
Pemerintah terus mendorong berbagai kebijakan untuk Perkuat Industri Nasional sekaligus menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah perubahan ekonomi global yang berlangsung cepat. Strategi tersebut ditempuh melalui peningkatan produktivitas, hilirisasi sumber daya alam, investasi, pengembangan manufaktur, hingga penguatan ekosistem industri berbasis teknologi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja positif sepanjang semester pertama 2026. Pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 5,5 persen dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali di level 2,88 persen.
“Pada semester pertama tahun ini, Indonesia tumbuh sebesar 5,5 persen, dan inflasi kita juga tetap rendah, yakni 2,88 persen,” ujar Airlangga saat memberikan keynote speech dalam SBM ITB x University of Glasgow Industrial Summit & International Conference on Management in Emerging Markets (ICMEM) 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).
Menurut Airlangga, ketahanan ekonomi tersebut turut ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi yang masih tumbuh. Realisasi investasi pada semester I 2026 meningkat sekitar 7,2 persen secara tahunan.
Pemerintah melihat kondisi tersebut sebagai modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional. Pengembangan sektor manufaktur dan rantai pasok menjadi salah satu fokus agar aktivitas ekonomi tidak hanya bergantung pada perdagangan komoditas mentah.
Hilirisasi Jadi Strategi Perkuat Industri Nasional
Kebijakan hilirisasi menjadi bagian penting dalam upaya Perkuat Industri Nasional. Pemerintah terus mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri agar menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Pengembangan industri hilir juga diarahkan untuk membentuk ekosistem baru, termasuk pada sektor baterai dan kendaraan listrik. Dengan semakin banyaknya proses produksi yang dilakukan di dalam negeri, peluang investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan teknologi diharapkan ikut meningkat.
Airlangga mengatakan industrialisasi juga perlu melibatkan pelaku usaha skala kecil. Saat ini terdapat sekitar 25 juta usaha mikro dan kecil yang telah terhubung dengan ekosistem digital.
Pemerintah turut mendorong pembiayaan produktif melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program tersebut telah menjangkau sekitar 4,6 juta debitur, dengan sekitar 60 persen penyalurannya diarahkan untuk kegiatan produktif.
Teknologi dan Ekonomi Digital Jadi Penopang
Selain memperkuat sektor manufaktur, pemerintah melihat transformasi digital sebagai bagian penting untuk Perkuat Industri Nasional. Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), big data, komputasi awan, dan Internet of Things (IoT) dinilai akan semakin menentukan produktivitas industri.
Karena itu, pembangunan pusat data dan infrastruktur digital terus disiapkan untuk menopang perkembangan ekonomi digital sekaligus kebutuhan industri modern.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah agenda strategis lain, mulai dari penguatan Indonesia Commodity Exchange, transformasi BUMN, pengembangan international financial center, hingga pengembangan energi surya dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt.
Airlangga menilai seluruh agenda tersebut membutuhkan kerja sama erat antara pemerintah, regulator, dunia usaha, dan akademisi. Sinergi lintas sektor diperlukan agar transformasi ekonomi dapat berjalan konsisten dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Menurutnya, perubahan ekonomi global harus dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing nasional, memperkuat stabilitas keuangan, mempercepat transformasi digital, sekaligus memperluas integrasi Indonesia dengan rantai nilai global.




