Di tengah narasi bahwa bisnis hanya untuk mereka yang bermodal besar dan berpendidikan tinggi, kisah Hartawan Sudiharjo menawarkan cerita yang sebaliknya. Berangkat dari latar belakang SMK Teknik, sempat “nyasar” kuliah di IKIP Jogja, lalu hijrah ke Jakarta dengan kondisi pas-pasan, Hartawan justru membuktikan bahwa modal utama wirausaha bukan uang, melainkan ilmu, kejujuran, dan keberanian mengambil risiko. Kini, dari modal awal Rp5 juta, ia berhasil membangun sejumlah perusahaan di bidang engineering dan mesin industri, seperti diceritakan dalam podcast bersama pengusaha Hermanto Tanoko di kanal YouTube-nya.
Hartawan Sudiharjo mengawali perjalanan profesionalnya pada awal 1990-an. Tahun 1991, ia meninggalkan bangku kuliah di Jogja karena sulitnya mencari pekerjaan sambil kuliah. Di kota pelajar itu, lowongan bagi mahasiswa nyaris hanya pekerjaan pengetikan. Merasa buntu, ia memutuskan merantau ke Jakarta, mengejar mimpi menjadi orang teknik yang sekaligus punya usaha sendiri.
Sembilan tahun pertama di ibu kota ia sebut sebagai “Belajar Seperti S1 Namun Dibayar”. Hartawan berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Mulai dari pabrik coating (cat), perusahaan wood working, properti, hingga furniture. Hampir semuanya ia masuki lewat jalur maintenance atau teknik. Di sinilah ia membangun pondasi keahlian teknik mesin dan rekayasa industri, bukan dari ruang kuliah, melainkan dari lantai pabrik dan buku-buku bekas yang ia buru di Pasar Senen.
Inisiatif Teknis yang Mengubah Nasib dan Cara Pandang Bisnis
Salah satu momen penting terjadi ketika ia diam-diam mencoba memperbaiki mesin filling asal Italia di sebuah pabrik coating yang sering rusak karena sensitif terhadap panas saat pengiriman. Tanpa internet, ia mengandalkan buku-buku teknis dari pasar loak. Upaya nekat itu berhasil, membuatnya justru “ketahuan” manajemen. Bukan dimarahi, ia malah diapresiasi dan diangkat menjadi asisten manajer termuda di perusahaan tersebut. Dari sini ia belajar bahwa inisiatif dan kemauan belajar bisa mengubah posisi seorang karyawan dengan sangat cepat.
Di perusahaan lain, Hartawan menunjukkan naluri bisnis yang tidak lazim bagi seorang teknisi. Ia mengusulkan agar divisi maintenance, yang selama ini hanya dianggap pusat biaya, diubah menjadi profit center. Caranya: mengembangkan produk mesin mixer, tangki, reaktor yang tidak hanya dipakai internal, tetapi juga dijual ke perusahaan lain, termasuk para kompetitor. Usulan berani ini disetujui pemilik perusahaan, dan sejak itu ia ikut menggarap proyek-proyek engineering yang menghasilkan keuntungan. Pengalaman inilah yang mengasah keyakinannya bahwa orang teknik pun bisa menjadi sumber profit, bukan sekadar tukang memperbaiki mesin.
Modal Rp5 Juta, Ruko Bekas Penjarahan, dan Sempat Menjadi Sopir Taksi
Pada tahun 2000, setelah merasa “kuliah” sembilan tahun di berbagai pabrik, Hartawan Sudiharjo mengambil keputusan yang mengubah hidupnya: resign. Ia memilih keluar tanpa memanfaatkan posisi aman atau menunggu pesangon. Justru seorang mandor yang pernah bekerjasama dengannya memberikan dukungan tak terduga: uang Rp5 juta atau setara sekitar empat bulan gajinya saat itu. Uang itulah yang menjadi modal awal.
Dana terbatas itu langsung habis untuk tiga hal: mendirikan badan usaha (akta PT), meng-upgrade komputer agar mampu menggambar desain 3D sesuatu yang kala itu masih jarang, serta menyewa sebuah ruko bekas penjarahan di Tangerang. Ruko tersebut jauh dari layak: tanpa listrik, tanpa air, tanpa pintu, bahkan tanpa kamar mandi. Namun dari “bangunan rongsokan” inilah cikal bakal perusahaan yang ia dirikan contohnya seperti Miraswift dan Robotindo lahir.
Tanpa kendaraan dan tanpa jaringan kuat, Hartawan mencari jalan pintas yang tak biasa: mendaftar sebagai sopir taksi Bluebird. Proses seleksinya, menurutnya, bahkan lebih ketat daripada melamar menjadi manajer. Ia harus menjalani pemeriksaan fisik hingga memastikan tak ada tato, disurvei alamat rumah untuk memastikan bukan fiktif, dan diuji kepribadian termasuk cara merespons situasi di jalan. Lolos dari seleksi itu, ia kemudian memanfaatkan taksi bukan terutama untuk mengejar setoran, melainkan sebagai “kantor berjalan”.
Pesanan pertama datang dari sebuah pabrik penggilingan kopi yang membutuhkan mesin penggiling kopi dan jahe. Hartawan jujur mengakui belum pernah membuat mesin jenis itu, tapi berani meminta waktu untuk belajar dan merancang solusi. Dengan memanfaatkan pengalaman di mesin-mesin penggiling lain, ia menggambar desain, menggandeng bengkel rekanan untuk proses fabrikasi, dan bertindak seolah-olah bengkel itu adalah miliknya sendiri di hadapan klien. Margin usaha engineering yang bisa mencapai sekitar 40 persen menjadi napas awal perusahaannya.
Dari Krisis, Iklan Nekat, hingga Membangun Banyak Perusahaan
Seiring waktu, pesanan bertambah, terutama setelah krisis moneter membuat banyak pabrik tak lagi mampu membeli mesin impor mahal. Momentum itu dimanfaatkan Hartawan dengan memasang iklan berbayar di harian Bisnis Indonesia. Nilainya sekitar Rp3 jutaan atau hampir menghabiskan kas yang tersisa. “Kalau iklan ini tidak menghasilkan proyek, saya tidak makan,” demikian kira-kira tekad yang ia pegang. Taruhan itu terbayar. Telepon dari calon klien mengalir deras hingga papan tulis di kantornya penuh dengan nomor. Saking banyaknya, ia hanya melayani prospek yang menelepon sampai tiga kali.
Dari ruko bekas penjarahan dengan tiga karyawan dan satu mesin las kecil, Hartawan perlahan membangun bengkel sendiri. Ia bahkan sempat membayar listrik dari oknum demi bisa menyalakan mesin. Setelah sekitar enam bulan menjadi sopir taksi, ia berhasil membeli mobil pickup dengan skema cicilan dan berhenti dari Bluebird, lalu fokus penuh mengembangkan usaha mesin rekayasa. Perusahaan-perusahaan baru kemudian lahir mengikuti kebutuhan dan peluang, hingga kini ia tercatat memiliki sejumlah entitas bisnis di bidang engineering dan industri.
Menariknya, tidak ada darah pengusaha dalam keluarganya. Ayahnya seorang marinir di Surabaya, dan dari sembilan bersaudara hanya Hartawan Sudiharjo yang terjun ke dunia bisnis. Namun ia mengaku terinspirasi oleh sang ayah yang di lingkungan militer dikenal aktif mencarikan peluang kerja bagi para prajurit menjelang pensiun. Nilai “mengkaryakan orang lain” itulah yang kemudian ia terjemahkan dalam bentuk pabrik dan perusahaan Dissindo Group yang mampu menyerap tenaga kerja hingga saat ini.
Dalam podcast dengan pengusaha Hermanto Tanoko di YouTubenya, Hartawan berkali-kali menegaskan bahwa bisnis tidak identik dengan modal uang. Baginya, modal utama adalah ilmu yang terus di-upgrade, keberanian bermimpi lebih besar dari posisi sebagai karyawan, kejujuran saat berhadapan dengan klien, serta disiplin yang ia pelajari bahkan dari profesi sopir taksi.





