Di Indonesia Jumlah Bisnis Berkonsep Franchise Masih Lebih Kecil Dibanding BO

0
808
Ilustrasi bisnis franchise. (printingnews)

Berempat.com – Bisnis berkonsep franchise di Indonesia boleh dibilang sangat menjamur. Pasalnya, bisnis berkonsep franchise cukup digandrungi karena tergolong mudah dijalankan. Mitra atau franchisee cukup berinvestasi untuk menduplikat seluruh bagian dari bisnis yang ingin dipunya. Namun, rupanya, di Indonesia sendiri jumlah bisnis berkonsep franchise masih jauh lebih kecil dibandingkan yang berkonsep Business Opportunity (BO).

“Di Indonesia terdapat 470 franchise internasional, 120-an (di antaranya) franchise lokal. Yang paling banyak itu business opportunity, sekitar 2.000 lebih,” ujar Presiden Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Kusnandar dalam Dialog Perniagaan Franchise Malaysia-Indonesia di Balai Kartini, Jakarta, Minggu (25/11).

Sebelumnya, Anang pun menuturkan bahwa masih banyak pengusaha di Indonesia yang belum bisa membedakan antara bisnis berkonsep franchise dan BO. Sebab itu, tak sedikit pengusaha yang sudah menyebut bisnisnya franchise namun sebetulnya masih BO.

Namun, kendati demikian bisnis franchise asal Indonesia sudah ada yang berhasil mendunia. Kendati tak terlalu banyak, tapi setidaknya untuk yang bisa sampai di Malaysia saja terdapat beberapa merek, seperti Kebab Turki Baba Rafi, Ayam Bakar Mas Mono, Taman Sari Royal Heritage Spa, dan Bumbu Desa.

Sementara itu, merek franchise asal Malaysia yang sudah beroperasi di Indonesia pun cukup banyak. Beberapa di antaranya yang cukup populer yakni Bangikopitiam, Daily Fresh, Old Town White Coffee, Global Art, dan Roti Boy.

“Saya ingat beberapa bulan kemarin saya terperangkap di airport Bali gara-gara gunung merapi meletus, perut lapar, ada Roti Boy di situ. Saya makan Roti Boy,” kisah Menteri Perdagangan Dalam Negeri Malaysia Saifuddin Nasution Ismail pada kesempatan yang sama.

Pangsa pasar di Indonesia untuk bisnis franchise boleh dikatakan masih sangat besar. Apalagi bila melihat besarnya jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 200 juta lebih. Itulah mengapa, dialog perdagangan franchise antara Malaysia dan Indonesia dianggap penting untuk dilakukan.

Di samping itu, Anang sempat menuturkan bahwa ke depan perkembangan bisnis di Indonesia akan mengalami perubahan. Salah satunya yang diprediksi akan terjadi yaitu beralihnya masyarakat ke healty fast food.

“Prediksi saya akan terjadi healty fast food dan sekarang yang sedang terjadi ekonomi digital,” tukas Anang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.