Pemerintah Upayakan Kasus Stunting Turun Menjadi 14 Persen

0
24

Serang (22/3) — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa masalah ketersediaan air bersih sangat erat kaitannya dengan isu pembangunan manusia, khususnya masalah stunting pada anak.

“Keberadaan air bersih ini sangat terkait erat dengan masalah-masalah pembangunan manusia khususnya di bidang kesehatan dan terutama berkaitan dengan upaya kita perang melawan stunting,” ujar Menko PMK saat menyampaikan sambutan pada peringatan Hari Air Sedunia ke-29 di Bendungan Sindangheula, Kabupaten Serang, Banten, pada Senin (22/3).

Saat ini, angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting di Indonesia masih sebesar 27,67%. Presiden RI Joko Widodo pun telah mencanangkan target penurunan stunting menjadi 14% di tahun 2024.

Muhadjir yang juga merupakan Ketua Pengarah Gugus Tugas Percepatan Penyediaan Air Minum mengatakan, ketersediaan air bersih dan sanitasi layak berkontribusi besar dalam penanganan stunting. Dia mengungkapkan, intervensi penyediaan air minum, sanitasi yang layak serta perubahan perilaku berkontribusi 70% dalam pencegahan stunting.

“Jadi bukan hanya soal gizi bayi, bukan hanya pemberian asupan gizi yang memenuhi standard untuk ibu hamil ibu menyusui. Tetapi penyediaan air minum dan sanitasi layak mempunyai share yang besar” ungkapnya.

Akses terhadap air bersih dan pelayanan sanitasi dasar merupakan salah satu program prioritas nasional. Hal itu terbukti dengan adanya Perpres Nomor 185 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi.

Diketahui, tahun 2020, sebanyak 90.21% Rumah tangga memiliki akses air minum layak, dan 20,69% rumah tangga memiliki air minum perpipaan. Sedangkan pada tahun 2024, Indonesia harus mencapai 100% akses air minum layak, 15% akses air minum aman, 30% akses air minum perpipaan, dan 10 juta sambungan rumah.

Karena itu, Menko Muhadjir menerangkan, pemerintah terus berupaya melakukan percepatan penyediaan air minum dan sanitasi yang aman. Dia mengatakan, berdasarkan Perpres Nomor 185 Tahun 2014 tentang Percepatan dan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi, terdapat empat kebijakan dan strategi yang ditekankan pemerintah.

“Pertama, peningkatan tata kelola kelembagaan untuk penyediaan air minum layak dan aman, Kedua, peningkatan kapasitas penyelenggara air minum, Ketiga, pengembangan dan pengelolaan Sistim Penyediaan Air Minum (SPAM), Keempat, perubahan perilaku masyarakat serta upaya konservasi sumberdaya air,” tuturnya.

Muhadjir menekankan, untuk merawat ketersediaan air bersih, maka perlu dibentuk perilaku masyarakat yang menghargai dan memanfaatkan air dengan bijak.

“Ini kerja keras kita bagaimana mengetuk ruang kesadaran masyarakat kita. Sehari-hari kita masih berperilaku boros terhadap air tidak pernah berpikir bahwa setiap tetes air itu mengandung makna untuk kehidupan,” ujarnya.

“Melalui momentum Hari Air Sedunia ke-29 ini saya mengajak semua pihak untuk mewujudkan pembangunan air minum yang aman bagi semua masyarakat di tahun 2030 melalui kerja sama semua pihak baik pusat dan daerah.

Sementara itu Kepala BKKBN Dr. (H.C.), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjawab pertanyaan, apakah air makam bisa dikonsumsi. Sebenarnya air yang rembes dari jamban atau wc lebih berbahaya dari air rembesan makam, karena air rembesan dari jamban atau wc kemungkinan banyak mengandung bakteri E.coli, air rembesan dari makam bisa dikonsumsi namun perlu ditindaklanjuti pemeriksaannya”, terang dokter Hasto.

Selain itu, Dokter Hasto menambahkan “Diantara anak yang stunting ada yang difabel, memang anak difabel ada yang tidak mudah diatasi seperti kelainan saraf yang disebut cerebral palsy, hal harus dikonsultasikan ke dokter saraf atau dokter anak dan diberikan nutrisi yang cukup. Memang kita tidak bisa berharap perkembangannya tidak seperti anak-anak normal pada umumnya harus dilakukan pendampingan dan nutrisi yg cukup dan pendidikan yang baik. Untuk anak stunting diatas 2 tahun stunting tidak bisa diobati, sedangkan anak dibawah 2 tahun masih bisa diubah menjadi tidak stunting dan bisa dimulai dari 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)”, terang dokter Hasto.

“Cegah anak stunting itu ga perlu mahal-mahal banyak sekali sumber dari sumberdaya yg ada di desa tidak perlu yang mahal-mahal makanan yang mengandung protein minimal telur bisa mudah didapat dan dapat membantu mengatasi stunting”, imbuh dokter Hasto.

Hadir juga dalam kunjungan tersebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dwi Listyawardani dan sejumlah pejabat Pemkab Serang.