Bitcoin Tertekan Harga Minyak menjadi sorotan pasar kripto pada awal pekan ini. Harga aset digital terbesar di dunia tersebut melemah setelah lonjakan harga minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar global.
Mengutip Investing, Selasa (13/10/2026), Bitcoin turun 1,3 persen ke level US$82.553,7 pada perdagangan Senin (12/10/2026). Pelemahan ini melanjutkan tren pergerakan yang cenderung lesu sejak awal Oktober, setelah Bitcoin terkoreksi sekitar 2 persen pada pekan sebelumnya.
Tekanan juga datang dari pasar investasi. Dana yang keluar dari produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat meningkat pada pekan pertama Oktober. Nilai arus keluar mencapai US$681 juta hingga pekan yang berakhir 9 Oktober, menjadi yang terbesar sejak akhir Juni.
Harga Minyak dan Geopolitik Bebani Pasar Kripto
Kenaikan harga minyak hingga melampaui US$106 per barel terjadi setelah serangan mematikan di Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, selama akhir pekan. Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru mengenai keamanan pasokan energi dari Timur Tengah.
Meski demikian, kenaikan harga minyak sempat tertahan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya “gencatan senjata energi” antara Rusia dan Ukraina. Pengumuman itu memunculkan harapan terhadap berkurangnya gangguan pasokan, meskipun kedua negara belum mengonfirmasi kesepakatan tersebut.
Situasi ini membuat Bitcoin Tertekan Harga Minyak di tengah ketidakpastian arah pasar. Investor masih mencermati perkembangan geopolitik dan arus dana investasi sebelum menentukan langkah berikutnya.
Strategy Tambah Kepemilikan Bitcoin
Di tengah pelemahan pasar, perusahaan Strategy justru menambah kepemilikan Bitcoin. Perusahaan tersebut membeli 250 Bitcoin senilai sekitar US$21,5 juta pada periode 5–11 Oktober, dengan harga rata-rata US$86.194 per koin.
Pembelian itu meningkatkan total kepemilikan Strategy menjadi 848.250 Bitcoin, dengan nilai sekitar US$70,6 miliar. Informasi tersebut disampaikan perusahaan melalui siaran pers pada Senin.
Meski Oktober kerap dijuluki “Uptober” karena reputasi historisnya sebagai bulan yang kuat bagi Bitcoin, tekanan geopolitik dan arus keluar ETF membuat prospek pasar tetap penuh tantangan. Pergerakan Bitcoin Tertekan Harga Minyak pun masih bergantung pada perkembangan pasokan energi dan sentimen investor.





