Oversupply’ dan Kompetisi Harga PT Semen Indonesia

(Dok: lokatara.com)

‘Batam – PT Semen Indonesia Group (Persero) Tbk mengalami oversupply atau kelebihan pasokan kapasitas produksi semen dan juga perbedaan harga semen lokal yang lebih mahal dari semen produksi asing.

Anggota Komisi VI DPR RI Harris Turino menyoroti persoalan tersebut usai mengikuti pertemuan Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi VI DPR RI dengan jajaran Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kementerian BUMN, Direktur Utama PT Semen Indonesia Group (Persero) Tbk, Direktur Utama PT Timah Tbk dan Direktur Utama Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dalam rangka mendapatkan masukan terkait dengan kinerja operasional dan keuangan dalam kondisi pandemi Covid 19, di Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (20/12/2021).

“Hari ini kita bicara dengan 3 BUMN dan 2 kementerian, pertama yang menarik adalah dengan Semen Indonesia (PT Semen Indonesia Group) sebagai holding, yang kita tahu (produksi) semen ini sampai sekarang kan over supply dan kita belum tahu sampai kapan over supply ini akan berakhir. Jika supply-nya (sudah) menjadi normal tetapi faktanya adalah harga semen itu tidak turun padahal produknya adalah produk komoditas,” ungkap Harris.

Politisi PDI-Perjuangan tersebut juga meminta penjelasan bagaimana antisipasi yang akan dilakukan PT Semen Indonesia Group dalam melihat kondisi saat ini ketika ada perusahaan semen luar negeri masuk dan harga produksi semen mereka lebih murah daripada harga semen dalam negeri. Ia juga mempertanyakan dengan adanya aksi korporasi akuisisi PT Holcim Indonesia pada tahun 2019 apakah menciptakan suatu nilai bagi perusahaan/creating value. Creating value sendiri adalah proses penciptaan nilai yang dilakukan perusahaan secara efisien untuk menghasilkan keuntungan.

Senada, Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina juga menyoroti industri semen tanah air yang mengalami over supply. Ia menyarankan untuk mengatasi oversupply semen di tanah air ini adalah dengan menggenjot ekspor. “PT Semen lagi-lagi memang harus bersaing harganya dengan semen pemain-pemain (perusahaan) asing. Kita harus tahu komparasi harganya berapa. Ketika harganya tidak bisa bersaing, kita harus efisiensikan karena kenapa mereka (perusahaan semen asing) bisa murah, kita mahal. Bicara over supply, ini juga harus diperhatikan mau kemana (distribusi) semen-semen ini, tentu (dengan) kerja sama ekspor dan sebagainya,” tandas Nevi.