Selasa, Mei 12, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 136

Mau Usaha Makanan Laris? Ini Cara Memilih Lokasi yang Tepat

Menentukan lokasi usaha makanan dan minuman adalah salah satu langkah krusial yang bisa menentukan kesuksesan bisnismu. Lokasi yang strategis akan memengaruhi jumlah pelanggan yang datang dan seberapa besar keuntungan yang bisa kamu raih. Tapi, memilih lokasi bukan cuma soal tempat yang ramai, ada banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Berempat.com akan memberikan beberapa tips untuk membantumu menentukan lokasi yang tepat.

1. Pilih Lokasi yang Dekat dengan Target Pasar

Sebelum menentukan lokasi, kenali dulu siapa target pasar kamu. Apakah kamu menyasar pelajar, pekerja kantoran, keluarga, atau mungkin wisatawan? Lokasi usaha harus sesuai dengan kebiasaan dan aktivitas mereka. Misalnya:

  • Jika targetmu adalah pekerja kantoran, pilih tempat di sekitar perkantoran.
  • Jika targetmu adalah anak muda, lokasi dekat kampus atau pusat perbelanjaan bisa jadi pilihan.

Menyesuaikan lokasi dengan target pasar akan mempermudah mereka menjangkau bisnis kamu.

2. Pastikan Lokasi Mudah Diakses

Lokasi yang mudah ditemukan dan dijangkau sangat penting untuk usaha makanan dan minuman. Pilih tempat yang dekat dengan jalan utama, memiliki akses parkir yang memadai, atau mudah dijangkau dengan transportasi umum. Jika pelanggan merasa sulit mencapai tempatmu, mereka bisa saja memilih kompetitor yang lebih mudah diakses.

3. Perhatikan Kepadatan dan Aktivitas di Sekitar Lokasi

Pastikan lokasi pilihanmu berada di area yang ramai dan sering dilalui orang. Cari tahu apakah area tersebut memiliki aktivitas harian yang cukup tinggi. Misalnya:

  • Dekat pasar, stasiun, terminal, atau halte.
  • Di sekitar tempat wisata atau area rekreasi.
  • Dekat sekolah, kampus, atau area tempat tinggal.

Namun, ramai saja tidak cukup. Pastikan juga aktivitas orang di area tersebut sesuai dengan target pasarmu.

4. Analisis Persaingan di Sekitar Lokasi

Sebelum memutuskan lokasi, lihat juga siapa saja kompetitormu di area tersebut. Apakah sudah banyak usaha makanan atau minuman serupa di sana? Jika iya, pelajari apa yang mereka tawarkan.

  • Apakah pasar di sana masih memiliki peluang untuk bisnismu?
  • Apakah kamu bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dan lebih menarik?

Jangan takut dengan kompetitor, tapi pastikan kamu memiliki keunikan yang membuat bisnismu stand out.

5. Perhatikan Biaya Sewa dan Anggaran

Lokasi yang strategis biasanya memiliki biaya sewa yang lebih tinggi. Pastikan kamu menghitung anggaran dengan matang dan tidak memilih lokasi yang terlalu memberatkan keuangan bisnismu. Perhitungkan apakah omzet yang kamu perkirakan bisa menutupi biaya sewa atau beli tempat tersebut.

Tips: Jika anggaran terbatas, kamu bisa mempertimbangkan lokasi di pinggir jalan yang strategis atau area yang sedang berkembang.

6. Pastikan Lingkungan Aman dan Nyaman

Pelanggan pasti akan lebih senang datang ke tempat yang aman dan nyaman. Hindari lokasi di daerah yang sering macet parah, rawan kriminalitas, atau memiliki lingkungan yang kurang bersih. Lingkungan yang nyaman akan memberikan pengalaman positif bagi pelanggan dan membuat mereka ingin datang kembali.

7. Pertimbangkan Fasilitas yang Ada di Sekitar

Lokasi yang memiliki fasilitas pendukung bisa menjadi nilai tambah untuk bisnis makanan dan minumanmu. Beberapa fasilitas yang perlu diperhatikan:

  • Tempat parkir yang cukup luas.
  • Ketersediaan listrik dan air yang memadai.
  • Dekat dengan ATM atau minimarket.

Fasilitas seperti ini akan memberikan kenyamanan tambahan bagi pelanggan dan operasional bisnismu.

8. Pelajari Peraturan Zonasi

Sebelum memutuskan lokasi, pastikan tempat tersebut diperbolehkan untuk digunakan sebagai tempat usaha. Ada beberapa daerah yang memiliki peraturan zonasi khusus, misalnya area perumahan yang melarang usaha komersial. Jangan sampai bisnismu bermasalah karena melanggar aturan di daerah tersebut.

9. Tes Lokasi Sebelum Membuka Usaha

Jika memungkinkan, lakukan pengamatan atau riset langsung di lokasi yang kamu incar. Perhatikan hal-hal berikut:

  • Bagaimana aktivitas di sekitar lokasi pada pagi, siang, dan malam hari.
  • Apakah lokasi tersebut ramai sepanjang minggu atau hanya pada hari tertentu.
  • Lalu lintas pejalan kaki dan kendaraan.

Dengan mengamati langsung, kamu bisa mendapatkan gambaran lebih jelas tentang potensi lokasi tersebut.

Memilih lokasi usaha makanan dan minuman memang membutuhkan waktu dan riset yang matang. Jangan hanya tergiur dengan tempat yang terlihat ramai, tapi pastikan lokasi tersebut benar-benar cocok dengan target pasar dan kebutuhan bisnismu.

Lokasi yang tepat tidak hanya membuat pelanggan lebih mudah menjangkaumu, tapi juga berpotensi meningkatkan penjualan dan membangun reputasi brand yang baik. Dengan mengikuti tips di atas, semoga kamu bisa menemukan lokasi terbaik untuk bisnismu!

Impor Ilegal Memuncak, Industri Tekstil Indonesia Kehilangan 250 Ribu Tenaga Kerja

0

Industri tekstil Indonesia kini berada di ujung tanduk. Dalam dua tahun terakhir, sebanyak 60 perusahaan tekstil harus menghentikan operasionalnya, menyebabkan sekitar 250 ribu pekerja kehilangan pekerjaan. Data ini diungkapkan oleh Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI) pada periode 2022-2024.

“Di tahun 2024, semakin banyak pabrik yang gulung tikar. Hingga kini, sudah ada sekitar 60 perusahaan tekstil di sektor hilir dan tengah yang tutup. Akibatnya, sekitar 250 ribu tenaga kerja terkena PHK,” ujar Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, Rabu (18/12/2024).

Impor Ilegal, Penyebab Utama Krisis

Redma menjelaskan, salah satu penyebab utama keruntuhan sektor tekstil adalah maraknya impor ilegal. Barang-barang ini masuk ke pasar domestik tanpa pengawasan yang memadai dari pihak berwenang. Situasi tersebut memperparah kondisi industri tekstil yang sebelumnya sudah menghadapi penurunan selama satu dekade terakhir akibat deindustrialisasi.

“Impor ilegal ini sangat merugikan. Sekitar 40 persen produk tekstil yang masuk ke Indonesia tidak tercatat secara resmi. Hal ini membuat perusahaan lokal semakin sulit bersaing,” tambahnya.

Ironisnya, pandemi COVID-19 sempat memberikan harapan bagi industri tekstil nasional. Pada tahun 2021, ketika impor dari Tiongkok terhenti akibat lockdown, produksi tekstil domestik mengalami kebangkitan sementara. Namun, begitu pembatasan impor dicabut, pasar kembali dibanjiri produk murah ilegal, memaksa banyak perusahaan untuk tutup.

Dampak Meluas ke Sektor Lain

Tak hanya memukul industri tekstil, krisis ini juga memengaruhi sektor-sektor terkait, seperti petrokimia dan energi. Produksi Purified Terephthalic Acid (PTA), bahan baku utama tekstil, ikut terganggu. Akibatnya, permintaan listrik dari industri tekstil pun ikut menurun.

“Impor yang tak terkendali ini mengurangi kapasitas produksi industri kita. Dampaknya terasa hingga ke sektor energi dan logistik,” jelas Redma.

Industri tekstil sendiri memegang peranan penting dalam ekonomi Indonesia, menyumbang 11,73 persen konsumsi listrik sektor industri dan 5,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, derasnya arus barang impor ilegal telah menggerus kontribusi ini.

Solusi: Atasi Impor Ilegal dan Tingkatkan Daya Saing

Redma mendesak pemerintah untuk segera bertindak mengatasi permasalahan impor ilegal. Menurutnya, jika pasar domestik bisa dibersihkan dari barang ilegal, industri tekstil Indonesia berpotensi menyumbang hingga 8 persen terhadap PDB nasional.

Beberapa langkah yang disarankan mencakup pembatasan impor yang lebih ketat dan perbaikan sistem di pelabuhan, termasuk penggunaan scanner dan sinkronisasi data manifest impor. “Sistem di pelabuhan kita masih banyak celah. Barang ilegal masuk dengan mudah karena data manifest impor tidak sinkron dengan pengawasan fisik,” tegas Redma.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya meningkatkan daya saing produk lokal. Dengan memanfaatkan pasar domestik yang besar, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan kembali menghidupkan industri tekstil yang kini sedang terpuruk.

“Namun, semua ini harus dimulai dari regulasi yang lebih baik dan upaya serius menangani impor ilegal,” tutupnya.

Amankan Industri Lokal, Kemenperin Sita Produk Tanpa Sertifikasi SNI

0

Untuk menjaga daya saing dan produktivitas industri dalam negeri serta memastikan persaingan usaha yang sehat, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan pengawasan terhadap penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang telah diwajibkan. Langkah ini juga bertujuan melindungi pasar domestik dari masuknya produk impor ilegal yang berpotensi merugikan industri lokal.

“Pengawasan penerapan SNI Wajib sangat penting untuk melindungi industri dalam negeri dari serbuan produk impor ilegal sekaligus menciptakan persaingan usaha yang adil,” kata Inspektur Jenderal Kemenperin, M. Rum, saat menyampaikan hasil pengawasan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/12).

Produk Tanpa SPPT-SNI Diamankan

Sebagai bagian dari pengawasan rutin, Kemenperin berhasil mengamankan berbagai produk yang tidak memiliki Sertifikat Produk Penggunaan Tanda (SPPT) SNI. Produk-produk tersebut meliputi alat elektronik, sepatu pengaman, mainan anak, hingga peralatan mesin pertanian. Beberapa di antaranya adalah:

  • Sprayer gendong semi otomatis sebanyak 1.320 unit senilai Rp396 juta (merek IMISA dan FARMJET).
  • Sepatu pengaman sejumlah 1.701 pasang dengan nilai Rp2,8 miliar (merek CATERPILLAR, NAVIGO, SEPTIGO).
  • Mainan anak sebanyak 44.133 unit senilai Rp1,5 miliar (merek HOCHIHOKU dan ZAVANESE).
  • Speaker aktif sebanyak 196 unit senilai Rp311 juta (merek W-KING, URBANO, HAFSUN).

Kemenperin, bersama Kepolisian Republik Indonesia (Polri), telah memerintahkan penghentian kegiatan usaha para pelaku yang memasarkan produk tanpa SPPT-SNI tersebut. Selain itu, peredaran produk-produk tersebut dilarang di seluruh wilayah Indonesia.

“Kami tegas melarang pelaku usaha tersebut untuk melanjutkan kegiatan impornya. Produk dengan merek-merek yang melanggar SNI tidak boleh beredar. Kami juga mengingatkan semua produsen dan importir lainnya untuk memastikan barang yang mereka pasarkan telah memiliki SPPT-SNI,” ujar Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Andi Rizaldi.

Bahaya Produk Tanpa Sertifikasi

Ia menambahkan bahwa tanpa sertifikasi SNI, produk impor berpotensi membahayakan keselamatan pengguna sekaligus mengganggu persaingan usaha di pasar domestik. Mayoritas produk yang ditemukan tanpa sertifikasi tersebut diketahui berasal dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Kemenperin akan terus menegakkan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. “Setiap pelanggaran terhadap UU tersebut akan ditindak tegas,” tegas Andi.

Saat ini, terdapat 131 jenis produk yang wajib memenuhi standar SNI. Ke depan, Kemenperin berharap jumlah produk yang diwajibkan memenuhi SNI terus bertambah, seiring upaya memperkuat regulasi dan pengawasan di sektor ini.

“Langkah ini adalah komitmen kami untuk memastikan bahwa industri lokal dapat terus tumbuh dan bersaing secara adil di pasar domestik,” pungkas Andi.

Mau Produk Kamu Dilirik? Yuk, Buat Tagline Keren dengan Cara Ini!

Dalam dunia bisnis, tagline memiliki peran penting sebagai “pengenal singkat” yang melekat di benak konsumen. Tagline yang baik mampu menggambarkan nilai produk atau brand dengan kata-kata yang singkat, menarik, dan mudah diingat. Nah, jika kamu sedang berusaha menciptakan tagline untuk promosi, Berempat.com akan memberi beberapa cara yang bisa kamu ikuti agar tagline kamu bisa menarik perhatian calon pelanggan.

1. Buat Singkat, Padat, dan Mudah Diingat

Tagline yang baik itu tidak bertele-tele. Ingat, tujuan utama tagline adalah agar mudah diingat oleh audiens. Coba gunakan 3 sampai 7 kata saja yang benar-benar mewakili produk atau brand kamu.

Contoh:

  • Nike: “Just Do It”
  • Aqua: “Ada Aqua?”

Kedua tagline ini sangat singkat, tapi langsung melekat di kepala orang, bukan?

2. Pastikan Sesuai dengan Identitas Brand

Tagline harus mencerminkan apa yang ditawarkan brand atau produk kamu. Mulai dari nilai, visi, atau keunggulan yang ingin kamu tonjolkan. Tagline yang tepat akan membantu pelanggan langsung memahami siapa kamu dan apa yang kamu tawarkan.

Contoh:

  • Apple: “Think Different” (Mencerminkan inovasi dan kreativitas yang beda dari kompetitor)
  • Indomie: “Indomie Seleraku” (Membangun kesan produk yang dekat dengan selera semua orang)

Sebelum membuat tagline, tanyakan dulu ke diri sendiri:

  • Apa kelebihan produk atau brand saya?
  • Siapa target pasar saya?

Jawaban dari pertanyaan ini bisa membantu kamu menemukan ide tagline yang lebih relevan.

3. Tonjolkan Manfaat atau Nilai Produk

Tagline yang efektif adalah yang menawarkan sesuatu kepada konsumen. Apa sih manfaat utama produk kamu? Kenapa orang harus memilih produk atau brand kamu? Jika kamu bisa menyampaikan manfaat itu dengan kata-kata yang simpel, maka tagline kamu akan punya dampak yang lebih kuat.

Contoh:

  • L’Oréal: “Because You’re Worth It” (Menawarkan nilai lebih: setiap wanita berhak merasa berharga)
  • Burger King: “Have It Your Way” (Menekankan kebebasan pelanggan memilih sesuai keinginan)

4. Gunakan Kata-Kata yang Mudah Dipahami dan Menarik

Jangan menggunakan kata-kata yang terlalu rumit atau sulit dimengerti. Kata yang sederhana tapi menarik justru lebih efektif. Jika memungkinkan, gunakan rima atau permainan kata untuk membuat tagline terdengar lebih catchy dan enak diingat.

Contoh:

  • M&M’s: “Melts in Your Mouth, Not in Your Hands” (Menggunakan rima sederhana yang bikin menarik)
  • Teh Botol Sosro: “Apapun Makanannya, Minumnya Teh Botol Sosro”

Permainan kata yang kreatif akan membuat tagline kamu lebih “nempel” di kepala konsumen.

5. Ciptakan Emosi atau Kesan Positif

Tagline yang bagus biasanya mampu membangkitkan emosi positif atau membangun hubungan dengan pelanggan. Coba buat tagline yang memicu rasa senang, nyaman, percaya, atau bahkan semangat.

Contoh:

  • Disneyland: “The Happiest Place on Earth” (Membangkitkan rasa bahagia dan imajinasi)
  • McDonald’s: “I’m Lovin’ It” (Membangun kesan positif tentang makanan yang enak dan menyenangkan)

Dengan tagline yang penuh emosi, pelanggan akan lebih mudah merasa terhubung dengan brand kamu.

6. Jangan Takut untuk Bereksperimen

Menciptakan tagline yang menarik butuh waktu dan percobaan. Jangan terburu-buru merasa puas dengan satu ide. Tulis beberapa versi tagline, minta masukan dari teman atau kolega, lalu pilih yang paling kuat dan sesuai dengan identitas brand kamu.

7. Pastikan Tagline Relevan untuk Jangka Panjang

Tagline yang efektif adalah yang bisa bertahan lama dan tidak mudah usang. Jangan terlalu fokus pada tren sesaat, karena tagline yang timeless akan selalu terasa relevan meskipun bisnis kamu terus berkembang.

Contoh:

  • KFC: “It’s Finger Lickin’ Good”
    Tagline ini tetap relevan meski sudah digunakan selama bertahun-tahun.

Membuat tagline yang efektif memang membutuhkan kreativitas, tapi bukan berarti sulit. Dengan fokus pada identitas brand, manfaat produk, dan penggunaan kata yang simpel, kamu bisa menciptakan tagline yang kuat, menarik, dan mudah diingat oleh pelanggan.

Ingat, tagline adalah “suara kecil” yang mewakili brand kamu di benak konsumen. Jadi, buatlah tagline yang bisa berbicara banyak dengan kata-kata yang singkat. Semoga tips di atas bisa membantu kamu menemukan tagline yang paling pas untuk produk atau bisnismu!

Siap-Siap! Tarif Netflix, Spotify, dan YouTube Naik di 2025, PPN Jadi 12 Persen

0

Mulai tahun 2025, tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan naik dari 11 persen menjadi 12 persen. Kebijakan ini akan berlaku pada berbagai layanan over-the-top (OTT) populer seperti Netflix, Spotify, dan YouTube. Dengan adanya peningkatan tarif PPN tersebut, biaya berlangganan layanan streaming dipastikan ikut melonjak.

Direktur Jenderal Pajak, Suryo Utomo, memastikan bahwa kebijakan ini berlaku merata untuk semua layanan digital berbayar. “Ya, akan kena PPN 12 persen. Semua layanan seperti Netflix, Spotify, dan sejenisnya juga ikut dikenakan,” ujar Suryo saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (16/12).

Kenaikan PPN ini merupakan implementasi dari Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Langkah ini diambil pemerintah sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan penerimaan pajak nasional.

Rincian Harga Berlangganan Setelah PPN 12 Persen

Berikut ini perbandingan tarif berlangganan layanan streaming populer sebelum dan setelah kenaikan PPN menjadi 12 persen:

1. Harga Langganan Netflix

  • Paket Mobile
    • Harga normal: Rp 54.000/bulan
    • Setelah PPN 11%: Rp 59.940/bulan
    • Setelah PPN 12%: Rp 60.480/bulan
  • Paket Basic
    • Harga normal: Rp 65.000/bulan
    • Setelah PPN 11%: Rp 72.150/bulan
    • Setelah PPN 12%: Rp 72.800/bulan
  • Paket Standard
    • Harga normal: Rp 120.000/bulan
    • Setelah PPN 11%: Rp 133.200/bulan
    • Setelah PPN 12%: Rp 134.400/bulan
  • Paket Premium
    • Harga normal: Rp 186.000/bulan
    • Setelah PPN 11%: Rp 206.460/bulan
    • Setelah PPN 12%: Rp 208.320/bulan

2. Harga Langganan Spotify

  • Paket Mini
    • Harga normal: Rp 10.700/minggu
    • Setelah PPN 11%: Rp 11.877/minggu
    • Setelah PPN 12%: Rp 11.984/minggu
  • Paket Individual
    • Harga normal: Rp 54.990/bulan
    • Setelah PPN 11%: Rp 61.038/bulan
    • Setelah PPN 12%: Rp 61.588/bulan

3. Harga Langganan YouTube Premium

  • Paket Perorangan
    • Harga normal: Rp 69.000/bulan
    • Setelah PPN 11%: Rp 76.590/bulan
    • Setelah PPN 12%: Rp 77.280/bulan
  • Paket Keluarga
    • Harga normal: Rp 139.000/bulan
    • Setelah PPN 11%: Rp 154.290/bulan
    • Setelah PPN 12%: Rp 155.680/bulan

Dampak Kenaikan PPN

Dengan penerapan tarif PPN baru yang naik sebesar 12 persen, masyarakat yang menggunakan layanan streaming digital akan merasakan kenaikan harga langganan. Meski selisihnya relatif kecil, kebijakan ini dipastikan akan berdampak langsung pada pengeluaran rutin pelanggan setia layanan digital berbayar.

Pemerintah berharap kenaikan PPN ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan pajak nasional, seiring dengan tren meningkatnya konsumsi layanan digital di Indonesia. Di sisi lain, konsumen diharapkan tetap dapat menyesuaikan kebutuhannya terhadap layanan streaming favorit mereka.

Dengan adanya penyesuaian tarif ini, pengguna perlu mempertimbangkan anggaran berlangganan di tahun depan.

Belanja Produk Lokal di BINA Diskon 2024, Ikut Dukung Ekonomi Indonesia

0

Wamendag, Dyah Roro Esti Widya Putri, mengajak masyarakat Indonesia untuk menunjukkan kebanggaan terhadap budaya dan kreativitas bangsa melalui pembelian produk lokal. Menurut Roro, setiap produk dalam negeri mencerminkan kreativitas, inovasi, dan kerja keras masyarakat Indonesia yang menjadi kebanggaan bersama. Hal ini ia sampaikan dalam konferensi pers peluncuran program “Belanja di Indonesia Aja (BINA) Diskon 2024″ yang berlangsung di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (16/12).

Turut hadir dalam acara ini, Plt. Sekretaris Ditjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Krisna Ariza, Direktur Bina Usaha Perdagangan Septo Soepriyatno, serta sejumlah pejabat lainnya. Dalam sambutannya, Wamendag Roro menegaskan pentingnya mendukung produk lokal sebagai salah satu cara memperkuat ekonomi nasional dan memastikan keberlanjutan pembangunan.

“Membeli produk lokal adalah wujud nyata penghormatan kita terhadap budaya bangsa. Dengan memilih produk dalam negeri, kita tidak hanya menghargai kerja keras pelaku usaha lokal, tetapi juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, pembelian produk lokal memberikan kontribusi penting bagi keberlanjutan ekonomi kita di pasar global,” ujar Wamendag Roro.

Mendorong Kebangkitan Ekonomi Nasional

Perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) sering kali menjadi momen yang penuh makna untuk berkumpul bersama keluarga. Wamendag berharap momen ini juga dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat ekonomi nasional. Ia menyoroti bahwa tantangan dan peluang ekonomi sepanjang 2024 telah membuktikan resiliensi bangsa Indonesia.

“Dengan kerja keras dan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, dan masyarakat, kita berhasil melewati berbagai dinamika ekonomi. Kementerian Perdagangan akan terus mendukung kebijakan yang mempermudah pelaku usaha ritel dalam negeri dan menciptakan iklim usaha yang kondusif,” tambahnya.

Program BINA Diskon 2024 diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat serta memperkuat kehadiran produk lokal di pasar domestik maupun internasional. Wamendag Roro menekankan bahwa program ini juga menjadi momentum strategis bagi merek-merek lokal untuk menunjukkan keunggulan mereka di tengah persaingan dengan produk internasional.

Sinergi Pemerintah dan Pelaku Usaha

Salah satu target utama program BINA Diskon adalah mengangkat produk-produk lokal unggulan, khususnya yang berasal dari pelaku UMKM. Pemerintah berharap program ini dapat memfasilitasi pelaku UMKM untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo). Melalui rantai pasokan global yang mereka miliki, produk-produk lokal dapat lebih dikenal dan diterima di pasar internasional,” terang Wamendag Roro.

Ketua Pelaksana BINA Diskon, Fetty Kwartati, memaparkan bahwa program ini akan digelar mulai 20 hingga 29 Desember 2024 di berbagai ritel di seluruh Indonesia. Program ini melibatkan 380 perusahaan, 80.000 gerai, 800 merek, dan 396 pusat perbelanjaan di 24 provinsi.

“Kami menyediakan berbagai promo menarik, mulai dari diskon hingga 70 persen, promo beli satu gratis satu, hingga diskon khusus sebesar 54 persen. Selain itu, kami juga menghadirkan Pasar Malam BINA yang berlangsung di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, pada 20–22 Desember 2024,” papar Fetty.

Pasar Malam BINA akan menyuguhkan berbagai produk dari UMKM, makanan khas, jajanan lokal, hingga pertunjukan seni budaya yang memeriahkan suasana.

Dukungan untuk Produk Lokal dan UMKM

Wamendag Roro menegaskan bahwa BINA Diskon adalah bagian dari upaya strategis pemerintah untuk mendorong konsumsi produk dalam negeri dan memperkuat posisi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Melalui program ini, pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan eksposur dan daya saing produk mereka.

“Pemerintah mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung produk dalam negeri. Dengan membeli produk lokal, kita mendapatkan barang berkualitas sekaligus membantu para pelaku usaha lokal,” kata Wamendag Roro.

Selain Wamendag Roro, sejumlah tokoh penting juga hadir, seperti Ketua Umum Hippindo, Plh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), dan Kepala Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta.

Program BINA Diskon 2024 diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing produk lokal, tetapi juga menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju tahun 2025.

Hemat Waktu! Begini Cara Sederhana Menghitung Laba Bersih

Menghitung laba bersih dari suatu produk adalah langkah penting untuk mengetahui seberapa menguntungkan produk yang kamu jual. Laba bersih memberikan gambaran jelas tentang keuntungan sesungguhnya setelah semua biaya dan pengeluaran diperhitungkan. Kali ini Berempat.com akan menjelaskan cara menghitung laba bersih dengan langkah sederhana, disertai contoh agar mudah dipahami.

Apa Itu Laba Bersih?

Laba bersih adalah sisa uang yang diperoleh setelah semua biaya, pajak, dan pengeluaran bisnis dikurangi dari total pendapatan. Dalam istilah sederhana, laba bersih adalah keuntungan “bersih” yang benar-benar menjadi milikmu.

Laba bersih biasanya dihitung berdasarkan formula berikut:

Laba Bersih = Pendapatan Total – (Biaya Tetap + Biaya Variabel + Pajak + Pengeluaran Lainnya)

Langkah-Langkah Menghitung Laba Bersih

  1. Hitung Total Pendapatan
    Total pendapatan adalah jumlah uang yang kamu hasilkan dari penjualan produk. Untuk menghitungnya, cukup kalikan jumlah produk yang terjual dengan harga jual per produk.

    Contoh:
    Kamu menjual 100 produk dengan harga Rp50.000 per produk.
    Total Pendapatan = 100 x Rp50.000 = Rp5.000.000

  2. Identifikasi Biaya Tetap
    Biaya tetap adalah pengeluaran yang tidak berubah, terlepas dari berapa banyak produk yang kamu jual. Contohnya adalah biaya sewa tempat, gaji karyawan tetap, atau biaya listrik bulanan.

    Contoh:
    Biaya sewa tempat Rp1.000.000 per bulan dan gaji karyawan tetap Rp1.500.000 per bulan.
    Total Biaya Tetap = Rp1.000.000 + Rp1.500.000 = Rp2.500.000

  3. Hitung Biaya Variabel
    Biaya variabel adalah pengeluaran yang berubah sesuai jumlah produk yang dibuat atau terjual, seperti biaya bahan baku atau ongkos produksi.

    Contoh:
    Biaya bahan baku untuk setiap produk adalah Rp20.000, dan kamu memproduksi 100 produk.
    Total Biaya Variabel = 100 x Rp20.000 = Rp2.000.000

  4. Perhitungkan Pajak atau Pengeluaran Lainnya
    Jika bisnis kamu dikenakan pajak atau ada pengeluaran lain seperti biaya pemasaran, masukkan angka tersebut dalam perhitungan.

    Contoh:
    Pajak yang harus dibayar adalah Rp250.000.
    Total Pengeluaran Lainnya = Rp250.000

  5. Masukkan Semua Komponen ke Formula Laba Bersih
    Setelah semua data terkumpul, gunakan rumus untuk menghitung laba bersih:

    Laba Bersih = Pendapatan Total – (Biaya Tetap + Biaya Variabel + Pajak + Pengeluaran Lainnya)

    Contoh Lengkap:

    • Total Pendapatan = Rp5.000.000
    • Biaya Tetap = Rp2.500.000
    • Biaya Variabel = Rp2.000.000
    • Pajak = Rp250.000

    Laba Bersih = Rp5.000.000 – (Rp2.500.000 + Rp2.000.000 + Rp250.000)
    Laba Bersih = Rp5.000.000 – Rp4.750.000 = Rp250.000

Jadi, laba bersih dari penjualan produk adalah Rp250.000.

Tips untuk Memaksimalkan Laba Bersih

  • Kurangi Biaya Produksi: Cari bahan baku yang lebih murah tanpa mengorbankan kualitas.
  • Tingkatkan Volume Penjualan: Dengan menjual lebih banyak produk, pendapatan total akan meningkat.
  • Optimalkan Biaya Operasional: Evaluasi pengeluaran tetap dan variabel, dan potong pengeluaran yang tidak perlu.
  • Strategi Harga yang Tepat: Pastikan harga jual sudah mencakup semua biaya dan memberikan margin keuntungan yang wajar.

Menghitung laba bersih sangat penting untuk mengetahui apakah bisnismu benar-benar menghasilkan keuntungan atau tidak. Dengan mengikuti langkah-langkah sederhana di atas, kamu bisa dengan mudah menghitung laba bersih dari setiap produk yang kamu jual.

Ingat, semakin baik kamu memahami komponen biaya dan pendapatan, semakin besar peluangmu untuk mengelola bisnis dengan efisien dan meraih keberhasilan. Jadi, pastikan kamu selalu memantau arus kas dan terus mencari cara untuk meningkatkan keuntungan!

PPN 12% Mulai Januari 2025, Stimulus Ekonomi Jadi Perisai Kesejahteraan

0

Pada konferensi pers terkait Paket Kebijakan Ekonomi untuk Kesejahteraan yang digelar Senin (15/12), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa mulai 1 Januari 2025, pemerintah akan menerapkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12%. Kebijakan ini merupakan bagian dari reformasi perpajakan yang sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

“Pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif dalam bentuk Paket Stimulus Ekonomi agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga meski tarif PPN dinaikkan,” ujar Airlangga.

Insentif untuk Barang dan Jasa Esensial

Meskipun PPN dinaikkan, pemerintah memastikan sejumlah barang dan jasa esensial tetap bebas PPN atau dikenakan tarif 0%. Barang dan jasa tersebut meliputi kebutuhan pokok seperti beras, daging, ikan, telur, sayur-mayur, susu segar, dan gula konsumsi. Selain itu, sektor lain seperti jasa pendidikan, kesehatan, angkutan umum, dan kebutuhan penting seperti listrik, air minum, serta buku juga mendapatkan pembebasan pajak.

Proyeksi total insentif PPN yang dibebaskan pada tahun 2025 diperkirakan mencapai Rp265,6 triliun.

Stimulus untuk Rumah Tangga Berpenghasilan Rendah

Pemerintah memberikan perhatian khusus kepada kelompok rumah tangga berpendapatan rendah. Salah satu bentuk insentif adalah PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 1% untuk barang kebutuhan pokok penting (Bapokting), seperti minyak goreng, tepung terigu, dan gula industri, sehingga tarif efektif PPN untuk barang-barang ini tetap 11%. Langkah ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat dan mencegah lonjakan harga kebutuhan pokok.

Selain itu, pemerintah akan memberikan bantuan pangan berupa 10 kg beras per bulan kepada 16 juta penerima manfaat pada Januari dan Februari 2025. Rumah tangga berdaya listrik hingga 2200 VA juga akan mendapatkan diskon biaya listrik sebesar 50% selama dua bulan di awal tahun.

Insentif untuk Kelas Menengah

Bagi masyarakat kelas menengah, berbagai kebijakan yang ada akan dilanjutkan, seperti:

  • PPN DTP untuk properti dengan harga jual hingga Rp5 miliar.
  • PPN DTP untuk kendaraan listrik roda empat dan bus tertentu.
  • Pembebasan Bea Masuk untuk impor kendaraan listrik tertentu.

Selain itu, kebijakan baru juga diperkenalkan, termasuk insentif PPh Pasal 21 DTP untuk pekerja di sektor padat karya dengan penghasilan hingga Rp10 juta per bulan, relaksasi iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebesar 50%, serta optimalisasi program Jaminan Kehilangan Pekerjaan dari BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja yang terkena PHK.

Dukungan untuk UMKM dan Dunia Usaha

Tak hanya masyarakat umum, dunia usaha juga mendapatkan perhatian pemerintah. UMKM yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional akan mendapatkan perpanjangan insentif PPh Final 0,5% hingga 2025. UMKM dengan omzet di bawah Rp500 juta per tahun juga dibebaskan dari pengenaan pajak penghasilan.

Pemerintah juga menawarkan subsidi bunga sebesar 5% untuk pembiayaan industri padat karya yang ingin meningkatkan produktivitas melalui revitalisasi mesin.

“Paket Kebijakan Ekonomi ini tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga mendorong pelaku usaha, menjaga stabilitas harga, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional,” ungkap Menko Airlangga.

PPN 12% untuk Barang dan Jasa Mewah

Sebagai bentuk keadilan dan gotong royong, barang dan jasa mewah yang sebelumnya tidak dikenakan PPN kini akan mulai dikenai tarif 12%. Barang-barang tersebut meliputi bahan makanan premium seperti beras dan daging berkualitas tinggi, layanan pendidikan serta kesehatan premium, hingga listrik rumah tangga dengan daya 3500 VA ke atas.

Pemerintah optimis bahwa paket kebijakan ini akan menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, dukungan kepada pelaku usaha, dan pertumbuhan ekonomi di tahun 2025.

Konsumsi Listrik Naik Saat Nataru? PLN Siap Hadapi Kebutuhan Energi 2025

0

Dirjen Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu memastikan bahwa pasokan listrik selama libur Natal dan Tahun Baru 2025 (Nataru) berada dalam kondisi aman. Hal ini diungkapkan setelah menerima laporan langsung dari PT PLN (Persero) saat kunjungan kerja ke PLTU Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Sabtu (14/12).

Jisman menyebut, berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Direktur Transmisi PT PLN (Persero), Evy Hariyadi, cadangan daya listrik atau reserve margin masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan listrik selama periode Natal dan Tahun Baru.
“Kami sudah mendapatkan laporan dari PLN. Secara cadangan, kondisi kelistrikan aman untuk Natal dan Tahun Baru ini,” ungkapnya.

Tren Konsumsi Listrik Saat Nataru

Menurut Jisman, konsumsi listrik saat libur Nataru biasanya menurun hingga 13%. Hal ini terjadi secara alami, meskipun pada tahun lalu, terdapat kenaikan konsumsi listrik sebesar 8%.
“Biasanya pada Nataru, konsumsi listrik turun sekitar 13%. Namun, tahun lalu terjadi kenaikan 8%, yang sebenarnya merupakan hal positif karena mencerminkan adanya pertumbuhan ekonomi,” jelas Jisman.

Ia menambahkan, peningkatan konsumsi listrik menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi yang mengindikasikan pertumbuhan di berbagai sektor.

PLN memaparkan bahwa kondisi kelistrikan Sistem Kalimantan hingga 12 Desember 2024 menunjukkan performa yang stabil. Sistem ini memiliki Beban Puncak (BP) sebesar 2.359 MW dengan Cadangan Daya sebesar 309 MW, Daya Mampu Netto sebesar 2.941 MW, serta Kapasitas Trafo Daya sebesar 6.741 MVA.
Sistem Kelistrikan Kalimantan didukung oleh 96 gardu induk dan jaringan transmisi sepanjang 8.476 kilometer atau setara dengan 12.072 menara.

PLN juga memberikan proyeksi terkait beban puncak selama libur Natal dan Tahun Baru di Kalimantan:

  • Sistem Khatulistiwa: Beban puncak malam 25 Desember 2024 diproyeksikan sebesar 479 MW, naik 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, namun turun 15,68% dibandingkan hari kerja. Pada malam Tahun Baru 31 Desember 2024, beban puncak diperkirakan mencapai 516 MW, naik 24% dibandingkan periode tahun lalu, namun turun 2,79% dibandingkan hari kerja.
  • Sistem Interkoneksi: Prognosa beban puncak malam Natal 25 Desember 2024 diperkirakan sebesar 1.639 MW, naik 13% dibandingkan tahun lalu dan turun 9,93% dibandingkan hari kerja. Sedangkan pada malam Tahun Baru, beban puncak diperkirakan sebesar 1.701 MW, naik 15% dibandingkan tahun lalu dan turun tipis 0,41% dibandingkan hari kerja.

Pemantauan Posko Nasional Sektor ESDM

Untuk menjaga stabilitas pasokan energi selama libur Nataru, Kementerian ESDM telah membentuk Posko Nasional Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral. Posko ini bertugas memantau kelancaran pasokan listrik, bahan bakar minyak (BBM), gas, dan juga memonitor potensi kebencanaan geologi.
Dengan langkah ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati momen Natal dan Tahun Baru dengan nyaman tanpa khawatir terhadap pasokan energi.

Jisman pun mengapresiasi kesiapan PLN dalam mengantisipasi kebutuhan energi selama Nataru, sembari berharap tren konsumsi listrik yang positif akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Cara Bijak Kelola Keuangan Bisnis Syariah Agar Terhindar dari Riba

Mengelola keuangan dalam bisnis syariah tidak hanya soal mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga memastikan seluruh aktivitas bisnis selaras dengan prinsip-prinsip syariah. Salah satu hal utama yang menjadi perhatian adalah menghindari riba, yang dilarang dalam Islam, sekaligus memastikan keberkahan dalam setiap langkah bisnis. Bagaimana caranya? kali ini Berempat.com akan memberi beberapa kiat yang bisa kamu terapkan.

1. Pisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis

Langkah pertama yang penting dalam mengelola keuangan bisnis syariah adalah memisahkan antara keuangan pribadi dan bisnis. Hal ini membantu kamu memantau arus kas bisnis secara jelas dan menghindari campur aduk dana yang dapat menimbulkan kebingungan. Gunakan rekening bank khusus untuk bisnismu dan pilihlah bank syariah yang tidak menggunakan sistem bunga.

Dengan cara ini, kamu memastikan bahwa dana bisnismu dikelola sesuai prinsip syariah sekaligus lebih transparan dalam perencanaan dan pelaporan keuangan.

2. Hindari Pinjaman dengan Sistem Bunga

Riba atau bunga adalah salah satu hal yang dilarang dalam prinsip syariah. Oleh karena itu, hindarilah mengambil pinjaman dari lembaga keuangan konvensional yang mengenakan bunga. Sebagai gantinya, kamu bisa memanfaatkan produk pembiayaan syariah seperti murabahah (jual beli dengan margin), mudharabah (bagi hasil), atau musyarakah (kerja sama modal).

Produk pembiayaan ini tidak hanya sesuai dengan prinsip syariah, tetapi juga memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan bisnis. Pastikan kamu memahami akad yang digunakan agar sesuai dengan kebutuhan usahamu.

3. Kelola Keuangan dengan Transparansi dan Akuntabilitas

Prinsip kejujuran adalah fondasi dalam bisnis syariah. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Buat pencatatan keuangan yang rinci untuk setiap transaksi bisnis, baik pemasukan maupun pengeluaran. Gunakan sistem akuntansi yang sesuai dengan standar syariah untuk mempermudah proses pencatatan dan pelaporan.

Transparansi ini tidak hanya membantu kamu mengelola bisnis dengan lebih baik, tetapi juga menjaga kepercayaan mitra, karyawan, dan pelanggan.

4. Alokasikan Sebagian Keuntungan untuk Zakat

Dalam Islam, keberkahan bisnis tidak hanya datang dari keuntungan finansial, tetapi juga dari kebermanfaatan bagi orang lain. Salah satu cara untuk menjaga keberkahan adalah dengan membayar zakat dari keuntungan yang diperoleh. Alokasikan minimal 2,5% dari laba bersih untuk zakat, atau lebih sesuai jenis harta yang diwajibkan zakat.

Selain zakat, kamu juga dapat mengalokasikan dana untuk infak atau sedekah sebagai bentuk kontribusi sosial. Dengan cara ini, bisnismu tidak hanya tumbuh secara material, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

5. Pilih Investasi yang Halal dan Berkah

Jika bisnismu memiliki kelebihan dana, pastikan investasi yang dilakukan sesuai dengan prinsip syariah. Hindari investasi yang berhubungan dengan sektor haram seperti alkohol, perjudian, atau produk non-halal lainnya. Sebagai gantinya, pilihlah investasi di sektor yang halal, seperti properti, saham syariah, atau sukuk (obligasi syariah).

Investasi yang halal dan sesuai syariah tidak hanya memberikan keuntungan materi, tetapi juga menjamin keberkahan di masa depan.

6. Perencanaan Keuangan Jangka Panjang

Mengelola keuangan bisnis syariah juga memerlukan perencanaan yang matang, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang. Susun anggaran dengan memprioritaskan kebutuhan utama bisnis, seperti biaya operasional, pembelian bahan baku, dan gaji karyawan. Hindari pemborosan atau pengeluaran yang tidak diperlukan.

Selain itu, pastikan kamu memiliki dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga, sehingga bisnis tetap berjalan tanpa harus mencari pinjaman berbunga.

7. Perkuat Niat dan Etika Bisnis Syariah

Mengelola bisnis syariah tidak hanya soal strategi keuangan, tetapi juga soal niat yang lurus dan etika yang baik. Pastikan setiap langkah bisnis dilakukan dengan niat untuk memberikan manfaat dan keberkahan bagi semua pihak, baik pelanggan, mitra, maupun masyarakat luas.

Dengan menjaga niat yang baik dan berpegang pada prinsip syariah, kamu akan merasakan keberkahan dalam bisnis, bahkan di tengah tantangan yang dihadapi.

Mengelola keuangan bisnis syariah membutuhkan ketelitian dan komitmen untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip Islam. Dengan memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, menghindari riba, membayar zakat, dan memilih investasi halal, kamu tidak hanya menjaga bisnis tetap berjalan dengan baik, tetapi juga memastikan keberkahan dalam setiap langkah.

Ingatlah bahwa bisnis syariah bukan hanya tentang mengejar keuntungan duniawi, tetapi juga tentang memberikan manfaat bagi sesama dan mencari ridha Allah. Dengan kiat-kiat ini, kamu bisa membangun bisnis yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga penuh berkah.