Kegigihan dan Kesabaran

0
221
Kesabaran bill porter (dok.mahdaen.tv)

Berbicara mengenai kegigihan dan kesabaran, saya teringat dengan sebuah film yang pernah saya saksikan yang berjudul ”Door to Door”. Film ini sebenarnya kisah nyata kehidupan seorang pengidap Cerebral Palsy, yakni saraf pipi kanan bermasalah, sehingga, ketika berbicara ia agak susah.

Tangan kanannya tidak berfungsi dengan baik. Dan ketika berjalan agak sedikit membungkuk. Namun meskipun seperti itu, ia mampu menjadi top salesman di perusahaan Watkins. Ia menjadi salesman of the year. Lelaki itu bernama Bill Porter. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk menyaksikan film ini.

Pesan Sang Ibu

Film ini bermula seorang lelaki yang mengenakan baju kemeja berdasi hitam dan jas agak kecokelatan berdiri di depan cermin memastikan bajunya rapi. Ia mempersiapkan diri untuk melamar kerja sebagai salesman di sebuah perusahaan kebutuhan rumah tangga. Lalu ibunya menghampiri mengingatkannya, ”Butuh waktu sedikit lama bagi orang untuk mengenalmu. Oleh karena itu, bersabarlah dan gigih,” kata ibunya.

Kemudian mereka berangkat ke kantor yang dituju. Setibanya di sana, ibu lelaki cacat ini menunggu anaknya sambil membaca koran di dalam mobil. Sementara lelaki yang mengenakan jas cokelat ini melangkah masuk ke dalam. Setibanya di kantor ia bertemu dengan sang manager.

Sang manager mengemukakan tentang aktivitas para salesman. ”Membawa tas berat yang isinya produk yang harus mereka jual. Terkadang bukan hanya satu. Tetapi ada juga yang membawa dua tas. Mereka berjalan antara satu rumah ke rumah yang lain. Sungguh, melihat kondisimu, rasanya agak sulit. Dan aku rasa kamu mengerti apa yang aku katakan. Maafkan aku,” kata sang manager menolak Bill Porter menjadi salesman di perusahaannya.

Kemudian Bill keluar kantor dengan wajah menunduk, perasaannya diselimuti kecewa. Saat ia berdiri di depan pintu kantor Watkins, ia melihat dari kejauhan ibunya yang berdiri di samping mobil sambil membaca koran. Garis-garis wajahnya terpancar harapan agar anaknya mendapat pekerjaan. Bill berhenti melangkahkan kakinya sejenak dan memikirkan sesuatu. Lalu, ia memutar arah masuk kembali ke kantor menjumpai manager.

Saya Pantas Jadi Salesman

Skin ini bagi saya sungguh bermakna. Karena, keputusannya menjumpai kembali sang manager menunjukkan kegigihan dalam dirinya untuk berhasil. Bukan hanya itu, keahliannya melobi agar pantas menjadi salesman di Watkins, membuktikan bahwa ia pantas menjadi salesman.

Simak kata-katanya untuk meyakinkan manager. ”Tuan Hernandez,” Bill menyapa. ”Berikan aku rute terburukmu. Berikan aku area yang tak seorang salesman pun mau ke sana. Apa ruginya bagimu?. Jika aku bisa menjualnya, kamu menjadi pahlawan.” Ia berkata sambil tangan kiri menyapu pipi kirinya dengan sapu tangan.

Tuan Porter,” kata sang manager. ”Jujur saja, ini pekerjaan yang sangat membutuhkan kekuatan fisik. Dan kau ini lumpuh. Aku tidak bisa melihat bagaimana...,” tuan Hernandez terdiam, lalu mengatakan ”Apa?” karena seorang wanita pegawai Watkins yang berdiri di samping kanannya menginjak kakinya. Sembari membuat isyarat agar si manager memikirkan kembali. Akhirnya Bill Porter diterima menjadi salesman hari itu dan membawa sebuah tas yang berisi produk Watkins.

Perjuangan Baru Dimulai

Ibu Bill mengantar putranya ke rute yang telah ditentukan menggunakan mobil tuanya. Sampai di tujuan, Bill diturunkan di area komplek perumahan. Kata-kata Ibu Bill Porter, sungguh berkesan bagi saya. Dan saya menjadikan acuan dalam berjualan. “Jadi apa yang kamu tunggu?. Mengharap pelanggan mendatangimu ke mobil? Ayo mulai jualan,” kata ibunya.

Kemudian Bill menyusuri perumahan sambil menenteng tas berisi produk Watkins di tangan kirinya. Ia berjalan terseok-seok. Tibalah di rumah pertama. Saat ia hendak mengetuk pintu, bukannya pemilik rumah yang menghampiri. Akan tetapi, seekor anjing besar terikat rantai di leher menggonggonginya dan membuat Bill berlari bersusah payah.

Pengalaman pertama ini tidak menyusutkan semangatnya. Bill kemudian menghampiri rumah kedua dan dibuka oleh seorang pria berbadan besar mengenakan baju tidur masih dalam keadaan mabuk. Pria ini membanting pintu begitu ia mulai mengenalkan dirinya. “Semacam orang peminta-minta,” kata laki-laki itu kepada perempuan yang berteriak “Siapa itu?!” dari dalam.

Hal ini tidak membuat Bill menyerah. Ia melanjutkan ke rumah selanjutnya. Di rumah ketiga, ia belum sempat bicara, penghuni malah meninggalknya. Sebab penghuni rumah memulai pertengkaran dengan tetangganya lantaran pohon kesayangan tetangganya merusak atap rumah mereka.

Sabar dan Gigih

Sang matahari pun semakin menunjukkan kepanasannya berada tepat di atas ubun-ubun. Namun, Bill belum berhasil menjual dagangannya satu pun. Kemudian ia memutuskan istirahat di taman kompleks perumahan area prospeknya. Ia duduk di kursi panjang dan membuka bekal makan siang yang telah dipersiapkan oleh perusahaan Watkins.

Nafasnya terengah-engah akibat kelelahan berjalan antara satu rumah ke rumah yang lain. Bill mengambil roti berlapis sayuran dan daging. Saat hendak memasukkan roti tersebut ke mulutnya, ia membaca kata berukiran saus tomat berwarna merah ”Patient” (Kesabaran). Lalu ia membalikkan sisi satunya lagi, di sana tertulis ”Persistence (Kegigihan).

Ia tersenyum ketika membacanya. Ia tahu, pasti ibunya yang telah menuliskan kata-kata itu di sana. Ia masih ingat, ibunya sempat berkata, “Pasti membutuhkan waktu bagi orang-orang untuk mengenalimu. Tapi ingat: sabarlah dan gigih (patient and persistence) anakku.

Efek Sabar dan Gigih

Pria itu kembali bangkit dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri rumah selanjutnya. Di sana ia disambut oleh perempuan langsing agak tinggi seperti Luna Maya. Di mulutnya ada sebatang rokok. Wanita ini mengenakan baju berwarna pink.  Saat itu ia sedang berteriak kepada dua anaknya.

Salah seorang anaknya saat menghampiri ke depan langsung kabur melihat penampilan Bill. Sejenak kemudian, anjing peliharaan sang perempuan berbaju pink kabur keluar rumah. Sehingga, ia minggalkan Bill begitu saja. Yang lebih parah lagi, malah ia meminta Bill untuk mengejar anjingnya.

Lelaki pengidap cerebral palsy ini pun kembali pergi sambil tersenyum. Di rumah berikutnya ia masuk dan menjelaskan produk yang dijualnya. Nyonya rumah menolak untuk membeli, tetapi mengatakan, “Saya menghargai usahamu,” sambil memberi sejumlah uang.

Jiwa salesman sejati sangat terlihat di sini. Bill bukannya menerima, malahan ia merasa kasihan kepada si nyonya rumah yang sofanya kotor. Pria itu langsung berdiri dan berkata, “Saya tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi Anda perlu pembersih untuk sofa Anda yang jorok!”

Menang karena Bertahan Lebih Lama

Sementara itu, sebelum saya melanjutkan cerita Bill porter. Apakah Anda pernah mendengar ungkapan seorang petinju saat wartawan mewawancarainya sehabis pertandingan? ”Apa yang membuat Anda kalah dalam pertandingan ini?” tanya sang wartawan.

Lalu sang legenda menjelaskan. ”Saya kalah bukan karena banyak pukulan. Bukan pula karena lawan lebih terlatih. Akan tetapi, lawan saya menang karena bertahan 5 menit lebih lama dari saya,” kata sang legenda tinju. Dan itulah kira-kira yang dilakukan oleh Bill sampai ada orang yang membukakan pintu dan membeli barang dagangnya.

Akhirnya Closing

Kembali ke cerita Bill. Setelah meninggalkan rumah si nyonya tersebut, pria yang mengenakan jas cokelat itu mengetuk rumah lainnya. Di rumah ini ia disambut hangat oleh seorang wanita cantik dan anggun. Ia mempunyai senyum seperti Paramita Rusadi. Ia mendengar dengan seksama penjelasan Bill Porter sambil melihat katalog yang ditunjukkan oleh Bill.

Kemudian sang wanita bangun dari sofa hendak ke belakang untuk menyiapkan minum kepada Bill. Sambil jalan ia bilang, saya pesan dua dan satu pemutih besar. Bill terkejut, sampai terucap dari mulutnya ”benarkah?” Akhirnya transaksi terjadi. Hari itu, Bill berhasil menjual dan mendapatkan uang komisi untuknya sebesar $4,25.

Terpilih Salesman Terbaik

Singkat cerita, pada tahun 1989 Bill Porter meraih penghargaan dari perusahaan Watkins sebagai penjual terbanyak. Ia berhasil menjual produk Watkins sebanyak $42.460 dalam setahun!. Prestasinya ini melebihi orang-orang muda yang berpenampilan normal pada saat itu.

Dan hal yang paling menarik adalah, meski Bill Porter bukanlah seorang normal, salah satu pipinya tidak bisa bergerak karena sarafnya mati. Hanya tangan kiri yang bisa berfungsi sempurna. Namun kisah hidupnya telah menginspirasi kita, bahwa siapa pun bisa menjadi salesman. Asal, ada kemauan, kesabaran dan penuh kegigihan.

 

Oleh: Rahmadsyah, Mind-Therapist

Mind-Talks Training & Consulting

Certified Hypnotherapy from IBH

Certified Personal Coach from Krishnamurti

Certified Master Practitioner NLP from NF-NLP Florida

Web: www.rahmadsyah.com

Email: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.