Geliat Burung Kicau di Indonesia kembali mendapat sorotan setelah pemerintah menilai sektor ini memiliki potensi ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Nilai ekonomi dari aktivitas terkait Burung Kicau bahkan diperkirakan mencapai kisaran Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap hobi tersebut.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, perkembangan komunitas dan ajang lomba Burung Kicau di berbagai daerah menjadi salah satu pendorong utama besarnya perputaran ekonomi di sektor ini. Dalam sebuah kegiatan festival yang menggabungkan lomba kicau dan kuliner UMKM di Jakarta, ia menilai tren ini akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, semakin banyak kompetisi Burung Kicau yang digelar, maka efek ekonominya juga semakin meluas. Aktivitas tersebut tidak hanya berpusat pada para penghobi, tetapi juga menciptakan rantai usaha yang melibatkan banyak pelaku industri pendukung. Bahkan, data menunjukkan bahwa ekspor burung hias dari Indonesia juga telah menyumbang nilai yang cukup signifikan dalam perdagangan internasional.
Lebih jauh, Budi menjelaskan bahwa ekosistem Burung Ocehan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang luas. Mulai dari peternak burung, pelaku usaha penangkaran atau breeding, hingga produsen pakan dan pembuat sangkar, semuanya merasakan dampak dari meningkatnya popularitas hobi ini. Tidak hanya itu, sektor lain seperti peternak jangkrik sebagai penyedia pakan alami juga ikut terdorong pertumbuhannya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Burung Kicau telah berkembang menjadi industri tersendiri yang melibatkan banyak lapisan ekonomi masyarakat. Para pedagang, penyedia perlengkapan lomba, hingga penyelenggara event turut mengambil bagian dalam perputaran ekonomi yang terus bergerak.
Penghobi Burung Kicau atau Kicau Mania turut Dorong Ekonomi Sekaligus Pelestarian
Di sisi lain, pemerintah juga menekankan bahwa perkembangan Burung Kicau harus tetap sejalan dengan prinsip pelestarian lingkungan. Budi memastikan bahwa burung yang digunakan dalam lomba merupakan hasil penangkaran, bukan tangkapan dari alam liar.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memastikan bahwa aktivitas ekonomi yang berkembang tidak merusak populasi satwa di habitat aslinya. Dengan sistem penangkaran, kebutuhan pasar dapat terpenuhi tanpa mengganggu keberlangsungan spesies di alam.
Pemerintah pun berkomitmen untuk terus mendorong penyelenggaraan lomba Burung Kicau yang lebih terorganisir dan berkualitas. Selain sebagai ajang hiburan, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha di dalam ekosistemnya.
Dengan potensi yang terus tumbuh, Burung Ocehan kini tidak lagi sekadar hobi, melainkan bagian dari industri kreatif berbasis komunitas yang memiliki kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.





