Tekanan Geopolitik Belum Reda, Harga Minyak Dunia Ambruk Setelah Reli Dua Pekan

0
30
Tekanan Geopolitik Belum Reda, Harga Minyak Dunia Ambruk Setelah Reli Dua Pekan
Tekanan Geopolitik Belum Reda, Harga Minyak Dunia Ambruk Setelah Reli Dua Pekan (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Harga Minyak Dunia Ambruk pada awal perdagangan Senin (24/8/2026), setelah mencatat penguatan selama dua pekan sebelumnya. Pelemahan harga dipicu aksi ambil untung investor sekaligus meningkatnya perhatian pasar terhadap rencana Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru kepada Iran.

Mengutip Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,9 persen menjadi USD93,51 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,1 persen ke level USD86,08 per barel.

Penurunan tersebut terjadi setelah harga Brent sebelumnya menguat lebih dari 5 persen dalam dua pekan. Pergerakan minyak kini sangat dipengaruhi perkembangan ketegangan AS dan Iran, terutama potensi terganggunya distribusi energi dari kawasan Teluk Persia.

Pemerintah AS dijadwalkan mengumumkan paket sanksi baru terhadap Iran pada Senin. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kebijakan tersebut akan menjadi salah satu sanksi paling keras yang pernah diberlakukan terhadap Teheran.

PT Mitra Mortar indonesia

Ketegangan Hormuz Jadi Perhatian Pasar

Pernyataan Bessent memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan tekanan ekonomi yang semakin besar terhadap Iran. Situasi tersebut berlangsung ketika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami perlambatan dalam sepekan terakhir.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaee bahkan memperingatkan bahwa Iran dapat menghentikan ekspor minyak melalui Selat Hormuz maupun kawasan Teluk Persia apabila tekanan ekonomi terhadap negaranya terus berlanjut.

Ancaman tersebut menjadi perhatian serius karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik AS-Iran memanas, jalur tersebut diperkirakan menjadi lintasan sekitar 20 persen kebutuhan minyak global.

Dengan kondisi tersebut, pasar tetap bersiap menghadapi kemungkinan gangguan pasokan yang lebih besar. Jika ketegangan berkembang menjadi konflik berkepanjangan, arus perdagangan energi dari kawasan Timur Tengah berpotensi kembali menghadapi tekanan.

Risiko Meluas ke Jalur Perdagangan Energi

Selain Selat Hormuz, perhatian investor juga tertuju pada kemungkinan meluasnya dampak konflik ke jalur perdagangan lainnya, termasuk Laut Merah.

Kelompok Houthi Yaman yang mendapat dukungan Iran sebelumnya menyatakan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi. Perkembangan ini menambah kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran dan distribusi energi di kawasan.

Meski demikian, pelemahan harga pada awal perdagangan juga mencerminkan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Investor kini mencermati apakah tekanan geopolitik akan kembali mendorong harga naik atau justru mereda dalam beberapa hari mendatang.

Situasi tersebut membuat Harga Minyak Dunia Ambruk belum sepenuhnya menggambarkan arah pasar berikutnya. Perubahan kebijakan AS, respons Iran, serta kondisi lalu lintas di Selat Hormuz akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan harga minyak dunia.

Jika ketegangan meningkat, risiko pasokan dapat kembali mengangkat harga. Sebaliknya, meredanya konflik berpotensi membuat tekanan jual berlanjut.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan