Top Mortar tkdn
Home Entrepreneur Belajar dari Warren Buffett, Ini 7 Kebiasaan yang Perlu Dihindari Investor

Belajar dari Warren Buffett, Ini 7 Kebiasaan yang Perlu Dihindari Investor

0
1
Belajar dari Warren Buffett, Ini 7 Kebiasaan yang Perlu Dihindari Investor
Belajar dari Warren Buffett, Ini 7 Kebiasaan yang Perlu Dihindari Investor (Photo: ABC News)
Pojok bisnis

Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling berpengaruh di dunia karena pendekatannya yang menekankan bisnis berkualitas, disiplin, kesabaran, dan kemampuan memahami risiko. Bagi pembaca Berempat.com, prinsip Warren Buffett menarik dipelajari karena banyak kesalahan investor sebenarnya tidak selalu berasal dari kurangnya informasi, melainkan dari kebiasaan mengambil keputusan secara terburu-buru.

Selama puluhan tahun memimpin Berkshire Hathaway, Buffett berkali-kali membahas kesalahan dalam pengelolaan modal. Dalam surat kepada pemegang saham 2024, misalnya, Buffett secara terbuka mengakui bahwa dirinya pernah salah menilai prospek ekonomi suatu bisnis maupun kemampuan manajemennya. Ia bahkan menyebut bahwa kesalahan yang sudah diketahui justru perlu segera diperbaiki dan tidak dibiarkan berlarut-larut.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa investasi tidak selalu berkaitan dengan mencari keputusan yang sempurna. Investor perlu membangun kebiasaan yang membantu mengurangi kemungkinan melakukan kesalahan besar.

Kebiasaan yang Perlu Dihindari Investor

1. Membeli Bisnis yang Tidak Dipahami

PT Mitra Mortar Indonesia

Salah satu prinsip yang sangat sering dikaitkan dengan Warren Buffett adalah circle of competence atau lingkaran kompetensi. Dalam surat pemegang saham Berkshire Hathaway 1996, Buffett menjelaskan bahwa investor tidak perlu menjadi ahli dalam semua perusahaan. Hal yang lebih penting adalah mengetahui batas bidang yang benar-benar dipahami.

Artinya, popularitas sebuah saham tidak otomatis menjadi alasan untuk membelinya. Investor perlu memahami bagaimana perusahaan menghasilkan uang, sumber pendapatannya, posisi kompetitif, risiko bisnis, serta faktor yang dapat memengaruhi kinerjanya.

Pendekatan ini semakin relevan ketika pasar dipenuhi informasi mengenai teknologi, AI, energi, komoditas, hingga perusahaan dengan model bisnis baru. Ketika investor tidak memahami cara kerja bisnisnya, keputusan investasi lebih mudah berubah menjadi spekulasi.

2. Terlalu Sering Mengambil Keputusan

Pergerakan harga saham setiap hari dapat membuat investor merasa harus selalu melakukan sesuatu. Harga naik sedikit ingin membeli, turun sedikit ingin menjual, lalu muncul saham lain dan portofolio kembali diubah.

Warren Buffett justru dikenal dengan pendekatan yang relatif sabar. Dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway 2025, ia kembali membahas pentingnya kesabaran Berkshire dalam mengelola kas yang besar dan tidak memaksakan investasi ketika belum menemukan peluang yang sesuai.

Pelajaran yang dapat diambil adalah keputusan investasi tidak harus dilakukan hanya karena pasar sedang aktif. Ada kondisi ketika mempertahankan kas sambil menunggu peluang yang benar-benar dipahami menjadi bagian dari strategi.

3. Mengejar Tren Hanya karena Sedang Populer

Tren pasar dapat membuat aset tertentu mendapatkan perhatian luar biasa dalam waktu singkat. Masalah muncul ketika popularitas menggantikan analisis.

Buffett selama bertahun-tahun menekankan pentingnya menilai bisnis berdasarkan kemampuan ekonominya, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang digemari pasar. Dalam surat 1999, Berkshire menjelaskan bahwa perusahaan memilih tetap berada dalam lingkaran kompetensinya ketika menghadapi industri yang bergerak sangat cepat dan sulit diprediksi.

Investor dapat menggunakan tren sebagai bahan penelitian, tetapi tetap perlu kembali pada pertanyaan mendasar: bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan dan apakah harga yang dibayar masuk akal terhadap nilai bisnisnya?

4. Mengabaikan Kesalahan yang Sudah Terlihat

Kesalahan investasi adalah bagian dari proses. Yang menjadi persoalan adalah ketika investor mengetahui tesis investasinya sudah berubah, tetapi tetap mempertahankan posisi hanya karena tidak mau mengakui keputusan sebelumnya keliru.

Dalam surat pemegang saham 2024, Buffett menyebut Berkshire sendiri pernah melakukan kesalahan dalam alokasi modal dan menekankan bahwa kesalahan tidak seharusnya dibiarkan tanpa tindakan korektif. Ia juga mengutip nasihat Charlie Munger mengenai kebiasaan menunda menghadapi masalah.

Prinsip ini bisa diterapkan dengan membuat evaluasi berkala terhadap alasan awal membeli suatu aset. Jika kondisi fundamental berubah secara material, investor perlu menilai kembali tesis tersebut secara objektif.

5. Menggunakan Utang Secara Berlebihan

Leverage dapat memperbesar keuntungan, tetapi juga memperbesar kerugian ketika keputusan investasi bergerak berlawanan dari perkiraan. Karena itu, pengelolaan risiko menjadi bagian penting dari pendekatan Buffett.

Dalam materi Berkshire mengenai bisnis asuransi, Buffett juga menekankan pentingnya menerima risiko yang dapat dievaluasi dan membatasi eksposur agar satu peristiwa tidak mengancam solvabilitas.

Prinsip tersebut tidak berarti seluruh investor harus menghindari utang dalam segala situasi. Namun, penggunaan leverage perlu disesuaikan dengan kemampuan membayar, volatilitas aset, serta kemungkinan terjadinya skenario buruk.

Berkshire Hathaway Sendiri Menunjukkan Pentingnya Likuiditas

Salah satu data menarik dapat dilihat dari laporan keuangan Berkshire Hathaway. Pada akhir 2025, perusahaan mencatat US$47,72 miliar kas dan setara kas serta sekitar US$321,43 miliar investasi jangka pendek dalam US Treasury Bills. Nilai investasi ekuitasnya pada periode yang sama tercatat sekitar US$297,78 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa likuiditas memiliki tempat penting dalam pengelolaan modal Berkshire. Kas tidak selalu berarti perusahaan tidak memiliki strategi. Likuiditas juga dapat memberikan fleksibilitas ketika muncul peluang investasi atau ketika kondisi pasar berubah.

Pada saat yang sama, angka tersebut tidak dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai anjuran bagi investor ritel untuk meniru komposisi aset Berkshire. Ukuran perusahaan, bisnis asuransi, kebutuhan likuiditas, struktur modal, dan akses pendanaan Berkshire sangat berbeda dari investor individu.

6. Mengira Semua Investasi Harus Menghasilkan Keuntungan Cepat

Kebiasaan lain yang perlu diperhatikan adalah terlalu fokus pada hasil jangka pendek. Investasi pada bisnis membutuhkan waktu agar pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, dan nilai perusahaan dapat tercermin dalam kinerja jangka panjang.

Warren Buffett membangun reputasinya melalui pendekatan kepemilikan bisnis dalam jangka panjang. Berkshire sendiri mencatat dalam laporan 2025 bahwa sejumlah investasinya berada pada perusahaan yang dimiliki dalam jangka panjang, sementara keputusan pembelian dan penjualan tetap bergantung pada penilaian terhadap nilai ekonomi bisnis.

Karena itu, investor perlu membedakan antara investasi dan aktivitas perdagangan jangka pendek. Keduanya memiliki karakteristik, risiko, serta kebutuhan strategi yang berbeda.

7. Membiarkan Emosi Mengendalikan Keputusan

Harga saham dapat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan perubahan fundamental perusahaan. Ketika pasar turun, rasa takut dapat mendorong investor menjual tanpa melakukan evaluasi. Sebaliknya, kenaikan harga yang cepat dapat menciptakan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO).

Pendekatan Warren Buffett banyak menekankan kemampuan menjaga disiplin ketika sentimen pasar berubah. Dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway 2025, ia juga membahas pergerakan pasar yang sangat fluktuatif pada awal tahun dan pentingnya tidak bereaksi berlebihan terhadap perubahan tersebut.

Bagi investor, kebiasaan yang dapat dibangun adalah menentukan alasan membeli sebuah aset sebelum transaksi dilakukan. Dengan begitu, keputusan ketika pasar bergejolak dapat dibandingkan dengan tesis awal, bukan semata-mata berdasarkan emosi.

Intinya, prinsip Warren Buffett dapat dipahami sebagai latihan membangun disiplin investasi. Menghindari bisnis yang tidak dipahami, tidak terburu-buru mengikuti tren, mengevaluasi kesalahan, menjaga risiko utang, menyediakan likuiditas, dan mengendalikan emosi merupakan beberapa kebiasaan yang relevan untuk dipelajari.

Top Mortar Semen Instan