Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta investor menyikapi Isu MSCI secara objektif dengan membedakan sentimen pasar dan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Imbauan ini disampaikan menyusul keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) memperpanjang tenggat perbaikan pasar modal Indonesia hingga Juni 2027.
Airlangga menilai perekonomian nasional masih memiliki fondasi yang kuat. Menurutnya, gejolak yang muncul setelah pengumuman MSCI lebih banyak dipengaruhi respons investor terhadap perkembangan reformasi pasar modal.
“Sebetulnya fundamental ekonomi kita kuat, tetapi yang dimainkan sekarang adalah faktor sentimen,” ujar Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan perhatian MSCI tertuju pada penerapan regulasi dan langkah konkret yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI). Proses pembenahan tersebut dinilai membutuhkan waktu relatif panjang dibandingkan dengan sejumlah negara lain.
Airlangga juga mengingatkan bahwa klasifikasi Standalone Market berada di antara Frontier Market dan Emerging Market. Karena itu, investor diminta memahami dasar penilaian MSCI serta mempertimbangkan evaluasi dari lembaga pemeringkat global lainnya sebelum mengambil keputusan.
Airlangga Pertanyakan Waktu Pengumuman MSCI
Di tengah Isu MSCI, Airlangga turut menyoroti waktu penyampaian pengumuman terbaru tersebut. Ia mempertanyakan mengapa persoalan itu tidak dibahas saat pertemuan antara pihak terkait dan pejabat pemerintah Indonesia di Bangkok, Thailand, yang berlangsung kurang dari sepekan sebelumnya.
Meski menyampaikan pertanyaan tersebut, Airlangga meminta pelaku pasar tidak langsung berprasangka buruk terhadap penyedia indeks global itu. Pemerintah, kata dia, akan mencermati perkembangan serta konsekuensi dari mundurnya tenggat perbaikan pasar modal.
“Ya tentu kita lihat saja, tapi kita tidak boleh suudzon,” katanya.
Pemerintah Pantau Dampak terhadap Pasar Modal
Perpanjangan tenggat dari November 2026 menjadi Juni 2027 membuat pelaksanaan reformasi pasar modal kembali menjadi perhatian. Pemerintah akan mengevaluasi potensi risiko yang muncul, terutama terhadap kepercayaan investor dan pergerakan pasar saham.
Airlangga berharap pelaku pasar dapat menilai Isu MSCI secara proporsional. Menurutnya, keputusan investasi perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi secara menyeluruh, bukan semata-mata mengikuti sentimen sesaat.
Pemerintah juga menaruh perhatian pada pelaksanaan pembenahan yang menjadi sorotan MSCI. Langkah konkret dan konsistensi reformasi diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
