Bangkit dari Kegagalan Usaha

0
942
Kios tutup di mal (dok nusantaranews)

 

Tahun 2006 saat masih berstatus karyawan sebuah perusahaan penjualan lap mobil berbahan kulit (semacam kanebo), Abduh ingin sekali memiliki usaha sendiri. Perusahaan tempatnya bekerja yang mulai goyah ketika itu kian membulatkan tekadnya. Setelah mencari informasi kanan dan kiri akhirnya Abduh menemukan sebuah jalan yaitu bergabung dengan komunitas Entrepreneur University (EU).

Di lembaga itu pula Abduh bertemu dengan Badroni Yuzirman, pendiri komunitas Tangan Di Atas. Suatu saat Roni mempertemukan Abduh dengan Haji Alay, seorang tokoh bisnis terkenal yang sukses sebagai saudagar di Tanah Abang di sebuah acara talk show tentang usaha kecil.

Haji Alay menantang Abduh untuk membuka usaha sendiri jika memang berniat usaha. Tak tanggung-tanggung Haji Alay memberikan kios miliknya di Mangga Dua cuma-cuma tanpa uang sewa. Abduh hanya diminta untuk mengeluarkan uang service charge Rp 1 juta per bulan. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Abduh mengundurkan diri sebagai karyawan dan fokus mengurus kios di Mangga Dua. Di kawasan tersebut ia membuka kios batik. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. “Untuk bayar service charge saja saya tidak sanggup ketika itu,” katanya.

Alhasil Abduh hanya bertahan setahun. Dari 10 orang yang mendapat kesempatan emas, hanya ia yang paling terpuruk. Sembilan orang teman lainnya masih lebih baik nasibnya. “Saya banyak utang karena barang-barang berupa batik diambil dari adik ipar,” kenangnya.

Dalam keadaan berutang, Abduh bingung menentukan langkah selanjutnya. Ia merasa hidup harus terus berjalan dan tetap memutar otak agar keluar dari masalah. Jalan keluar akhirnya muncul juga. Abduh terinspirasi sukses Roni yang lebih dahulu melakukan usaha berbasis online. Roni dikenal sebagai pemilik Manet Vision sebuah usaha penjualan busana muslim secara online. Abduh ingin ikut jejak tersebut.

Abduh menyewa sebuah kios kecil yang letaknya masih di Kompleks Perumahan Bojong Menteng, Bekasi, tempat tinggalnya. Dari situ ia mulai menentukan langkah untuk bangkit dari kegagalan. Kios kecil yang ia sewa hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan batik dan barang kerajinan.

Lagi-lagi ia terbentur kendala karena untuk berbisnis online harus mampu mendesain web sendiri. Ia sendiri nol pengetahuan dalam bidang internet. Namun selalu saja ada jalan berkat bantuan seorang teman, akhirnya ia berhasil memiliki web sendiri. “Uang jasa desain web utang dulu kepada teman,” kata Abduh.

Bisnis online tersebut diberi nama Anin Rumah Batik dan bukan Rumah Batik Anin. Abduh memiliki alasan sendiri karena lewat brand tersebut ia berencana membangun bisnis. Misalnya Anin Café atau Anin Furniture. Melalui situs tersebut ia menawarkan produk busana batik pria dan wanita. Lalu produk kerajinan serta furnitur. “Produk saya beda dengan lainnya karena bersifat terbatas, desainnya tidak akan sama satu dengan yang lainnya,” kata Abduh bangga.

Semula Abduh memasang slogan Always Limited Edition yang artinya adalah Selalu Edisi Terbatas. Belakangan ia alihkan ke bahasa Indonesia menjadi Selalu Edisi Terbatas. Kata Abduh, dari literatur yang pernah ia baca, tidak ada bangsa besar di dunia yang membanggakan bahasa dari negera orang. Selalu bangga dengan bahasa sendiri.

“Secara tidak langsung bahasa itu mempengaruhi alam bawah sadar kita bahwa kita sesungguhnya menjadi bangsa inferior karena lebih suka memakai bahasa lain dibandingkan dengan bahasa negara sendiri,” paparnya.

Mulai Bangkit

Abduh mengaku dari kios kecil tersebut mulai bangkit. Apalagi kios itu berada di depan sebuah Sekolah Dasar. Seringkali kiosnya menjadi tempat berkumpul ibu-ibu yang sedang menemani anaknya sekolah. Para ibu itu sering melihat-lihat busana batik di kiosnya.

“Saya tidak pernah menawarkan barang dagangan tetapi hanya menyilakan saja kalau ingin memakai tempat untuk kumpul-kumpul,” ujarnya. Tak dinyana, justru ibu-ibu itu sering membeli busana batik yang ada di kiosnya.

Tidak hanya itu, koleksi busana batik yang terdapat di Anin Rumah Batik pun lama dikenal masyarakat. Dari batik tulis, batik cap hingga batik printing tersedia di web tersebut. Produk batik paling mahal di website miliknya Rp 160 ribu. Sedangkan paling murah Rp 60 ribu. Yang paling mahal tersebut adalah batik hand made karena dikerjakan secara manual mulai dari pewarnaan hingga desain.

Situsnya pun dikenal secara luas. Terbukti Kantor Akuntan Publik terkenal Deloitte and Tomatsu (DTT) yang ada di Jakarta memesan 400 kotak sovenir berdesain batik tulis. Begitu pula manajemen Ritz Carlton meminta agar membuat merchandise yang bisa dijual di hotel internasional tersebut.

Abduh mengaku tidak tahu mengapa pembeli internasional tersebut bisa menemukan situsnya. Ia hanya bisa menduga karena sering meng-update website-nya lalu sering pula meng-upload tulisan di web tersebut. Akhirnya jika pengguna internet googling tentang batik situs miliknya ada di halaman muka. Untuk memperluas jangkuan marketing online-nya, Abduh sudah terdaftar di situs e-bay, sebuah situs perdagangan online paling bergengsi di dunia yang dikelola di Amerika.

Menurutnya tidak semua pemilik usaha online bisa diterima di situs tersebut. Apalagi bila rekam jejaknya buruk. Lewat situs  e-bay pula, Abduh mendapatkan pembeli dari Amerika yang memesan produk kerajinan yang disebut Rehal (tatakan tempat Al-Quran saat orang sedang membaca Al-quran).

Abduh mengaku bisa bangkit kembali dari kegagalan karena bergaul dengan pihak yang tepat. Menurutnya ia banyak mendapat semangat dari komunitas TDA yang terus membimbingnya agar tetap semangat. “Selain itu yang penting niat karena selama ada niat pasti ada jalan,” ujarnya.

Dual Hal yanga Harus Dicermati

Sementara menurut Ippho Santoso, Seorang Motivator, terdapat dua hal yang harus dicermati jika ingin bangkit lagi dari kegagalan usaha. Motivator yang sering mengusung tagline “The Creater Marketer” tersebut memandang keyakinan sebagai hal penting atau langkah pertama bila ingin bangkit lagi. “Untuk bangkit lagi harus mempunyai keyakinan dahulu sebelum menerapkan teknik dan strategi untuk menjalankan suatu usaha,” katanya.

Langkah kedua, lanjut Ippho adalah mengetahui akar masalah ketika usaha sedang terpuruk. Ippho menguraikan beberapa langkah lanjutan yang harus dilakukan yaitu agar usaha kembali bangkit harus bisa menciptakan kondisi lingkungan usaha yang kondusif. Lalu bergaul dengan orang-orang bisnis, banyak membaca buku tentang usaha. Kalau belum cukup juga, perlu berpartner untuk menambah modal atau meminjam modal dari bank.

Ippho berpendapat setiap usaha selalu ada fase naik dan turun. Artinya suatu saat usaha yang dijalankan akan menemui kendala atau sebaliknya membuahkan hasil. Namun menurutnya kegagalan merupakan pengalaman pahit yang bisa menjadi bekal bangkit kembali disertai sebuah keyakinan bahwa usaha yang digeluti akan kembali bangkit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.