Hanif Dhakiri Blak-blakan Tentang Iklim Ketenagakerjaan di Indonesia

0
392
Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri saat berbicara di US-Indonesia Investment Summit 2018 yang digelar AmCham Indonesia dan US Chamber of Commerce Washington di Jakarta, Kamis (27/9). (Dok. Kemenaker)

Berempat.com – Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menjabarkan seperti apa iklim ketenagakerjaan di Indonesia saat menjadi pembicara di US-Indonesia Investment Summit 2018 yang digelar AmCham Indonesia dan US Chamber of Commerce Washington di Jakarta, Kamis (27/9). Hanif menyebut bahwa Indonesia memiliki iklim ketenagakerjaan yang stabil.

“Adanya kepastian pengupahan, jaminan sosial, hubungan industrial yang baik serta perubahan paradigma Mayday yang makin kondusif akan mampu menarik investasi masuk ke Indonesia,” papar Hanif.

Hanif memperkuat argumentasinya dengan menyebut bahwa jumlah buruh yang ikut berdemo pada Mayday 2018 jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada Mayday tahun 2015 Hanif menyebut terdapat 204.920 buruh yang menggelar aksi demo, sedangkan pada 2018 hanya 100.066 buruh yang menggelar aksi demo.

“Kami pun telah mendorong agar Mayday tidak lagi identik dengan demo buruh. Mayday is a funday,” imbuhnya.

Hal tersebut juga sejalan dengan menurunnya angka perselisihan industrial di Indonesia saat ini. Pada tahun 2014, Hanif menyebut terdapat 2.683 kasus perselisihan industrial, lalu turun menjadi 1.316 kasus pada Januari-Agustus 2018.

Hal positif lain yang diklaim Hanif ialah naiknya jumlah pekerja yang menjadi peserta jaminan sosial tenaga kerja. Sampai dengan Agustus 2018, Hanif menyebut peserta jaminan sosial tenaga kerja mencapai 28.127.702 orang.

Kemudian soal penempatan tenaga kerja. Hanif menyebut sepanjang 2015 hingga Agustus 2018 pemerintah telah menempatkan 9.483.672 orang. Sementara pemerintah menargetkan dapat menciptakan 10 juta lapangan kerja pada tahun depan. “Saya optimis target 10 juta lapangan kerja pada tahun 2019 dapat tercapai, “ tambahnya.

Hanif optimis sebab pada 2019, Presiden Joko Widodo telah menetapkan fokus di sektor pembangunan sumber daya manusia (SDM). Di pihak Kementerian Ketenagakerjaan pun mendukung fokus tersebut dengan menargetkan pelatihan vokasi secara nasional sebanyak 1,4 juta orang.

“Bahkan, Presiden juga mengarahkan untuk membangun 1.000 BLK Komunitas di tahun 2019, “ ujar Hanif.

Hingga saat ini, Hanif pun mengklaim bahwa pihaknya sedang dan terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan vokasi melalui strategi triple skilling, yaitu skilling, upskilling dan reskilling. Bagi tenaga kerja yang belum punya keterampilan dapat mengikuti  program skilling agar punya keahlian di bidang tertentu.

“Bagi tenaga kerja yang telah memiliki skill dan membutuhkan peningkatan akan masuk program upskilling. Sedangkan yang ingin beralih skill dapat masuk ke program reskilling, “ tutur Hanif.

Atas semua penjabarannya tersebut, Hanif pun dengan pasti menyebut bahwa Indonesia sangat menguntungkan sebagai tempat untuk berinvestasi. “Saya pastikan berinvestasi di Indonesia akan membawa keuntungan bagi kita semua pada masa-masa yang akan datang,“ terang Hanif yang berbicara di hadapan Executive Director Southeast Asia U.S. Chamber of Commerce, John Goyer dan  Managing Director American Chamber of Commerce Indonesia, Lin Neumann.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.