Harga Bitcoin Tertahan pada perdagangan akhir pekan setelah pelaku pasar kembali dihadapkan pada ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Meski sempat menunjukkan penguatan di awal pekan, aset kripto terbesar di dunia itu akhirnya bergerak dalam kisaran terbatas sehingga kenaikan mingguannya relatif tipis.
Mengacu pada data perdagangan terbaru, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD64.003 atau naik sekitar 0,1 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Secara mingguan, kenaikannya juga berada di level yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa Harga Bitcoin Tertahan di tengah tarik-menarik sentimen positif dan negatif yang memengaruhi keputusan investor.
Pada awal pekan, pasar sempat menyambut baik rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan. Inflasi konsumen maupun produsen yang lebih rendah dari perkiraan sempat memunculkan harapan bahwa tekanan terhadap kebijakan suku bunga akan berkurang dalam beberapa bulan mendatang. Optimisme tersebut mendorong Bitcoin menembus level USD65 ribu sebelum akhirnya kembali melemah.
Namun, sentimen positif itu tidak berlangsung lama. Sejumlah pejabat Federal Reserve kembali memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter ketat masih diperlukan untuk memastikan inflasi benar-benar kembali menuju target bank sentral.
Kebijakan The Fed dan Konflik Timur Tengah Tekan Pasar
Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menilai suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Pandangan serupa juga disampaikan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang mengingatkan bahwa inflasi masih menyimpan risiko bertahan pada level tinggi.
Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat untuk membawa inflasi menuju target dua persen. Meski tidak mengungkapkan langkah kebijakan secara rinci, pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi kemungkinan dipertahankan lebih lama.
Kondisi tersebut membuat Harga Bitcoin Tertahan karena aset kripto umumnya menjadi kurang menarik ketika suku bunga meningkat. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih stabil dibandingkan aset berisiko tinggi seperti mata uang digital.
Selain faktor kebijakan moneter, perkembangan konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai serangan militer terbaru yang menyasar sejumlah infrastruktur di Iran.
Investor Cenderung Berhati-hati
Eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap potensi lonjakan inflasi global yang pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan bank sentral di berbagai negara.
Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil posisi di aset digital. Akibatnya, Harga Bitcoin Tertahan meski sebelumnya sempat memperoleh dorongan dari membaiknya data ekonomi Amerika Serikat.
Sejak meningkatnya konflik AS-Iran pada awal tahun, pergerakan Bitcoin memang cenderung melemah. Secara keseluruhan, nilai aset kripto tersebut masih mencatat penurunan sekitar 27 persen sepanjang 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor makroekonomi dan geopolitik masih menjadi penentu utama arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.





