Pemerintah memastikan Rencana Menaikkan Harga BBM belum menjadi agenda dalam waktu dekat meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat ketegangan geopolitik global. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kebijakan resmi terkait Rencana Menaikkan Harga BBM bersubsidi di dalam negeri.
Menurut Purbaya, pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menahan dampak lonjakan harga energi global. Oleh karena itu, Rencana Menaikkan Harga BBM belum dianggap sebagai langkah yang perlu diambil saat ini.
“Kami belum memiliki kebijakan untuk mengubah skema subsidi BBM, termasuk menaikkan harga bahan bakar,” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/3).
Ia menjelaskan bahwa kondisi pasokan energi nasional masih relatif aman. Hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang sebelumnya memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri masih terjaga.
Harga Minyak Dunia Dipantau Ketat
Meski Rencana Menaikkan Harga BBM belum dibahas secara serius, pemerintah tetap memantau perkembangan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan. Purbaya menilai volatilitas harga energi global masih berada dalam batas yang bisa ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ia menuturkan bahwa rata-rata harga minyak saat ini masih berada di bawah asumsi batas maksimal yang diproyeksikan dalam APBN. Dengan kondisi tersebut, pemerintah masih memiliki kemampuan fiskal untuk menahan gejolak harga tanpa harus segera mengambil langkah penyesuaian harga BBM.
Namun demikian, pemerintah akan melakukan evaluasi secara berkala. Dalam waktu sekitar satu bulan ke depan, perkembangan harga minyak global akan kembali dianalisis untuk menentukan apakah kebijakan baru diperlukan atau tidak.
“Untuk saat ini belum ada kebutuhan mengambil keputusan terkait Rencana Menaikkan Harga BBM, karena kondisi fiskal masih cukup kuat,” kata Purbaya.
Ia juga meminta masyarakat tetap tenang menghadapi dinamika harga energi global. Menurutnya, Indonesia sudah beberapa kali menghadapi situasi lonjakan harga minyak dunia, namun tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan yang tepat.
Pasokan BBM Dipastikan Aman
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut memastikan bahwa pasokan bahan bakar minyak masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi, termasuk Pertalite. Ia memastikan bahwa meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam, kebijakan Rencana Menaikkan Harga BBM belum akan diberlakukan.
Di pasar global, harga minyak mentah memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan. Berdasarkan laporan internasional, harga minyak jenis Brent sempat menyentuh angka USD118 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada awal tahun 2026. Pada Januari lalu, harga minyak Brent tercatat sekitar USD64 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD57,87 per barel.
Kenaikan harga energi global ini sebagian dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara besar. Meski demikian, pemerintah Indonesia menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola tanpa harus mengambil keputusan terkait Rencana Menaikkan Harga BBM dalam waktu dekat.
