DBON untuk Tingkatkan Prestasi Olahraga di Indonesia

0
12

Jakarta – Olimpiade Tokyo 2020 dan Paralimpiade Tokyo baru saja usai. Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Chandra Bhakti mengungkapkan sejumlah persoalan olahraga di Indonesia yang dianggap menjadi penghambat prestasi atlet di tingkat dunia yakni olimpiade.

Menurut, Chandra Bhakti selama keterlibatan Indonesia dalam ajang olimpiade, hanya cabang-cabang olahraga tertentu saja yang berkontribusi dalam menyumbangkan medali, seperti Bulutangkis, Angkat Besi, dan Panahan.

“Nah ini semua yang menjadi pemikiran kita dan atas dasar itulah bapak Menteri Pemuda Olahraga sesuai arahan Presiden kita melakukan diskusi sesungguhnya apa sih yang menjadi masalah dari situ (masalah olahraga). Kita mencoba memetakan beberapa permasalahan terkait dengan olahraga prestasi begitu juga dengan olahraga rekreasi maupun olahraga pendidikan,” katanya dalam Sosialisasi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) Kemenpora bersama PWI Pusat, Rabu (1/9).

Menurut Chandra, setidaknya ada 13 permasalahan olahraga yang dihadapi dalam olahraga prestasi. Sehingga, diharapkan dengan adanya Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang telah disusun bersama stakeholder baik itu perguruan tinggi, pakar olahraga dan Komite Olimpiade Indonesia, KONI dan cabang-cabang olahraga dapat menjadi solusi dalam meningkatkan prestasi.

Adapun diantara permasalah yang menghambat prestasi olahraga yang terakomodir dalam DBON antara lain, pertama, partisipasi dan kebugaran jasmani masyarakat berolahraga rendah.

“Padahal, partispasi yang tinggi ini bahkan akan berdampak pada tingkat kebugaran yang baik juga,” ujar Chandra.

Kedua, prasarana dan sarana olahraga masih terbatas, dan belum memenuhi standar. “Memang fakta, beberapa infrstruktur olahraga kita memang masih kurang bila dibandingkan dengan Negara-negara maju. Dan, ini juga belum berstandar dengan baik, contoh banyak lapangan sepak bola yang digemari masyarakat masih jauh dari standar,” pungkasnya.

Ketiga, Sistem pembinaan olahraga prestasi belum dikembangkan dan dilakukan secara sitstematis, terencana, berjenjang dan berkelanjutan.

“Pembinaan olaharaga harus dilakukan sejak usia dini, berjenjang dan secara berkelanjutan. Sehingga kita bisa mendpatakan bibit atlet yang baik dan tentu tIdak terjadi gap antara atlet yang berprestasi dengan generasi selanjutnya,” jelasnya.

Keempat, manajemen kompetisi belum berjenjang, rutin, berkelanjutan dan tidak sesuai dengan kelompok usia serta karateristik cabang olahraga.

Menurut dia, salah kelemahan pembinaan atlet di Indonesia adalah sistem kompetisinya yang blum teratur.
“Padahal atlet tidak hanya kita latih, tetapi juga butuh kompetisi yang secara teratur dan juga preferensi bagus. Sehingga kita dapat menjadikan parameter sesungguhnya atlet kita ini hasil dari latihan,” katanya.

Kelima, tenaga keolahragaan belum memenuhi secara kuntitas dan kulitas, dan masih sedikit yang federasi internasional.
Keenama, Sport science belum dijadikan sebagai faktor utama untuk mendukung prestasi olahraga.

“Padahal di dalam kondisi olahraga yang dinamis tentu olahraga prestasi kita sangat butuh sport science baik dari sisi kelimuan maupun dari sisi aplikasi teknologi yang terbarukan. Sehingga kita dapat mengukur perkembangan dalam hal pembinaan atlet berprestasi,” ujarnya.

Ketujuh, dukungan anggaran masih sangat terbatas. Dikatakan, Chandra anggaran pembinaan olahraga yang dibiayai dari APBN sangat jauh bila dibandingkan dengan Negara-negara yang prestasi olahragannya sudah maju.
“Nah inilah yang menjadi permasalahan agar kedepan kita sama-sama berharap ada afirmasi terhadap anggaran di bidang olahraga ini,” katanya.

Kedelapan, manajemen organisasi keolahragaan belum dijalankan secara profesional

Kesembilan, profesi sebagai olahragawan belum menjadi pilihan dan tidak ada jaminan masa depan purna prestasi.

“Masalah ini menjadi sangat penting sehingga masih banyak pandangan yang mengatakan bahwa menjadi atlet masa depannya tidak terjamin. Bahkan orangtua masih banyak yang tidak mengizinkan anak-anaknya menjadi atlet,” paparnya.

Kesepuluh, kurikulum khusus atlet belum ada. Oleh karena itu, dalam DBON ini, kedepan pihaknya akan bekerjasama dengan Kemdikbud Ristek untuk menyusun kurikulum khusus atlet.

Kesebelas, database sistem informasi dan analisis data olahraga belum dilakukan. “Database menjadi sangat penting. Sehingga kita dapat mengetahui bibit-bibit atlet itu tidak secara manual,” tukasnya.

Keduabelas, belum optimalnya peran Kementerian lembaga BUMN dan Pemerintah Daerah dalam mendukung atlet berprestasi serta masih kurangnya sinergitas dengan organisasi keolahragaan.

Ketigabelas, dunia usaha belum dioptimalkan untuk mendukung kegiatan olahraga nasional.