Kesuksesan SBY Sulit Diulangi AHY

0
43

Direktur Eksekutif Nurjaman Center Indonesia Demokrasi (NCID), Jajat Nurjaman mengatakan, hasil kajian dari sejumlah lembaga mengenai perolehan suara Partai Demokrat (PD) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Salah satu faktor yang dapat menaikkan suara partai politik (Parpol) adalah kehadiran tokoh politik potensial. Sementara, dalam beberapa waktu kebelakang, Partai Demokrat justru terlihat mulai ditinggalkan oleh kader terbaiknya. “Sebut saja mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang, Max Sopacua yang juga meninggalkan Demokrat. Terlepas dari dinamika politik internal yang ada dalam Partai Demokrat itu sendiri, keluarnya sejumlah tokoh politik potensial ini menandakan di bawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) telah gagal menyatukan Demokrat,” katanya, dalam keterangan tertulis, Rabu (20/01/2021).

Jajat menyampaikan, kehadiran Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, AHY sebagai tokoh politik muda seharusnya dapat membawa perubahan dalam kancah perpolitikan nasional. Akan tetapi, jika kehadiran AHY tidak didukung dengan kader potensial yang solid, maka Partai Demokrat akan kesulitan untuk mengulangi kesuksesan di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Melihat kondisi politik saat ini yang terus berubah, seharusnya Demokrat bisa terus memaksimalkan perannya sebagai partai oposisi. Namun, kurang maksimalnya peran dari Demokrat saat ini bisa jadi karena belum terbiasa menjadi oposisi, mengingat di periode sebelumnya lebih memilih menjadi partai abu-abu,” ujarnya.

Menurut pengamat politik Emrus Sihombing, perbedaan gaya kepemimpinan SBY dan AHY membuat kader militan democrat mundur. “Saya lihat gaya Pak SBY merangkul senior tak terlihat di AHY, padahal kader senior dan dukungan kader sangat dibutuhkan. Saran saya mengapa tongkat kepemimpinan Demokrat kembali dipegang Pak SBY sambil mempersiapkan kader PD yang benar-benar kuat. Pasalnya di Indonesia keberadaan tokoh sentral dalam parpol sangat dibutuhkan sebagai perekat dan penggerak mesin partai,” ujarnya.

Mumpung masih 4 tahun lagi menuju Pemilu 2024, ini adalah momentum tepat bagi Demokrat untuk turun ke rakyat, apalagi di masa pandemi dan bencana. Dengan PD hadir di tengah masyarakay dan memberikan solusi atas permasalahan rakyat saat ini, tentu akan memperkuat citra PD yang akan menjadi amunisi di 2024. “Misal menyediakan ambulan Covid-19, membangun rumah sakit darurat Covid-19 dan menyediakan dokter di setiap desa.  Pucuk pimpinan partai juga diharapkan mau turun  ke lapangan dan memberikan solusi, bantuan kebutuhan pokok bagi korban bencana, tenda darurat dan lainnya. Selain itu, kader partai bintang mercy di DPR dan DPRD seharusnya berani menjadi oposisi penyeimbang yang membela kepentingan rakyat kecil, misal saja mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang pro rakyat, salah satunya anti kejahatan komunikasi yang kian marak dan belum dilindungi UU,” saran Emrus.

Namun, Emrus melanjutkan, jika Demokrat benar-benar ingin memajukan AHY sebagai capres pada pemilu 2024 maka harus segera melakukan strategi pemasaran politik, membangun personal brandingnya AHY di mata masyarakat. Berikutnya membangun komunikasi politik melalui tawaran gagasan ide bagi masyrakat. “Keduanya harus jalan paling lambat paling lambat Juni in. 1  Juli mereka lempar ke public dan bekerja. Tahun 2022, 2023 menjadi waktu pembuktian democrat bekerja untuk rakyat, 2024 mencari pasangan calon yang tepat. Maka perlu direncanakan dengan matang hingga pertengahan tahun ini, jika ada gak perencanaan yang dibuat sitematis, terstukur, massif, sistematis, berkesinambungan, kreatif inovatif dan soulutif, itu sulit lah,” jelasnya.