untuk membeli atau menyewa tempat, membeli peralatan masak, meja kursi, dan keperluan dapur. Kebutuhan modal ini bisa dipenuhi dari dana sendiri, utang, atau model kerja sama seperti waralaba.

Untuk karyawan ada baiknya menempatkan beberapa orang lama yang selama ini sudah menangani bisnis yang ada. Lalu dari segi manajemen, perlu dipikirkan sistem manajemen yang terintegrasi. Karena jarak yang jauh maka sistem harus bisa mengendalikan dan memantau perkembangan tiap cabang.

Faktor kedua yang penting dipertimbangkan adalah selera pasar. Ingat, seringkali pebisnis sekadar menerapkan strategi copy and paste. Artinya tawaran yang sama  dengan sebelumnya dibawa saat membuka cabang yang baru, misal dari menu makanan. Nah ini perlu dicermati. Utamanya untuk bisnis kuliner. Konsumen dengan daerah yang berbeda bisa jadi memiliki cita rasa yang lain. Untuk itu saya sarankan sebelum membuka, Anda melakukan observasi dulu ke kota-kota yang dipertimbangkan tadi.

Caranya, tinggallah 2-3 hari di kota tersebut untuk mengumpulkan informasi tentang bisnis kuliner. Kemudian selama di kota tersebut, telitilah bisnis-bisnis kuliner yang laris dengan mencicip langsung dan bertanya-tanya ke masyarakat sekitar. Juga kalau dimungkinkan, bertemulah dengan pemilik atau pengelolanya. Lalu dengan santai ajak ngobrol akrab yang ujung-ujungnya membicarakan pengelolaan bisnisnya.

Ini teknik halus untuk memperoleh informasi tentang bisnis kuliner di masing-masing kota. Amati apa jenis restoran yang laris, berapa harga per porsinya, di mana lokasi yang menjadi pusat kuliner di masing-masing kota. Lalu cermati pula,  bagaimana daya beli konsumen, apa jenis layanan standar yang ada, dll.

Dari informasi ini, tujuannya untuk menentukan mana yang perlu penyesuaian dan mana yang bisa langsung diterapkan dari praktek yang sudah dilakukan di rumah makan Anda saat ini. Misalnya dari menu minuman teh misalnya.

Di daerah Jawa Barat atau Bandung, teh tawar adalah standar minuman teh. Atau contoh yang lain adalah dari segi harga. Es Jeruk di Jakarta harganya bisa lebih mahal dari Jawa Timur. Kalau ada menu makanan yang tidak pas dengan lidah orang Jakarta, Bandung, atau Medan bisa dilakukan penyesuaian.

Faktor utama ketiga yang perlu diteliti adalah kondisi persaingan. Amati juga di kota-kota tersebut siapa pemain rumah makan yang besar, apa jenis rumah makan yang sudah banyak, apakah yang menjadi tumpuan untuk bersaing, jam operasional pesaing, dan lain-liannya. Misalnya kalau kuliner Anda adalah Steak maka Anda amati seperti apa tawaran dari Steak-Steak yang sudah ada, berapa harga seporsinya, bagaimana layanannya, dll.

Dari hasil pengamatan ini lalu bandingkan dengan bisnis kuliner yang sudah Anda jalankan. Cermati apa nilai pembeda atau diferensiasinya. Apakah menu unggulan yang belum ditawarkan pesaing? Apakah Anda mau pasang harga lebih murah? Apakah bisnis kuliner Anda mau menawarkan suasana makan yang unik?

Sebagai pendatang baru di kota-kota besar, mungkin merek Anda tidak terkenal seperti halnya di Jawa Timur. Untuk itu harus diupayakan membangun nama atau citra kuliner Anda dengan cepat. Di bisnis kuliner peranan komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth atau WOM) pelanggan sangat penting. WOM bisa tercipta kalau kuliner Anda benar-benar ada nilai lebih.

Di Jakarta banyak pula pebisnis kuliner daerah yang sukses merambah kota besar ini. Bisa disebutkan di sini seperti Ayam Goreng Suharti, Tengkleng Solo, Gudeg Yogya, dll. Kesuksesan ini dimungkinkan karena makanan mereka memang enak dan banyak pendatang dari daerah Jawa Tengah yang menetap di Jakarta.

Jadi jangan ragu untuk berekspansi setelah mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Sebagai penutup, kunci dasar kesuksesan bisnis kuliner adalah enak, murah, layanan cepat dan ramah. Selamat mengembangkan bisnis Anda dan sukses selalu!

 

Diasuh oleh: Bambang Wahyu Purnomo

Pengamat Wirausaha

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.