Sukses Usaha Garmen di Usia 20 Tahun

0
306
Bisnis konveksi tak pernah padam (dom jakartakonveksi.com)

 

Tumbuh dalam keluarga yang sederhana membuat Dwiky Satrio Putra atau yang akrab disapa Dwiky ini selalu diajarkan disiplin dan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Apalagi ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Dwiky sempat iri terhadap kehidupan teman-temannya yang lebih baik dari dirinya sehingg bisa memenuhi semua kebutuhan baik kebutuhan belajar dan lain sebagainya.

Melihat hal tersebut, pemuda yang tidak pernah berpangku tangan terhadap orang lain dan selalu mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi mencoba untuk mencari cara agar bisa memenuhi kebutuhan sekolahnya tersebut. Melihat prospek usaha pakaian yang terbuka lebar, khususnya untuk pangsa pasar teman-teman sekolah membuat Dwiky melirik usaha di bidang fesyen.

Namun karena tidak memiliki keahlian dalam menjahit dan kesibukannya di bangku sekolah membuat Dwiky memutuskan untuk memaklonkan semua proses produksi usahanya kepada para penjahit berpengalaman di sekitar kediamannya.

Seiring dengan semakin banyak peminat terhadap usaha yang ia tawarkan, membuat Dwiky berpikir untuk mengembangkan usahanya dengan melakukan proses produksi sendiri. Pilihan tersebut diambil karena bila bisa memproduksi sendiri maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar.

Dalam mengembangkan usaha yang dimulai sejak 2011 tersebut, Dwiky mengaku mengeluarkan modal sebesar Rp 25 juta yang ia dapat dari hasil jerih payahnya selama menjalankan usaha jasa pembuatan berbagai produk pakaian yang ia jalankan di sela-sela sekolahnya.

Sebelum menjalankan usaha fesyen tersebut Dwiky sebenarnya pernah menjalankan berbagai usaha lainnya seperti usaha jual beli gadget mulai dari handphone dan tablet, namun semua usaha tersebut berhenti di tengah jalan.

“Pada waktu itu Saya masih suka menghambur-hamburkan uang hasil usaha sehingga ketika uang hasil penjualan tersebut mau diputar kembali terkadang habis terpakai sehingga saya kehabisan modal untuk mengembangkan usaha,” jelas pemuda kelahiran 26 November 1992 ini.

Usaha Garmen

Walaupun masih berusia muda, namun Dwiky dengan usaha garmennya yang diberi nama 89 Blue Garmen sudah mampu memenangkan tender pembuatan berbagai macam jenis pakaian seperti misalnya seragam perusahaan, seragam sekolah, klub motor dan berbagai produk jahitan lainnya. Berbagai proyek usaha yang dimenangkan Dwiky bukan tanpa alasan, banyak konsumen yang puas dan juga harga produk yang bersaing dengan perusahaan besar lainnya.

Dwiky memberikan harga yang terjangkau seperti kaos Rp 30-45 ribu per pcs,  baju perusahaan Rp 15-25 ribu, jaket Rp 75-150 ribu dan juga kemeja perusahaan Rp 20-40 ribu per pcs.

“Yang jelas semua harga yang saya tawarkan sudah sesuai dengan tingkat kesulitan penjahitan, bahan dan tentunya sudah sesuai dengan pesanan,” tutur Dwiky.

Bagi yang ingin memesan pakaian secara customized, konsumen bisa langsung menghubungi atau datang langsung ke tempat produksinya, setelah itu bisa langsung menyerahkan desain pesanan yang ingin diproduksi. Setelah desain diserahkan maka konsumen bisa langsung membayar tanda jadi atau DP antara 30-50 %. Lalu pesanan akan langsung diproduksi dan setelah jadi pemesan tinggal melunasinya dan pesanan sudah bisa diambil atau dikirimkan.

Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya tidak heran saat ini pakaian yang diproduksi Dwiky banyak diminati oleh perusahaan besar di antaranya BUKAKA, Kabel Indonesia, PLN Aceh, PLN Garut, Kantor Pajakan Sulawesi dan perusahaan-perusahaan lainnya. Dalam satu Minggu Dwiky mampu memproduksi hingga 5 ribu kaos, seribu jaket dan dua ribu kemeja dengan omset hingga  Rp 120 juta per bulan.

Selain membuat produk yang berkualitas, yang membuat usaha garmen Dwiky berkembang pesat ialah ketepatan sistem pemasaran yang dilakukan. Dwiky menggunakan berbagai cara pemasaran. Selain menawarkan kepada orang-orang terdekat, Dwiky juga mengajukan berbagai proposal ke perusahaan-perusahaan serta memanfaatkan media internet sebagai salah satu ujung tombak untuk perluasan usaha.

Satu lagi yang membuat usaha ini cepat menanjak ialah sistem kerja sama reseller yang ditawarkan Dwiky. Syarat menjadi reseller, cukup dengan belanja awal sebesar Rp 20 juta maka akan mendapatkan potongan hingga 30%.

Penuh Tantangan

Kesuksesan yang diperoleh Dwiky sekarang ini bukan tanpa kendala. Namun dengan semangat yang dimilikinya, ia menganggap semua kendala tersebut sebagai suatu tantangan yang perlu dihadapi dan dikalahkan.

Menurut Dwiky, beberapa kendala yang pernah menghadang kelangsungan usahanya bahkan hampir membuatnya frustasi dan mengalami kebangkrutan ialah ketika ada konsumen yang memesan pakaian untuk dijahit dalam jumlah cukup besar namun ketika pesanannya sudah diproduksi ternyata tidak diambil dan tidak dibayar.

“Padahal uang yang saya gunakan untuk membeli bahan harus saya putar kembali untuk belanja bahan yang dipesan oleh pemesan lain,” kenangnya.

Selain itu, ketika Dwiky ingin membuktikan kesuksesan yang diraih kepada kedua orangtuanya sekaligus menunjukkan rasa cinta kepada mereka dengan memberikan hadiah sebuah kendaraan, sayang kendaraan tersebut hilang dicuri.

“Kedua kejadian tersebut sempat membuat saya patah semangat, namun karena dukungan keluarga saya bisa bangkit dari semua keterpurukan tersebut,” ujarnya.

Jika dahulu pada awal usaha Dwiky hanya memiliki dua mesin jahit dan satu mesin potong, namun kini ia sudah mempunyai 11 mesin jahit dan satu mesin potong dengan 7 orang karyawan tetap serta 3 orang karyawan masih freelance.

Tips dan kunci sukses yang selama ini dipegang teguh oleh Dwiky dalam menjalankan usahanya ialah jangan mudah putus asa, semangat, konsisten dengan jalur yang ditekuni, dan yang terakhir intinya adalah berdoa serta ikhtiar agar selalu diberi kelancaran oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Meskipun pernah mengalami kendala dalam menjalankan usaha, namun Dwiky tidak pantang menyerah dan benar-benar mempelajari kesalahan tersebut agar tidak terulang kembali. “Berkhayalah yang tinggi karena segala sesuatu juga bisa diawali dari khayalan atau mimpi, namun dalam mewujudkan khayalan tersebut kita harus mempunyai kendaraan untuk menempuhnya,” ungkap Dwiky

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.