Ekonomi Global Berubah Arah, Rupiah Berpotensi Menguat di Perdagangan Hari Ini

0
98
Ekonomi Global Berubah Arah, Rupiah Berpotensi Menguat di Perdagangan Hari Ini
Ekonomi Global Berubah Arah, Rupiah Berpotensi Menguat di Perdagangan Hari Ini (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Pergerakan awal perdagangan Kamis di Jakarta menunjukkan kurs domestik sempat berada di zona merah. Meski begitu, sejumlah analis melihat peluang pemulihan karena Rupiah berpotensi menguat seiring pelemahan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang mulai memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global.

Pada pembukaan pasar, nilai tukar rupiah tercatat di level Rp16.811 per dolar AS, atau turun sekitar 25 poin dibanding posisi sebelumnya Rp16.786 per dolar AS. Pelemahan tipis tersebut dinilai lebih dipicu sentimen eksternal jangka pendek daripada perubahan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan pergerakan mata uang domestik masih memiliki ruang penguatan. Ia memperkirakan Rupiah berpotensi menguat secara terbatas di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan harian.

Menurutnya, tekanan terhadap dolar mulai mereda setelah beberapa data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan. Data penjualan ritel Desember 2025 tercatat stagnan 0,0 persen secara bulanan, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,4 persen.

PT Mitra Mortar indonesia

Data AS dan Sentimen Global Dorong Pergerakan Rupiah

Selain itu, laporan ketenagakerjaan AS juga memberikan sinyal campuran. Non-farm payrolls Januari 2026 bertambah sekitar 130 ribu tenaga kerja, melampaui proyeksi, namun revisi data sepanjang 2025 justru diturunkan cukup besar. Koreksi tersebut menimbulkan keraguan terhadap kekuatan ekonomi AS secara menyeluruh.

Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai menghitung peluang pelonggaran suku bunga oleh bank sentral AS. Jika kebijakan tersebut ditempuh, arus modal global berpotensi bergerak kembali ke negara berkembang. Dalam situasi seperti itu, Rupiah berpotensi menguat karena meningkatnya minat investor pada aset berdenominasi rupiah.

Pasar juga menunggu rilis data inflasi AS yang diperkirakan berada di kisaran 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan. Apabila angka aktual sesuai perkiraan, tekanan terhadap dolar kemungkinan tidak akan bertambah besar.

Dari sisi domestik, investor menyoroti kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan, meskipun tren kenaikan inflasi diperkirakan dapat menekan daya beli dalam beberapa waktu ke depan.

Meski demikian, indikator makroekonomi Indonesia relatif stabil. Surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan dan cadangan devisa yang solid menjadi penyangga utama. Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, analis menilai Rupiah berpotensi menguat walaupun pergerakannya masih terbatas dan sensitif terhadap perkembangan ekonomi dunia.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan