Kemhan Diminta Evaluasi Penggunaan Alutsista Tua

0
9
(Dok: Antara/Syaiful Arif)

Jakarta – Kementerian Pertahanan (Kemhan) diminta untuk mengevaluasi seluruh alat utama sistem senjata (alutsista) tua yang masih digunakan, setelah kejadian KRI Nanggala-402 yang dibuat tahun 1977 hilang kontak di perairan Bali bagian utara, Rabu (21/4/2021).

Anggota Komisi I DPR RI Farah Puteri Nahlia menilai untuk menghindari musibah serupa, TNI perlu menghentikan sementara pengoperasian kapal selam sejenis yakni KRI Cakra 401, hingga ada kepastian dan kesiapan yang sempurna dari kapal selam tersebut.

“Jangan sampai karena keterbatasan alutsista, penggunaan alutsista yang diduga telah obsolete menghambat tugas-tugas prajurit TNI dan bahkan membahayakan nyawa prajurit,” kata Farah Puteri dalam keterangan pers yang diterima Parlementaria, Kamis (22/4/2021).

Politisi PAN itu menilai kapal buatan tahun 1977 itu memang sudah seharusnya diganti dengan yang lebih baru. Karena itu Farah meminta pemerintah memprioritaskan agenda modernisasi alutsista dan mengevaluasi seluruh kegiatan dan penganggaran yang tidak berkaitan dengan tugas utama TNI sebagai alat pertahanan.

“Penguatan modernisasi Alutsista TNI merupakan kebutuhan yang mendesak mengingat kondisi alutsista yang masih terbatas. Terpenting yang harus digarisbawahi dan kita semua harus ingat, alutsista renta harus diremajakan, jangan sampai mengorbankan para prajurit,” ingat Farah.

Selain itu, ia menyampaikan keprihatinan yang mendalam dan memanjatkan doa agar seluruh prajurit TNI yang bertugas di dalam KRI Nanggala 402 segera ditemukan dalam keadaan sehat tanpa kurang satupun.