Hotspot Jatuh 92,6 Persen, Kebakaran di Kalimantan Tetap Perlu Diwaspadai!

0
59
Hotspot Jatuh 92,6 Persen, Kebakaran di Kalimantan Tetap Perlu Diwaspadai!
Hotspot Jatuh 92,6 Persen, Kebakaran di Kalimantan Tetap Perlu Diwaspadai! (Dok Foto: Kemenhut)
Pojok Bisnis

Pemantauan terbaru menunjukkan jumlah titik panas mulai menurun, termasuk di wilayah yang sebelumnya menjadi perhatian utama. Meski demikian, Kebakaran di Kalimantan masih perlu diwaspadai karena kondisi cuaca kering dan rendahnya curah hujan berpotensi mempertahankan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kementerian Kehutanan mencatat jumlah hotspot secara nasional turun cukup tajam dalam sehari. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi), terdapat 2.170 titik panas pada 19 Agustus 2026. Sehari kemudian, jumlah tersebut berkurang menjadi 950 titik.

Data tersebut diperoleh melalui pemantauan satelit Terra-Aqua NASA dengan tingkat kepercayaan menengah dan tinggi. Penghitungan dilakukan hingga pukul 23.59 WIB setiap harinya. Dengan metode pengamatan yang sama, terjadi penurunan 1.220 hotspot atau sekitar 56,2 persen.

Hotspot Kebakaran di Kalimantan Turun Signifikan

Penurunan paling besar terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat yang sebelumnya mencatat 784 titik panas pada 19 Agustus turun menjadi 82 titik sehari kemudian.

PT Mitra Mortar indonesia

Sementara itu, Kalimantan Tengah mengalami penurunan dari 694 menjadi hanya 22 hotspot. Di Kalimantan Selatan, jumlah titik panas juga turun dari 85 menjadi 12 titik.

Jika digabungkan, tiga provinsi tersebut mencatat penurunan hotspot dari 1.563 menjadi 116 titik atau sekitar 92,6 persen hanya dalam satu hari.

Meski menjadi perkembangan positif, penurunan titik panas belum dapat diartikan seluruh Kebakaran di Kalimantan telah berhasil dipadamkan. Hotspot merupakan indikator anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak selalu berarti terjadi kebakaran.

Hasil pemantauan juga dapat dipengaruhi tutupan awan, kondisi atmosfer, waktu lintasan satelit, serta kemampuan sensor dalam menangkap sumber panas. Karena itu, temuan hotspot tetap membutuhkan pemeriksaan langsung di lapangan.

Cuaca Kering Pertahankan Risiko Karhutla

Kewaspadaan terhadap Kebakaran di Kalimantan tetap diperlukan karena sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi kemarau. Data BMKG yang diperbarui pada 21 Agustus 2026 menunjukkan sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Curah hujan kategori rendah juga mendominasi 90,79 persen wilayah, sementara 87,28 persen wilayah tercatat memiliki sifat hujan di bawah normal.

Situasi tersebut berlangsung bersamaan dengan El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) dalam fase positif. Kedua fenomena tersebut dapat mengurangi curah hujan dan meningkatkan potensi kekeringan.

Pemantauan citra Himawari-9 BMKG pada 19 Agustus juga masih menunjukkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Karena itu, pemerintah mempertahankan kesiapsiagaan melalui patroli, pemantauan hotspot, verifikasi lapangan, serta pemadaman darat dan udara.

Kementerian Kehutanan terus berkoordinasi dengan BMKG, BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mempercepat penanganan apabila kembali ditemukan indikasi Kebakaran di Kalimantan maupun wilayah lain.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan