Isu Manipulasi Desil kembali menjadi sorotan seiring munculnya keluhan masyarakat mengenai perubahan posisi keluarga dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sejumlah warga merasa kondisi ekonominya masih berat, tetapi tercatat berada pada kelompok desil yang lebih tinggi sehingga dikhawatirkan memengaruhi akses terhadap program bantuan sosial pemerintah.
Perubahan tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa kenaikan posisi desil mencerminkan kondisi keluarga yang semakin sejahtera. Ada pula dugaan bahwa perubahan penempatan desil sengaja dilakukan untuk mengurangi jumlah penerima bantuan sekaligus menekan angka kemiskinan.
Badan Pusat Statistik (BPS) menilai anggapan tersebut muncul karena masyarakat masih mencampuradukkan konsep desil dengan pengukuran kemiskinan. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS RI Nashrul Wajdi menjelaskan bahwa desil digunakan untuk melihat posisi kesejahteraan relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya.
Menurut Nashrul, penduduk dibagi ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Karena sifatnya berupa pemeringkatan relatif, desil 1 hingga desil 10 akan selalu tersedia dalam setiap kondisi ekonomi masyarakat.
Tuduhan Manipulasi Desil Tak Menentukan Angka Kemiskinan
Nashrul menegaskan perubahan posisi desil tidak dapat digunakan untuk mengubah angka kemiskinan nasional. Sebab, desil dan kemiskinan merupakan dua indikator yang memiliki metode pengukuran berbeda.
“Apapun kondisi ekonomi kita, mau kita maju, mau kita maju banget, mau kita masih kondisi seperti sekarang ini, akan selalu ada desil 1,” kata Nashrul di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Ia mengakui posisi desil sebuah keluarga bisa saja tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi terkini. Hal tersebut dapat terjadi karena informasi yang menjadi dasar penilaian belum diperbarui.
BPS terus melakukan pemutakhiran DTSEN secara berkala. Hingga Juli 2026, BPS telah merilis tujuh versi DTSEN. Dari data awal yang tersedia, sekitar 30 persen telah diperbarui, sedangkan 70 persen lainnya masih berasal dari data sebelumnya.
Data DTSEN Terus Dimutakhirkan
Pemutakhiran dilakukan melalui berbagai mekanisme, termasuk pengecekan langsung di lapangan, pendataan pemerintah daerah, serta pemanfaatan data administrasi. Masyarakat juga diberikan kesempatan menyampaikan perubahan kondisi melalui kanal pembaruan data yang disediakan pemerintah.
BPS menegaskan Isu Manipulasi Desil tidak berkaitan langsung dengan perubahan tingkat kemiskinan. Untuk menentukan penduduk miskin, BPS menggunakan garis kemiskinan yang dihitung berdasarkan kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan.
Dengan metode tersebut, desil berfungsi sebagai gambaran posisi kesejahteraan relatif, sementara kemiskinan merupakan indikator statistik agregat. Karena itu, dugaan Manipulasi Desil untuk menurunkan angka kemiskinan dinilai tidak sesuai dengan mekanisme penghitungan yang digunakan BPS.





