Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$444,4 Miliar, Ini Penjelasan BI

0
39
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$444,4 Miliar, Ini Penjelasan BI
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$444,4 Miliar, Ini Penjelasan BI (Foto/PxHere)
Pojok Bisnis

Utang Luar Negeri Indonesia kembali mencatat kenaikan pada Mei 2026 seiring meningkatnya pembiayaan dari sektor publik. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030 triliun. Secara tahunan, nilainya tumbuh 2,1 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang berada di level 2,0 persen.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan utang pemerintah dan bank sentral. Di sisi lain, utang luar negeri swasta masih mengalami kontraksi meski penurunannya tidak sedalam bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan struktur pembiayaan eksternal Indonesia masih didominasi sektor publik yang diarahkan untuk mendukung berbagai program pembangunan.

Utang Pemerintah Masih Terkelola dengan Baik

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar pada Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 3,7 persen secara tahunan, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan pertumbuhan tersebut dipengaruhi masuknya aliran dana melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Langkah itu dinilai mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional, meski pemerintah tetap melakukan pembayaran pinjaman luar negeri yang telah jatuh tempo.

PT Mitra Mortar indonesia

Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok maupun bunga utang secara tepat waktu. Pengelolaan Utang Luar Negeri Indonesia juga dilakukan secara hati-hati, terukur, dan fleksibel agar tetap mampu mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dana dari pinjaman luar negeri dimanfaatkan untuk sejumlah sektor prioritas, seperti layanan kesehatan dan kegiatan sosial, administrasi pemerintahan, pendidikan, konstruksi, hingga transportasi dan pergudangan. Sebagian besar utang pemerintah juga masih didominasi pinjaman jangka panjang sehingga dinilai lebih aman terhadap risiko pembiayaan jangka pendek.

Kontraksi Utang Swasta Mulai Melandai

Sementara itu, posisi utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$195,9 miliar pada Mei 2026. Secara tahunan, angka tersebut masih mengalami kontraksi 0,1 persen, namun lebih baik dibandingkan penurunan 0,5 persen pada April lalu.

Perbaikan tersebut dipengaruhi menurunnya kontraksi pinjaman kelompok lembaga keuangan. Jika sebelumnya penurunan mencapai 5 persen, kini kontraksinya menjadi 0,8 persen secara tahunan.

Berdasarkan sektor usaha, pinjaman luar negeri swasta masih didominasi industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, penyediaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan. Keempat sektor tersebut menyumbang hampir 80 persen dari total pinjaman swasta.

Bank Indonesia menilai perkembangan Utang Luar Negeri Indonesia masih berada pada level yang sehat. Struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang, baik pada sektor pemerintah maupun swasta, dinilai mampu menjaga stabilitas eksternal sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan nasional di tengah dinamika ekonomi global. Dengan kondisi tersebut, Utang Luar Negeri Indonesia diyakini tetap berada dalam koridor yang terkendali dan berkelanjutan.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan